Perjalanan Mengenal Indonesia

Home


Perjalanan Mengenal Indonesia adalah sebuah kelas yang mengupas kisah penjelajahan-penjelajahan tentang arsitektur dan vernakularitas di Indonesia. Kelas ini merupakan hasil kerjasama dari Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia bersama OMAH Library, dan penjelajah-penjelajah yang mengarungi belantara arsitektur di Indonesia.


Rumah Radakng

Rumah Radakng,
Kalimantan Barat

Yoris Mangenda merupakan seorang mahasiswa yang tertarik pada rumah-rumah vernakular suku Dayak di Kalimantan Barat. Dalam sesi kali ini pembicara akan mengulas penelitiannya terhadap rumah Radakng yang memiliki tatanan ruang hingga tradisi ketukangan yang masih berlanjut hingga saat ini.

Rumah Radakng merupakan rumah tinggal bagi sebagian besar masyarakat suku Kanayatn di Kalimantan Barat. Rumah ini memiliki panjang 183 meter dengan 35 bilik dimana masing – masing bilik ditempati oleh 1 keluarga. Bentuk memanjang rumah ini terjadi secara bertahap dimana pada awalnya hanya ada 3 unit yang akhirnya berkembang seiring bertambahnya jumlah keluarga.


Ngata Toro

Lobo Ngata Toro,
Sulawesi Tengah

Muhammad Ansar dan Riswandi Nursam Haddade Pembicara merupakan seorang mahasiswa dari Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah yang memiliki ketertarikan terhadap arsitektur vernakular di Sulawesi. Muhammad Ansar aktif sebagai pegiat komunitas Tadulako tradisional yang aktif mendokumentasikan bangunan-bangunan vernakular di Tadulako dari tahun 2012 hingga sekarang. Sementara Riswandi Nursam Haddade juga merupakan pegiat Tadulako tradisional dari tahun 2012 hingga sekarang dan sekaligus menjadi tim arsitek dari ARKOM (Arsitek Komunitas).

Bangunan Lobo Ngata Toro adalah hasil daripada pemikiran-pemikiran orang tua untuk mendirikan tempat bermusyawarah. “Kalau tidak ada Lobo, bagaimana cara adat itu menemukan satu ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar hidup manusia, sebagai pembimbing, sebagai pembina dalam berkehidupan?”, Seperti itulah masyarakat adat ngata toro memaknai Lobo. Sehingga disimpulkan bahwa tujuan berdirinya Lobo ialah tempat berlangsungnya adat, tempat merumuskan adat, dan fungsinya saat ini merupakan bagian dari adat itu sendiri.

Gurusina

Gurusina,
Nusa Tenggara Timur

Bondan Petra Diponegoro merupakan alumni Universitas Pelita Harapan yang tertarik terhadap arsitektur vernakular di Indonesia. Saat ini Ia aktif sebagai pegiat dokumentasi arsitektur vernakular. Mutia Amelia Febriana merupakan alumni Universitas Islam Indonesia yang tertarik terhadap arsitektur vernakular di Indonesia. Ia aktif sebagai pegiat dokumentasi arsitektur vernakular. Salah satu dokumentasi mereka adalah tentang Gurusina yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku pada awal tahun 2020.

Di Gurusina, 26 Sa’o (Sebutan untuk rumah tradisionalnya) telah dibangun dalam waktu yang paralel antara satu dan lainnya dimana antar Sa’o hanya berjarak 1-3 meter saja. Masyarakat adat membangunan Sa’o dengan satu acuan baku, teknis, dan prinsip – prinsip yang selalu dijaga secara turun – temurun. Sedangkan prinsip utama yang selalu dijaga adalah untuk menjawab kebutuhan Sa’o sebagai pusat daur hidup manusianya, sebagai medium spiritual dengan pendahulunya, dan sebagai pelindung dari alam sekitarnya.


Tarung

Tarung,
Nusa Tenggara Timur

Fachri Muzaqii merupakan alumnus Universitas Islam Indonesia yang memiliki ketertarikan pada arsitektur vernakular di Indonesia. Hasil dokumentasinya bersama tim tentang proses revitalisasi Kampung Tarung telah dibukukan pada tahun 2019 dan artikel dengan topik yang serupa akan segera di terbitkan oleh Asia Cultural Institute, Korea Selatan. Saat ini sedang aktif berperan dalam kerja-kerja kolaborasi studi kajian Arsitektur dan saujanah desa-desa adat di Lombok Utara.

