Omah Scholē

Omah Scholē

Halo! Apa kabar restless spirit! Di bawah ini adalah daftar kelas OMAH Library yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

Selain itu kami juga menampilkan Arsip Kelas Wacana Arsitektur yang bisa diakses secara gratis oleh mahasiswa, praktisi, akademisi di seluruh Indonesia. Semoga arsip ini bisa memperdalam diskursus arsitektur di Indonesia.

Back to Top

Arsip Kelas Wacana Arsitektur

Kelas Wacana Arsitektur

Selamat datang Restless Spirits !

Hallo rekan – rekan,

Semoga rekan – rekan dalam keadaan sehat dan baik. Kami menyapa rekan – rekan dengan keinginan untuk menyebarkan pengetahuan dan wacana arsitektur. Perpustakaan kami adalah perpustakaan kecil yang bernama Omah adalah perpustakaan dengan arti “rumah”.

Di Perpustakaan Omah, kami menemukan orang-orang yang tidak pernah bosan belajar melalui menulis, membaca, dan berdiskusi menjadi titik temu antara berbagai macam kalangan seperti mahasiswa, akademisi, dan praktisi.

Kami juga melakukan penulisan dan penyuntingan Buku secara kolaboratif yang diinisiasi dengan diskusi, pengajaran, dan pembelajaran dengan semangat berbagi ilmu. Hal ini membawa kami ke literasi arsitektur dimana Perpustakaan Omah juga bekerja sama dengan platform lain seperti JAAI (Indonesian Architecture Archive Network) untuk meningkatkan apresiasi arsitektur di Indonesia.





Perpustakaan Omah mencoba memulai diskusi di dalam berbagai macam ranah seperti filsafat, sejarah, teori, kritik, kurasi, dan metode melalui pengarsipan, penceritaan, dan penelusuran karya arsitektur.

Ada 4 acara besar yang sedang berlangsung di Omah Library, seperti acara yang membahas mengenai metode desain dalam bentuk Contextual Method, acara yang membahas mengenai perjalanan arsitek ataupun calon arisitek muda di Indonesia dalam bentuk Dara(h) Muda, Tua-Tua Keladi yang membahas berbagai platform literasi arsitektur, dan The Hermits of Architecture. Berikut ini kami lampirkan registrasi terhadap acara – acara tersebut.

  1. Contextual Method : bit.ly/OMAH_CM1
  2. Dara(h) Muda 3: bit.ly/OMAH_MUDA3
  3. Tua Tua Keladi (The Old Mind): bit.ly/OMAH_TTK1
  4. The Hermits of Architecture: bit.ly/OMAH_HERMITS


Up front, an educator must set a good example. In the middle or among students, the teacher must create initiatives and ideas. From behind, a teacher must provide encouragement and direction“,

Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.”
― Ki Hajar Dewantara


Back to Top

Arsip Kelas Wacana | Archieve


Arsip Kelas Wacana

Koleksi Omah + JAAI

Kami mengkurasi beberapa video yang bisa menjadi sarana pembelajaran arsitektur untuk bisa disebarkan dengan mudah. Kelas – kelas wacana ini kami bagi ke dalam beberapa kategori yang akan kami perbaharui kembali. Jadi jangan lupa untuk Rekan – rekan sering- sering mengunjungi website ini.

Sejauh ini ada 4 acara besar yang sudah kami sunting dan publikasikan di OMAH Library seperti:

  • Perjalanan Mengenal Indonesia: Perjalanan Mengenal Indonesia adalah sebuah kelas yang mengupas kisah penjelajahan-penjelajahan tentang arsitektur dan vernakularitas di Indonesia. Kelas ini merupakan hasil kerjasama dari OMAH Library, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia, dan penjelajah-penjelajah yang mengarungi belantara arsitektur di Indonesia.
  • 7 Do and Don’t: Kelas wacana ini membedah tujuh hal yang boleh dan tidak dilakukan oleh seorang arsitek, meliputi filosofi, sejarah, teori, kritik, kurasi, cara bercerita, dan menulis. Kelas ini merupakan kelas kontemplatif yang membuka wacana kreativitas berpikir secara interpretatif.
  • Kritisisme: Omah Library dengan bangga menyusun rangkaian kelas Kritisisme bersama dengan tiga narasumber yang memaparkan pengalaman mereka dalam mengasah pendekatan kritis terhadap arsitektur, dibagi menjadi tiga bagian: 1. Teori bersama Nanda Widyarta, 2. Sejarah bersama Robin Hartanto, 3. Kritik bersama Indah Widiastuti
  • Wacana Nusantara: Membahas “Nusantara” bersama 11 narasumber dengan 11 sudut pandang berbeda: reposisi, kritisisme, teori, sejarah, kurasi, cerita, tulisan, rekonstruksi – budaya, ruang publik, filosofi dan refleksi.


