03 Gurusina, Nusa Tenggara Timur

Di Gurusina, 26 Sa’o (Sebutan untuk rumah tradisionalnya) telah dibangun dalam waktu yang paralel antara satu dan lainnya dimana antar Sa’o hanya berjarak 1-3 meter saja. Masyarakat adat membangunan Sa’o dengan satu acuan baku, teknis, dan prinsip – prinsip yang selalu dijaga secara turun – temurun. Sedangkan prinsip utama yang selalu dijaga adalah untuk menjawab kebutuhan Sa’o sebagai pusat daur hidup manusianya, sebagai medium spiritual dengan pendahulunya, dan sebagai pelindung dari alam sekitarnya.


Kontributor

Bondan Petra Diponegoro

Bondan Petra Diponegoro merupakan alumni Universitas Pelita Harapan yang tertarik terhadap arsitektur vernakular di Indonesia. Saat ini Ia aktif sebagai pegiat dokumentasi arsitektur vernakular.

Mutia Amelia Febriana

Mutia Amelia Febriana merupakan alumni Universitas Islam Indonesia yang tertarik terhadap arsitektur vernakular di Indonesia. Ia aktif sebagai pegiat dokumentasi arsitektur vernakular. Salah satu dokumentasi mereka adalah tentang Gurusina yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku pada awal tahun 20


Beberapa kelas Perjalanan Mengenal Indonesia lainnya bisa diakses di bawah ini:

PMI #37 – Arsitektur Rentang Nusa

#kelasomah Halo teman-teman semua,Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #37. Episode ini akan terbagi dalam 2 bagian: Paparan pertama bersama Pak Bayu Arie Wibawa, dengan tema:Joglo Petani: Jangkeping Urip Berangkat dari fenomena di Desa Pondokrejo, Rembang, di mana rumah joglo tidak hanya bertahan, tetapi terus bertambah dari waktu…

21 Arsitektur Jazirah Leihitu

Berkat Naskah “Hikayat Tanah Hitu” karya Imam Rijali dan buku-buku karya Georg Eberhard Rumphius- lah kita hari ini bisa belajar dan meraba keadaan Pulau Ambon berabad-abad yang lampau khususnya jazirah utara Ambon yang menjadi fokus penulisan buku ini. Hal ini menunjukkan pentingnya sebuah karya tulis dari sebuah kerja penulisan. Apa…

20 Ekspedisi Ketapang: Arsitektur Kayu Tumbang Titi

Suku Dayak Pesaguan adalah salah satu sub-suku Dayak yang secara administratif tersebar di wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penamaan Suku Pesaguan berasal dari nama aliran sungai; Sungai Pesaguan, di mana kelompok masyarakat ini dulunya bermukim. Dalam suatu permukiman Suku Dayak Pesaguan, terdapat sebuah bangunan yang menjadi hirarki baik dari skala…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.