Bercerita tentang ingatan peristiwa terbakarnya kampung adat Tarung-Waitabar, Sumba, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2017 silam. Dibawah terik kering tanpa hujan, melalui padang-padang terbuka, menyusuri lembah-masuk ke dalam hutan, merupakan perjalanan yang ditempuh dalam memahami kembali akar nilai budayanya. Diatas puing-puing yang terbakar, kayu-kayu besar diletakkan, disusun dan diikat, begitu Uma di lahirkan. Kemudian, api mulai dinyalakan dan hentakan kaki ditiap tarian jadi denyut dan nafas arsitektur nusantara dalam Sumba yang terus berkembang.

Nggela

Nggela,
Nusa Tenggara Timur

Furqon Badriantoro merupakan alumnus Universitas Islam Indonesia yang memiliki ketertarikan pada arsitektur vernakular di Indonesia. Furqon Badriantoro juga aktif dalam kegiatan dokumentasi arsitektur salah satunya kegiatan dokumentasi eksisting dari kawasan masjid dan makam Sunan Bonang bersama Yayasan Mubarrot Sunan Bonang pada tahun 2017 sebagai tim pengukuran dan penggambaran. Pengembangan fasilitas umum pada kawasan cagar budaya makam Sunan Bonang bersama Yayasan Mubarrot Sunan Bonang pada tahun 2018 sebagai tim perencana. Pengembangan fasilitas umum pada kawasan cagar budaya makam Sunan Kudus bersama Yayasan Mubarror Sunan Bonang pada tahun 2019 sebagai tim perencana. Terakhir adalah revitalisasi desa adat pasca bencana sebagai tim rekam proses pada tahun 2019 bersama Kemendikbud, Ditjen Kebudayaan, dan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Nggela merupakan salah satu dari ratusan desa adat suku Lio yang tersebar diseluruh Kabupaten Ende dan sebagian kecil Kabupaten Sikka. Berada di antara rimbunnya dataran kaki gunung Kelibara hingga tebing curam dengan pantai berbatu menjadi ciri khas dari daerah pesisir selatan Flores, menjadikan desa adat Nggela memiliki kekayaan bentang alam yang beragam dengan sumber daya yang melimpah. Ditengah kekayaan itulah desa adat Nggela dibangun dan dihidupkan.

Rumah atau yang biasa orang Lio menyebutnya sa’o, menjadi elemen penting dalam keberlangsungan prosesi adat di Nggela. Sejak terbakarnya kampung adat ini pada 29 oktober 2018 silam, semua upacara adat sontak jua berhenti sebab sekira 22 sa’o penopang legitimasi adat habis dilalap api. Alam sebagai penyedia material utama serta manusia sebagai raga yang mewujudkan, melebur ke dalam ruang ruang yang disusun dan dibentuk melalui keilmuan sederhana namun memiliki kompleksitas yang patut untuk dicermati sehingga pada sesi kali ini akan dibahas tentang bagaimana desa Nggela perlahan kembali dibangun.

Nggela

Laika Mbuu & Laika Landa,
Sulawesi Tenggara

Putra Wijaya merupakan penggiat komunitas arsitektur dan budaya sekaligus alumni mahasiswa arsitektur Halu Oleo, Kendari Sulawesi Tenggara. Anak muda yang tertarik pada arsitektur nusantara dan memiliki minat untuk memperdalam tentang pengetahuan ketukangan serta material lokal.

Dalam sesi kali ini, Putra Wijaya akan bercerita tentang pengetahuan ketukangan lokal dan hierarki rumah pada Arsitektur Laika Mbu’u dan Arsitektur Laika Landa di Konawe Sulawesi Tenggara yang masih bertahan sampai sekarang.

Rumah ini berfungsi sebagai hunian/tempat tinggal dan tempat perlindungan. Berbeda dari proses berdirinya laika mbu’u yang melalui prosesi adat dan sangat dijunjung tinggi keberadaanya. Ada perbedaan konteks perihal proses pembangunan kedua rumah ini. Laika landa dahulu digunakan sebagai Rumah tinggal untuk rakyat biasa, kemudian berpindah fungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka atau hasil panen perkebunan Akibat kebutuhan dan perkembangan zaman, rumah ini mulai ditinggalkan karena tifologi bangunan di masyarakat Tolaki menjadi Semipermanen. Lambat laun hunian ini menetap dan menjadi rumah yang berada di kebun saja. Sehingga orang Tolaki sering menyebutnya rumah kebun. Namun ada juga masyarakat Tolaki demi menghargai keberadaan laika landa mereka Mengambil bentuk atapnya yang melengkung dan diterapkan dalam rumah mereka meski semi-permanen.