Kelas Wacana Arsitektur : Wacana Nusantara

Reposisi, Kritisisme, Teori, Sejarah, Kurasi, Cerita, Tulisan,
Rekonstruksi-Budaya, Ruang Publik, Filosofi, Refleksi

Membahas “Nusantara” bersama 11 narasumber dengan 11 sudut pandang berbeda: reposisi, kritisisme, teori, sejarah, kurasi, cerita, tulisan, rekonstruksi – budaya, ruang publik, filosofi dan refleksi.

Ada beberapa cara untuk membicarakan arsitektur, salah satunya adalah dengan berwacana melalui cara-cara yang kontemplatif; melihat ke dalam diri sendiri dengan melibatkan pengalaman nyata, dan melakukan proses redefinisi istilah yang menjadi sifat dasar sudut pandang keilmuan. Kuliah ini adalah cerita berbagi pengalaman pribadi setiap narasumber di dalam proses memahami tiap-tiap bagian wacana. Wacana di dalam arsitektur bisa diibaratkan sebagai sebuah sistem berpikir, ide-ide atau pemikiran yang membentuk kemampuan untuk menalar. Wacana menghadirkan percakapan subjek-subjek melalui medium referensi, esai, bahasa dan praktik yang berpotensi melahirkan perspektif baru. Wacana adalah kunci untuk membuka pintu kreativitas di dalam dunia arsitektur.

“Nusantara” tidak seharusnya menjadi hal yang kaku, terlebih beku. Justru sebaliknya, proses perdebatan panjang diperlukan dalam meramu benang merah tentang apa, untuk siapa, atau bagaimana seharusnya arsitektur dikibarkan di bumi Indonesia. Sebuah celah potensi demi terciptanya sebuah perubahan, atau inovasi bagi arsitektur Indonesia yang mengakar.Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

11 Wacana Nusantara yang dibahas:

Wacana Nusantara – 11 Refleksi

Nusantara bagaikan air danau yang jernih ditempat yang sepi dan sunyi namun penuh dengan kesegaran alam. Air danau yang tenang karena dalam, jernih karena tanpa polusi pikiran dan kehendak-kehendak kotor. Air danau yang mencerminkan segala tingkah laku kita. Air danau yang menyerap dan memantulkan apa yang kita pikir dan kerjakan..Kita tidak dapat bercermin pada sungai…

Keep reading

Wacana Nusantara – 10 Filosofi

Diskusi tentang Arsitektur Nusantara selalu menarik karena “Arsitektur Nusantara” ini secara eksplisit maupun implisit diungkapkan sebagai sebuah Entitas atau Being yang selayaknya memiliki karakter, identitas, bahkan DNA tersendiri. “Arsitektur Nusantara” seharusnya bahkan memiliki posisi yang lebih dari sekedar senarai Arsitektur DI Nusantara, dan ini tidak terlepas dari bagaimana kita melihat Arsitektur dan Nusantara sebagai sebuah…

Keep reading

Wacana Nusantara – 09 Ruang Publik

Keunikan masyarakat Indonesia mengartikulasikan ruang publik ditengarai sudah berlangsung sejak pra-kolonial. Masing-masing etnis memiliki cara berbeda namun memiliki benang merah dalam mengartikan sebuah teritori, yang tidak jarang akhirnya membawa diskursus tersendiri tentang programming. Fenomena Pasar Apung di Kalimantan, alun-alun di Jawa, serta juga catatan Thomas Raffles mengenai tidak singularnya aktivitas di dalam pasar di masyarakat…

Keep reading

Wacana Nusantara – 08 Rekonstruksi-Budaya

Rekonstruksi budaya adalah memahami aspek adaptasi, perubahan, serta apa yang bertahan pada suatu karya budaya silam. Dalam hal ini, artefak sebagai karya (produk) budaya merupakan hasil gagasan dan proses tingkah laku. Terutama perihal interaksi manusia terhadap keseluruhan aspek karya budaya. Demikian halnya bangunan sebagai artefak dan materi budaya; yang secara langsung berkenaan dengan perilaku manusia…

Keep reading

Wacana Nusantara – 07 Tulisan

Menulis adalah kemampuan khusus manusia yang berperan penting dalam mengembangkan peradaban. Sejumlah sifatnya yang khas menjadikan menulis berbeda dengan berbicara. Meskipun keduanya sama-sama bersifat verbal dan bertumpu pada kemampuan linguistik manusia, bahkan tak semua bahasa memiliki sistem penulisan. Dengan menulis, manusia mengembangkan kemampuan untuk menyimpan atau merekam ujaran melalui suatus sistem lambang yang dapat direkonstruksikan…