Laika mbu’u adalah rumah pokok atau induk bagi masyarakat suku Tolaki . Laika mbu’u dengan skala besar mampu menampung segala aktifitas ataupun ritual adat seperti mosehe yaitu ritual yang mampu menyelesaikan permasalahan sosial ataupun sengketa. Beberapa urusan tentang permasalahan social diselesaikan dengan musyawarah antara sesama baik yang bertikai ataupun masyarakat umum. Selain berfungsi sebagai ruang penyelesaian adat, laika mbu’u juga bisa menjadi hunian untuk tempat tinggal bagi ketua adat pu’u tobu beserta keluarganya. Namun sampai pada perkembangannya hanya difungsikan sebagai ruang pertemuan adat dan ketua adat pu’u tobu tidak menempati laika mbu’u seperti fungsinya dahulu sebagai hunian khusus.

Nggela

Eksperimentasi Arsitektur Maclaine Pont

Khattiya Pannindriya merupakan Mahasiswa Magister Sejarah Arsitektur Universitas Groningen. Berpraktik sebagai arsitek, ia mengawali karir dengan bekerja di biro konsultan Nataneka Arsitek. Ketertarikannya akan sejarah arsitektur membuatnya bergabung dengan tim Konsorsium Kota Tua Jakarta. Saat ini, ia sedang melanjutkan studi di University of Groningen, di bidang sejarah arsitektur dan tata kota. Di awal tahun 2020, ia bergabung dengan tim redaksi arsitekturindonesia.org

Cerita ini berfokus, pertama, pada intervensi pemerintah Belanda dalam penataan lingkungan perkotaan di Jawa yang dibangun sebagai model pos terdepan pada masa kolonial, dan kedua, pada percobaan Maclaine Pont (1884-1971) sebagai arsitek Belanda yang karyanya mewakili budaya arsitektur kolonial Indonesia pada awal abad kedua puluh. Selama 1910-1920, terjadi wabah yang menewaskan puluhan ribu orang di Jawa. Dengan ide-ide baru, khususnya dalam perbaikan permukiman lokal dan pemberantasan wabah, pemerintah kolonial bermaksud mereformasi kebijakan perumahan dan menuntut pelarangan bambu – bahan dasar perumahan lokal – karena diduga menjadi tempat bersarang tikus, si penyebar wabah. Sebagai tanggapan, Maclaine Pont menawarkan penelitiannya tentang metode baru konstruksi yang dibuat dengan sambungan tradisional. Tujuannya bahwa perlakuan yang tepat terhadap bambu dapat meningkatkan ketahanan material tersebut terhadap tikus.

Melalui perpektif administrator kolonial dan Maclaine Pont, cerita ini didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan berikut: permasalahan apa yang muncul dalam permukiman masyarakat di Jawa? Bagaimana permasalahan tersebut terkait dengan pelarangan bahan bangunan lokal? Apa standar perumahan baru yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial? Eksperimen apa yang diajukan oleh Pont? Cerita ini menyelidiki bagaimana keinginan Maclaine Pont untuk berkompromi antara persyaratan kesehatan untuk pengendalian wabah dan pelestarian bahan tradisional di era kolonial Indonesia; bagaimana wacana perbaikan kampung terbentuk. Dengan melakukan kajian mendalam terhadap isu-isu tersebut, harapan ke depan adalah awal mula arsitektur Indonesia dan dampaknya terhadap arsitektur masa kini akan lebih dipahami secara komprehensif. 

Nggela

Arsitektur Mamasa,
Sulawesi Barat

Arsitektur Hijau merupakan sebuah organisasi yang bergerak dalam pendokumentasian arsitektur vernakular Indonesia sejak tahun 1985. Setiap tahun Arsitektur Hijau mengadakan kegiatan ekspedisi ke kampung vernakular di Indonesia, sebuah program kerja yang berfokus pada pendokumentasian arsitektur, kebudayaan, dan cara hidup masyarakat vernakular. Pada tahun 2018 diadakan ekspedisi ke Desa Balla Tumuka, Mamasa, Sulawesi Barat, dan hasil pendataan dan pendokumentasian tersebut telah diolah menjadi sebuah buku berjudul Mamasa: Ekspedisi Lima Banua.