Keep reading

Wacana Nusantara – 06 Cerita

Storytelling atau “menyampaikan cerita” sesungguhnya bermula dari Tradisi Lisan. Menyampaikan cerita berarti bercerita atau menceritakan secara langsung dengan lisan. Di sinilah kita bisa menggali lagi otentisitas storytelling yang berpijak pada tradisi lisan, yang berbeda dengan storytelling dari Tradisi Tulisan. Dalam tradisi tulisan, ketika kita berhadapan dengan cerita, kita memposisikan cerita seperti “membaca buku”. Misalnya ketika…

Keep reading

Wacana Nusantara – 05 Kurasi

Pada suatu bait dari sebuah puisi karya Rudyard Kipling yang dimuat dalam tulisannya berjudul ‘Just So Stories’ yang diterbitkan tahun 1902 yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah metode yang dikenal dengan ‘Metode (Bertanya) 5W1H’ (What, Who, When, Where, Why, How). Teknik ini memungkinkan kita untuk memahami situasi, melihat masalah dengan menganalisis berbagai aspek. Sangat populer di…

Keep reading

Wacana Nusantara – 04 Sejarah

Kelas ini akan menelusuri khazanah arsitektur vernakular, etnik, dan/atau Nusantara melalui peristiwa-peristiwa sejarah, cara pandang yang mungkin akan membuat kita mempertanyakan ulang asosiasi karya-karya arsitektur di dalamnya dengan berbagai karakteristik seperti lokal, asli, anonim, spontan, tradisional, dan lain sebagainya. Berfokus pada abad ke-20, saya akan membahas bagaimana produksi arsitektur tersebut berkelindan dengan tiga arus penting…

Keep reading

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Wacana Nusantara

“Nusantara” tidak seharusnya menjadi hal yang kaku, terlebih beku. Justru sebaliknya, proses perdebatan panjang diperlukan dalam meramu benang merah tentang apa, untuk siapa, atau bagaimana seharusnya arsitektur dikibarkan di bumi Indonesia. Sebuah celah potensi demi terciptanya sebuah perubahan, atau inovasi bagi arsitektur Indonesia yang mengakar.Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

Back to Top

Kelas Wacana Arsitektur : Kritisisme Lanjutan

Sejarah, Teori, Kritik Arsitektur

Dalam mengasah kritisisme, dibutuhkan tiga buah dasar pengetahuan berupa teori, sejarah, dan kritik. Pada kisah Theseus yang menghadapi Minotaur, kita semua tampaknya seakan terwakilkan oleh Theseus yang sedang mencari jalan di balik derasnya lautan informasi yang begitu luas pada masa seperti sekarang ini. Berbekal senjata dari Ariadne yang sangat mencintainya, ibarat seorang guru bijaksana yang sepenuhnya percaya, yang percaya bahwa kita dapat menempuh tantangan yang ada.

Pengetahuan teori membuat kita lebih yakin dalam menempuh labirin informasi tersebut sampai ke titik tengahnya untuk mengalahkan sang Minotaur. Gumpalan benang yang diikatkan Theseus meninggalkan jejak perjalanannya, seperti hal nya pengetahuan sejarah yang menjadi tuntutan perubahan atau inovasi dalam arsitektur.

Hingga pada akhirnya berhadapan dengan Minotaur, pertarungan sengit diakhiri dengan menusukkan sebuah pedang ke dada sang monster, seperti halnya sebuah wacana kritik yang menjadi sarana untuk menilai dan memahami secara lebih tajam dan mendalam.

Kritisisme bukanlah sebuah tindakan adu kebenaran, karena pada akhirnya, Minotaur yang dikalahkan merupakan representasi dari diri kita sendiri. Meyakini bahwa self-criticism dibutuhkan untuk menyadari bahwa sebuah perubahan akan terjadi seiring dengan transformasi diri.

Omah Library dengan bangga menyusun rangkaian kelas Kritisisme bersama dengan tiga narasumber yang memaparkan pengalaman mereka dalam mengasah pendekatan kritis terhadap arsitektur, dibagi menjadi tiga bagian:

  • Teori bersama Nanda Widyarta
  • Sejarah bersama Robin Hartanto
  • Kritik bersama Indah Widiastuti

Kritik Arsitektur

Kritik pada dasarnya adalah sebuah perbincangan. Di mana ada perbincangan, di situ akan ada kritik. Karya arsitektur pun hadir karena ia diperbincangkan, ditransmisikan dari satu subyek ke subyek lain, bagaimana kata-kata bertuah. Kata-kata bisa jadi mantra, bisa jadi kutukan, bisa juga jadi berita, dan yang paling bijak seharusnya kata-kata itu adil. Jadi kritik yang baikContinue reading “Kritik Arsitektur”