Dalam sesi Perjalanan Mengenal Indonesia kali ini Arsitektur Hijau akan membagikan pengalaman ekspedisinya pada arsitektur di Mamasa yang dilakukan pada tahun 2018 silam melalui penggalian arsitektural mulai dari konteks lingkungan, budaya, tradisi membangun hingga proses membangun.

Mamasa adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Barat. Kabupaten Mamasa terbagi atas beberapa desa, salah satunya adalah Desa Balla Tumuka yang menjadi salah satu objek pendataan Tim Ekspedisi Arsitektur Hijau. Secara adat istiadat, kebudayaan Mamasa mirip dengan kebudayaan Toraja. Terdapat berbagai mata pencaharian di Desa Balla Tumuka, yaitu bertani, berkebun kopi, berkebun jagung, pegawai pemerintahan dan lain-lain. Pendapatan paling besar biasanya didapatkan dari penjualan kopi, sedangkan beras hasil tani tidak dijual melainkan dikonsumsi pribadi.

Nggela

Arsitektur Keraton Yogyakarta

Yulianto Sumalyo, lahir di Magelang 1946. Setelah lulus SMA Negeri 1 Purwokerto pada tahun 1966, melanjutkan belajar di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, selesai tahun 1976. Dalam buku “Histoire de’ I’architecture de Java”, disunting oleh Jacques Dumarcai diterbitkan tahun 1995, oleh Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO), Yulianto Sumalyo menulis bagian perkembangan arsitektur di Jawa pada jaman Kolonial Belanda. Topik yang sama ditulisnya dalam buku : “Indonesian Heritage Series” Volume 5 mengenai Arsitektur, diterbitkan oleh Didier Milet, Singapura. Selain itu, Yulianto Sumalyo cukup banyak menulis artikel tentang arsitektur, sejarah arsitektur dan perkotaan yang dimuat pada jurnal dan majalah terkait.

Keraton Yogyakarta, menjadi semakin kompleks dan rumit, karena berbagai pengaruh bercampur menjadi satu : Hindu, Islam, Jawa, percampuran adat dan agama (sinkretis), juga klasik dan modern Eropa. Lebih rumit lagi adanya kemungkinan terlibatnya unsur spiritual dalam proses perancangan, yang tidak dapat dianalisis secara fisik-arsitektural baik dalam bentuk maupun fungsinya. Dalam aspek sejarah, juga tidak kurang kompleksnya karena selain berdasar tulisan dan naskah sejarah, juga ada yang bersifat legenda atau cerita.

Menguraikan arsitektur Keraton Yogyakarta, pembahasan dimulai dari mengkaji terlebih dahulu sejarah dan tata-ruang pusat-pusat pemerintahan tradisional di Jawa. Pengkajian dimulai dari yang ada peninggalannya yaitu Madjapahit, Tuban, Banten hingga pusat pemerintahan Mataram Islam sebelum Yogyakarta yaitu Surakarta. Bahan diskusi kali ini merupakan hasil dari penelitian yang akan disunting menjadi naskah, dan berusaha mendapatkan beberapa teori maupun penjelasan tentang percampuran budaya dari berbagai pengaruh dan berlangsung cukup lama, dalam bentuk fisik-arsitektural.

Nggela

Arsitektur Hindia Belanda

Yulianto Sumalyo, lahir di Magelang 1946. Setelah lulus SMA Negeri 1 Purwokerto pada tahun 1966, melanjutkan belajar di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, selesai tahun 1976. Dalam buku “Histoire de’ I’architecture de Java”, disunting oleh Jacques Dumarcai diterbitkan tahun 1995, oleh Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO), Yulianto Sumalyo menulis bagian perkembangan arsitektur di Jawa pada jaman Kolonial Belanda. Topik yang sama ditulisnya dalam buku : “Indonesian Heritage Series” Volume 5 mengenai Arsitektur, diterbitkan oleh Didier Milet, Singapura. Selain itu, Yulianto Sumalyo cukup banyak menulis artikel tentang arsitektur, sejarah arsitektur dan perkotaan yang dimuat pada jurnal dan majalah terkait.

Selama masa kependudukan Belanda di Indonesia sejak abad ke-17 hingga menjelang proklamasi kemerdekaan di tahun 1945, Belanda telah mendirikan berbagai fasilitas untuk menunjang keperluannya, mulai dari infrastruktur seperti pelabuhan, hingga yang berskala lebih kecil seperti kantor, villa, dan perumahan. Arsitektur dari masa itu menjadi unsur penting dalam pengkajian asal usul dan perkembangan budaya serta identias arsitektur Indonesia.