Sejarah dan Kritisisme

Sejarah adalah sesuatu yang rumit, maka ia bersifat terbuka. Tiap orang bisa memahami dengan pemahaman yang berbeda-beda, dengan pembuktian melalui teks, dokumentasi, dan sebagainya. Kalimat di atas, “the past is a foreign country,” mengumpamakan masa lalu sebagai negara yang asing, di mana untuk mencoba memahaminya, kita perlu mempelajari bahasanya, orang-orangnya, dan dengan upaya itupun, kitaContinue reading “Sejarah dan Kritisisme”

Teori Dalam Kritisme

Teori dalam bahasa Yunani adalah melihat. Sehingga fungsi teori dapat dikatakan sebagai perangkat untuk menjelaskan sesuatu.Meski demikian, perangkat ini bergantung pada sudut pandang, “alat” untuk memandang. Lantas kondisi saat memandang (baik kondisi si pemandang maupun kondisi di sekeliling si pemandang) sangat mempengaruhi bagaimana si pemandang melihat sesuatu. Sebagai contoh, Nanda memperumpamakan dalam tangkapan layar untukContinue reading “Teori Dalam Kritisme”

Kritisisme

Omah Library dengan bangga menyusun rangkaian kelas Kritisisme bersama dengan tiga narasumber yang memaparkan pengalaman mereka dalam mengasah pendekatan kritis terhadap arsitektur, dibagi menjadi tiga bagian: Teori bersama Nanda Widyarta, Sejarah bersama Robin Hartanto, Kritik bersama Indah Widiastuti.

Back to Top

Perjalanan Mengenal Indonesia

JAAI + Omah

Perjalanan Mengenal Indonesia merupakan wadah berbagi dari JAAI dan Omah Library untuk pergerakan arsitektur di Indonesia yang turut memperkaya arsitektur Indonesia, memperkaya keindahan jejak emosi manusia dalam arsitektur, dan memberlanjutkan pengetahuan, kecakapan, dan kecerlangan lokal Arsitektur Indonesia. Wadah ini terbentuk didasari oleh cita – cita menghidupkan pengarsipan perkembangan arsitektur di Indonesia melalui kegiatan dokumentasi yang berbasis kerja kuratorial akar rumput dengan semangat kolegial dan prinsip kesetaraan. Kegiatan ini telah berjalan lebih dari satu tahun tepatnya 2020 silam, Beberapa topik pembahasan dan narasumber pun sangat beragam, mulai dari mahasiswa hingga Akademis. Begitupula dengan objeknya, berjalan melintasi tempat dan waktu. Mulai dari arsitektur yang ada di Kalimantan, Sulawesi, Flores, Maluku, hingga Jawa maupun era yang pernah terjadi di Indonesia.

Kami mengundang sahabat – sahabat sekalian yang memiliki ketertarikan pada kegiatan pendokumentasian arsitektur di Indonesia untuk berbagi dan berdiskusi. Membagikan apa yang pernah dilihat, dikaji maupun sudut pandang tentang perkembangan arsitektur di Indonesia.
.
Pada akhirnya JAAI dan Omah Library bercita-cita akan pergerakan Arsitektur Indonesia yang turut memperkaya Arsitektur Indonesia, memperkaya keindahan jejak emosi manusia dalam arsitektur, dan memberlanjutkan pengetahuan, kecakapan, dan kecerlangan lokal Arsitektur Indonesia.

Sejauh ini sudah ada 11 dokumentasi yang sudah kami himpun yang kawan – kawan bisa nikmati sebagai hasil dari arsip pengetahuan setempat. .

12 Rampa Kapis, Kalimantan Selatan

Pandangan pertama tampak dari dek kapal yang mengantarkan ekspeditor menuju ke dermaga untuk berlabuh, sebuah kawasan berdiri diatas lautan dengan bentuk vernakular lengkap dengan gambaran kehidupan maritimnya. Hingga sampai di dermaga, jalan setapak sebagai struktur kawasan membentang panjang ke arah daratan dengan material kayu ulin, menuntun melewati rumah – rumah warga. Berjalan menyusuri jalan setapakContinue reading “12 Rampa Kapis, Kalimantan Selatan”

10 Arsitektur Hindia Belanda

Selama masa kependudukan Belanda di Indonesia sejak abad ke-17 hingga menjelang proklamasi kemerdekaan di tahun 1945, Belanda telah mendirikan berbagai fasilitas untuk menunjang keperluannya, mulai dari infrastruktur seperti pelabuhan, hingga yang berskala lebih kecil seperti kantor, villa, dan perumahan. Arsitektur dari masa itu menjadi unsur penting dalam pengkajian asal usul dan perkembangan budaya serta identiasContinue reading “10 Arsitektur Hindia Belanda”

09 Arsitektur Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta, menjadi semakin kompleks dan rumit, karena berbagai pengaruh bercampur menjadi satu : Hindu, Islam, Jawa, percampuran adat dan agama (sinkretis), juga klasik dan modern Eropa. Lebih rumit lagi adanya kemungkinan terlibatnya unsur spiritual dalam proses perancangan, yang tidak dapat dianalisis secara fisik-arsitektural baik dalam bentuk maupun fungsinya. Dalam aspek sejarah, juga tidak kurangContinue reading “09 Arsitektur Keraton Yogyakarta”

08 Arsitektur Mamasa, Sulawesi Barat

Dalam sesi Perjalanan Mengenal Indonesia kali ini Arsitektur Hijau akan membagikan pengalaman ekspedisinya pada arsitektur di Mamasa yang dilakukan pada tahun 2018 silam melalui penggalian arsitektural mulai dari konteks lingkungan, budaya, tradisi membangun hingga proses membangun. Mamasa adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Barat. Kabupaten Mamasa terbagi atas beberapa desa, salah satunya adalah Desa BallaContinue reading “08 Arsitektur Mamasa, Sulawesi Barat”

07 Eksperimentasi Arsitektur Maclaine Pont

Cerita ini berfokus, pertama, pada intervensi pemerintah Belanda dalam penataan lingkungan perkotaan di Jawa yang dibangun sebagai model pos terdepan pada masa kolonial, dan kedua, pada percobaan Maclaine Pont (1884-1971) sebagai arsitek Belanda yang karyanya mewakili budaya arsitektur kolonial Indonesia pada awal abad kedua puluh. Selama 1910-1920, terjadi wabah yang menewaskan puluhan ribu orang diContinue reading “07 Eksperimentasi Arsitektur Maclaine Pont”

06 Laika Mbuu & Laika Landa, Sulawesi Tenggara

Rumah ini berfungsi sebagai hunian/tempat tinggal dan tempat perlindungan. Berbeda dari proses berdirinya laika mbu’u yang melalui prosesi adat dan sangat dijunjung tinggi keberadaanya. Ada perbedaan konteks perihal proses pembangunan kedua rumah ini. Laika landa dahulu digunakan sebagai Rumah tinggal untuk rakyat biasa, kemudian berpindah fungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka atau hasil panen perkebunanContinue reading “06 Laika Mbuu & Laika Landa, Sulawesi Tenggara”

05 Nggela, Nusa Tenggara Timur

Nggela merupakan salah satu dari ratusan desa adat suku Lio yang tersebar diseluruh Kabupaten Ende dan sebagian kecil Kabupaten Sikka. Berada di antara rimbunnya dataran kaki gunung Kelibara hingga tebing curam dengan pantai berbatu menjadi ciri khas dari daerah pesisir selatan Flores, menjadikan desa adat Nggela memiliki kekayaan bentang alam yang beragam dengan sumber dayaContinue reading “05 Nggela, Nusa Tenggara Timur”

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Perjalanan Mengenal Indonesia

Perjalanan Mengenal Indonesia adalah sebuah kelas yang mengupas kisah penjelajahan-penjelajahan tentang arsitektur dan vernakularitas di Indonesia. Kelas ini merupakan hasil kerjasama dari OMAH Library, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia, dan penjelajah-penjelajah yang mengarungi belantara arsitektur di Indonesia.

Back to Top

Kelas Wacana Arsitektur : 7 Do and 7 Don’t

Kritik, Sejarah, Teori, Kurasi, Cerita, Tulisan, dan Filosofi

Pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia, tepatnya pada saat pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar, OMAH Library mengadakan acara kelas Wacana Arsitektur “Do and Don’t” bersama tujuh narasumber terkait dengan filosofi, sejarah, teori, kritik, kurasi, cara bercerita, dan menulis. Rangkaian kuliah membahas mengenai salah satu cara untuk membicarakan arsitektur, yaitu dengan berwacana. Hal ini merupakan sebuah cara kontemplatif, melihat ke-dalam diri sendiri yang melibatkan pengalaman nyata ke dalam proses redefinisi sebuah istilah dan sifat dasar sebuah sudut pandang ilmu. Kuliah ini adalah cerita berbagi pengalaman pribadi setiap narasumber di dalam proses memahami tiap-tiap bagian wacana.

Wacana di dalam arsitektur bisa diibaratkan sebagai sebuah sistem berpikir, ide-ide, pemikiran yang membentuk sebuah kemampuan untuk menalar. Wacana melibatkan percakapan subjek-subjek yang melibatkan referensi, esai, bahasa, praktik yang terkait dengan sebuah perspektif. Dan akhirnya wacana akan membuka kreativitas di dalam dunia arsitektur. “Do and Don’t” bukan berarti peraturan, namun kemampuan menelisik hal-hal yang memiliki potensi untuk terciptanya sebuah perubahan, atau inovasi di dalam dunia arsitektur. OMAH Library mengadakan rangkaian kuliah yang dapat dipahami ke dalam tujuh bagian.