Buku ini mencoba membahas berbagai bangunan dari masa ketika Indonesia masih bernama “Hindia Belanda” dalam berbagai tipologi, dari berbagai era, dan mencakup berbagai gaya. Sebagian bangunan masih berdiri hingga saat ini terus mengalami evolusi. Sementara, bangunan-bangunan yang telah dirubuhkan disajikan setelah melalui penelusuran terhadap berbagai naskah dan arsip sejarah.

Nggela

Arsitektur Tanimbar,
Maluku Tenggara

Arsitektur Hijau merupakan sebuah organisasi yang bergerak dalam pendokumentasian arsitektur vernakular Indonesia sejak tahun 1985. Setiap tahun Arsitektur Hijau mengadakan kegiatan ekspedisi ke kampung vernakular di Indonesia, sebuah program kerja yang berfokus pada pendokumentasian arsitektur, kebudayaan, dan cara hidup masyarakat vernakular. Pada tahun 2017 diadakan ekspedisi ke Desa Tanimbar, Maluku Tenggara. Hasil pendataan dan pendokumentasian tersebut telah disusun menjadi sebuah buku berjudul Ohoi Tanebar Evav.

Tanimbar Kei adalah sebuah desa sekaligus pulau yang terletak tepat pada gugus selatan Kepulauan Kei Kecil. Diapit oleh Laut Banda pada bagian barat dan Kepulauan Tanimbar pada bagian selatan. Pulau ini menampung sekitar 548 masyarakat di dalamnya. Tanimbar Kei dibagi dalam tiga wilayah secara kependudukan besar, yaitu Kampung Atas, Kampung Bawah, dan Kampung Mun.

Salah satu keunikan dari rumah adat di Tanimbar Kei adalah perbedaan latar belakang setiap rumah dan bagaimana setiap Rahan berhubungan dengan Rahan yang lain. Setiap Rahan memiliki sejarah, leluhur, dan fungsi yang berbeda-beda akibat leluhur dari setiap Rahan adalah pendatang dari berbagai penjuru Indonesia. Di Tanimbar Kei terdapat 23 Rumah adat atau yang biasa disebut dengan rahan. Terdapat 21 rahan di Kampung Atas. Sedangakan di Kampung Bawah terdapat dua rahan.

Nggela

Rampa Kapis,
Kalimantan Selatan

Arsitektur Hijau merupakan sebuah organisasi yang bergerak dalam pendokumentasian arsitektur vernakular Indonesia sejak tahun 1985. Setiap tahun Arsitektur Hijau mengadakan kegiatan ekspedisi ke kampung vernakular di Indonesia, sebuah program kerja yang berfokus pada pendokumentasian arsitektur, kebudayaan, dan cara hidup masyarakat vernakular. Pada tahun 2017 diadakan ekspedisi ke Desa Rampa Kapis, Maluku Tenggara. Hasil pendataan dan pendokumentasian tersebut telah disusun menjadi sebuah buku berjudul Rampa Kapis.

Pandangan pertama tampak dari dek kapal yang mengantarkan ekspeditor menuju ke dermaga untuk berlabuh, sebuah kawasan berdiri diatas lautan dengan bentuk vernakular lengkap dengan gambaran kehidupan maritimnya. Hingga sampai di dermaga, jalan setapak sebagai struktur kawasan membentang panjang ke arah daratan dengan material kayu ulin, menuntun melewati rumah – rumah warga.

Berjalan menyusuri jalan setapak (Titian), akan menjumpai satu bangunan dengan fungsi peribadatan (Masjid). Memiliki bentuk yang monumental terhadap sekitarnya. Menjadi pusat orientasi terhadap lingkungannya dan dianggap sebagai titik awal dari kampung Rampa Kapis.


Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia
Muhammad Cahyo Novianto

Kontributor Penjelajah Arsitektur di Indonesia
Yoris Mangenda, Muhammad Ansar, Riswandi Nursam Haddade, Bondan Petra Diponegoro, Mutia Amelia Febriana, Fachri Muzaqii, Furqon Badriantoro, Putra Wijaya, Khattiya Paninndriya, Arsitektur Hijau, Komunitas Tadulako Tradisional, Yulianto Sumalyo

Advisor
Realrich Sjarief

Reseacher Librarian Team
Amelia M. Djaja, Dimas Dwi M.P, Kirana Ardya Garini, Hanifah Sausan, Satria A. Permana

Video Editor
Muhammad Farhan Nashrullah

Administration
Laurensia Yudith, Novita Gunawan, Yuliana Putri