Philosophy: Do and Don’t

“Cogito Ergo Sum”—Rene Descartes ‘Jargon’ yang selalu membayangi pembahasan filsafat. Tapi apakah keberadaan seorang manusia hanya muncul saat dia berpikir? Tolak ukur manusia saat dia menggunakan otaknya? Bagaimana dengan organ lain seperti perasaan? Apakah otak rasional lebih tinggi dari pada perasaan hati? Sejumlah pertanyaan dapat dilontarkan dari sebuah kalimat pendek Descartes, dan itulah esensi dariContinue reading “Philosophy: Do and Don’t”

Writing: Do and Don’t

The profession of architecture has become representative of the society we live in. Arguably the most public art that affects human psychology most profoundly, architecture also happens to be the least discussed. Everyone does care about architecture, but the lack of a common language to talk about the built environment renders the profession as lessContinue reading “Writing: Do and Don’t”

Storytelling: Do and Don’t

Cerita adalah bagian penting dari kemanusiaan kita. Harari meyakini bahwa ciri terpenting manusia adalah bahasa dan kemampuan bahasa yang terpenting adalah untuk bercerita. Dengan bahasa kita bisa menyebut segala sesuatu di sekitar kita, tapi dengan bahasa juga kita bisa mengkomunikasikan bahkan meyakinkan orang lain tentang hal-hal yang tak serta merta dapat kita saksikan. Dengan berbagiContinue reading “Storytelling: Do and Don’t”

Curation: Do and Don’t

Manakah yang seharusnya lebih dulu ada: konsep atau desain? Apakah benar hubungan antara konsep dan desain itu seperti ‘telur dan ayam’? Jawabannya bergantung pada persepsi masing-masing. Mengapa persepsi? Karena tidak ada aturan-aturan baku yang secara de jure bisa mengikat kemungkinan-kemungkinannya. Mungkinkah konsep dibuat setelah desain selesai digambar –atau bahkan lebih radikalnya– karya tersebut selesai dibangun?Continue reading “Curation: Do and Don’t”

Theory: Do and Don’t

Pernyataan:Teori adalah sebuah aktivitas memandang. Coba lanjutkan kalimat ini:Pertemuan ini adalah pertemuan mengenai … Jawaban:a. Teori Arsitektur,b. Teori pada Arsitektur,c. Teori bagi Arsitektur,d. Teori dari Arsitektur,e. Teori dan Arsitektur,f. Di atas semua benar,g. Di atas semua tidak benar,h. Di atas, sebagian yang benar.i. Saya punya teori saya sendiri,j. Pernyataan awal adalah salah, Saya punya pernyataanContinue reading “Theory: Do and Don’t”

History: Do and Don’t

Profesi di bidang (yang kita gadang-gadang sebagai) “kreatif” punya konotasi selalu berorientasi ke masa depan seakan tidak relevan dengan masa lalu. Profesi kreatif selalu diberi tuntutan untuk terampil dalam memanfaatkan teknologi terkini dan tanggap terhadap budaya kiwari, dan selalu dalam kodrat untuk mengejar apapun yang ada di depan. Namun di sisi lain, profesi kreatif (khususnyaContinue reading “History: Do and Don’t”

Criticism: Do and Don’t

Apakah kritisisme itu? Apakah kegunaannya dalam arsitektur? Bagaimana kita melakukan kritik yang baik? Adakah parameter yang jelas untuk menilai sesuatu? Kita kerap salah dalam memahami kritisisme. “Mengkritik” kerap kita anggap sebagai “menyerang,” “mencela,” atau “menghantam” lawan debat kita. Kesalah pahaman ini perlu diluruskan. Kritisisme adalah salah satu unsur dari tritunggal sejarah—teori—kritisisme. Kritisisme, menurut salah satuContinue reading “Criticism: Do and Don’t”

Seven Discourses: Do and Don’t

Kelas wacana ini membedah tujuh hal yang boleh dan tidak dilakukan oleh seorang arsitek, meliputi filosofi, sejarah, teori, kritik, kurasi, cara bercerita, dan menulis. Kelas ini merupakan kelas kontemplatif yang membuka wacana kreativitas berpikir secara interpretatif.

Diampu oleh M. Nanda Widyarta, Setiadi Sopandi, Undi Gunawan, Eka Swadiansa, Revianto B. Santosa, Apurva Bose Dutta, Johannes Adiyanto.

Back to Top

Kelas Wacana Arsitektur : Bentuk | Form

Theory, Origin, Technique, Critique, Culture, Philosophy, dan Meaning

Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

Webinar OMAH Library yang berjudul “Form | Rahasia dibalik sebuah bentuk” membahas bentuk dari sudut pandang teori arsitektur, asal mula (origin), teknik merangkai bentuk, kritik terhadap bentuk, metode desain sekaligus konteks alam dan budaya, filosofi dan pemaknaan. Berbagai sudut pandang ini memberikan peta bagaimana perjalanan sesorang menelusuri perjalanan proses membentuk bentuk. Kelas Bentuk terbagi menjadi 7 bagian dan mengundang beberapa pengisi acara pada masing-masing kelas.

Form #7 – Meaning

Bentuk adalah hal yang paling mudah untuk dikenali dari Arsitektur. Dengan segera begitu kita berada di depan suatu bangunan kita mencerap (perceive) bentuk. Di sisi lain, makna adalah hal yang paling mendalam sehingga memerlukan aktivitas mental dengan intensitas yang tinggi untuk dapat mengungkap makna suatu bentuk. Presentasi ini berupaya untuk menyajikan beberapa pendekatan yang dapat…

Keep reading

Form #6 – Philosophy

Bentuk dan Ruang adalah hal yang selalu menjadi pemikiran arsitek dan calon arsitek. Hari-hari selalu berkutat tentang menata ruang dan menggubah bentuk. Mari kita sedikit menurunkan ritme hidup yang berkejaran dengan waktu, menurunkan denyut nadi dan mencoba menyadari proses penciptaan bentuk di keseharian kita serta mencoba memahami konsekuensi-konsekuensinya. Bagaimana bentuk mulai terbersit saat tidur? Bagaimana…

Keep reading

Form #5 – Culture

There is more than just the human race in this world, but other creatures and nature as well. By caring for our surroundings, we can learn how to be humane, not to put humans at the center of everything, and listen to things around us. Boonsarm Premthada will join OMAH Library this week by sharing…

Keep reading

Form #4 – Critique

Kelas keempat ini mendefinisikan kritik sebagai sub-bagian dari sebuah “ekosistem” sebagai sebuah praktek, disiplin, dan sebuah rumpun kebudayaan. Untuk itu, arsitektur tidak lagi dilihat sepihak oleh pelakunya (arsitek, pendidik, dan calon arsitek) tetapi juga diposisikan sebagai sebuah rumpun kebudayaan yang melayani banyak pihak—klien, pengguna, masyarakat umum, dan pemerintah. Untuk itu, arsitektur akan berperan besar apabila…

Keep reading

Form #3 – Technique

Sebagaimana prolog yang telah diberikan oleh Ryadi Adityavarman, Bentuk-Ruang merupakan perwujudan utama pemikiran dan perancangan arsitektur. Dengan demikian, pemahaman gubah bentuk-ruang sekaligus menjadi tumpuan keahlian penting bagi peminat dan pegiat arsitektur. Ryadi Adityavarman menitik beratkan topik presentasi webinar nanti dengan memulainya dari prinsip dasar gubah bentuk-ruang dan mengangkat proses pembelajaran mahasiswa di studio, dalam sistem…

Keep reading

Form #2 – Origin

The questions of Origin is related to Identity, and it is about our mindset and ideological construct. Architecture is the physical manifestation of human culture, the product of human ideological construct and mindset. The physical articulation of architecture and the city is the reflection of the “spirit of the ages” (“Zeitgeist”) or the social-political-cultural aspects…

Keep reading

Form #1 – Theory

Ini adalah sebuah sesi yang membahas Teori Wacana Bentuk. Teori bentuk adalah perkara sudut pandang yang tidak terlepas dari pandangan dualistis bentuk dan ruang. Bila kita hendak menjelaskan ruang, kita seperti dihadapkan pada situasi bagaimana menjelaskan air kepada ikan. Namun bila kita hendak menjelaskan bentuk, apakah kita berarti menjelaskan tentang sosok ikan? Atau kita hendak…

Keep reading

Bentuk | Form

Bentuk adalah hasil dari produksi pengetahuan arsitektur. Untuk memproduksi pengetahuan arsitektur melalui bentuk diperlukan pemahaman mengenai mengapa satu bentuk dibuat, dan apa dampak dari bentuk tersebut.

Webinar ini membahas bentuk dari sudut pandang teori arsitektur, asal mula (origin), teknik merangkai bentuk, kritik terhadap bentuk, metode desain sekaligus konteks alam dan budaya, filosofi dan pemaknaan. Berbagai sudut pandang ini memberikan peta bagaimana perjalanan sesorang menelusuri perjalanan proses membentuk bentuk. Beberapa pembicara yang akan mengisi acara ini adalah Undi Gunawan, Johannes Widodo, Ryadi Adityavarman, Boonserm Premthada, Johannes Adiyanto, dan Revianto Budi Santosa.

Back to Top

About Omah Library + JAAI

Siapa saja kontributor perpustakaan Omah + JAAI ?

Setiap restless spirit, jiwa-jiwa yang gelisah dalam berarsitektur di perpustakaan Omah, telah banyak berkontribusi untuk ruang kami dan wacana arsitektur yang terjadi di dalam setiap diskusi sejak tahun 2015 sampai tahun 2021.

Kontribusi para restless spirit yang tercatat di bawah ini memiliki dampak signifikan berupa pertanyaan kritis untuk berdiskusi, berinterpretasi, berpameran yang memancing sesi acara, ataupun diskusi intensif yang terjadi di perpustakaan Omah dan kerjasamanya dengan JAAI. Setiap kontribusi mereka menjadi titik mula (benih) sekaligus titik temu (jembatan) sebagai alat untuk membina ekosistem arsitektur bersama – sama. Kami ucapkan banyak terima kasih untuk kegelisahan, energi, rasa yang diberikan di perpustakaan kecil kami dengan mencantumkan nama – nama mereka disini.

Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia

JAAI adalah sebuah gerakan akar rumput yang bertujuan untuk mengumpulkan arsip arsitektur Indonesia dari kita, untuk kita, oleh kita Indonesia yang diinisasikan Mohammad Cahyo Novianto. JAAI dibentuk dari prinsip kolegial, orang – per orang dengan prinsip kesetaraan dengan semangat pembaharuan untuk terus belajar dari arsip arsitektur Indonesia. JAAI adalah kerja bersama, sebuah kerja gotong royong untuk masa depan arsitektur Indonesia yang dimulai dengan dokumentasi dan pemetaan terhadap arsitektur tradisional dan arsitektur masa kini. JAAI mengajak rekan-rekan untuk bersama-sama merajut semangat kebhinekaan, gotong royong, tradisi, bahan, dan ketukangan untuk berbagi bersama dalam suatu cita-cita besar Arsitektur Indonesia. JAAI bersama OMAH Library mendorong semangat pengarsipan secara kolegial, bergotong-royong yang dimulai dari pengarsipan, dokumentasi dan pemetaan terhadap diskursus arsitektur yang ada di Indonesia.


Contributors of Omah Library + JAAI | Kontributor Perpustakaan Omah + JAAI | 2015 – 2021

Abidin Kusno
Achmad D Tardiyana
Achmad Noerzaman
Achmad Tardiyana
Adelia Putri Octavini
Adetia Pratiwi
Adhi Moersid
Adi Pura Tannato
Adi Purnomo
Adrian Emmanuel
Adrin M. R. Taufik
Agustinus Sutanto
Ahlal Jannata
Ahlal Jannata Firdausi
Ahmad Djuhara
Ajeng Herdiana Putri
Albert Lionggo
Alia Swastika
Alifian Kharisma
Altrerosje Asri
Alvar Mensana
Amanda Khalim
Amelia M. Djaja
Ami Pertiwi Suwito
Amira Amandanisa
Anas Hidayat
Anastasia Widyaningsih
Andhika Prasetya Hartanto
Andra Matin
Andre Simapranata
Andrea Peresthu
Andrew Suhalim
Andy Rahman
Anggita Berliana Hanggara
Anisya Ayu Kusumaningrum
Annisa Ridyasmara
Anton Dwinanto
Apep, Yu sin, Thamrin
Apurva B Dutta
Ardhyasa F Gusma
Ario Andito
Arsitektur Hijau
Ary Indra
Avianti Armand
Ayos Purwoaji
Ayyash Syifa Aradia
Bambang Ega Agha Novita
Bangkit Mandela
Bayu Abimanyu
Bayu Genia Krisbie
Bobby Satria
Bondan Petra
Bondan Petra Diponegoro
Boonserm Premthada
Budi Pradono
Budiman Hendropurnomo
Carla Antoinette
Carolline Permatasari
Caterine Wijaya
Chandra Ramadhan Pamungkas
Charles Barguirdjian
Christian Laurentius
Christiandy Pradangga
Christopher Raynard Satiadarma
Cicilia Solomon
Claudia Cynthia Javanny Jo
Claudia Levina
Cosmas Gozali
Cynthia Margareth
Daisy Corleona Yoval
Damarullah K Bernaung
Daniel Sandjaja
Daniel Yohanes
Danny Wicaksono
Darrundono Koesomodilogo
David Hutama
David Kristiawan
David Sampurna
Davidson Suwongto
Deddy Wahyudi
Defrina Anggraeni
Defry Agatha
Denis Indramawan
Denny Husin
Depanrumah Studio
Desry Nuraini
Devany aulia
Dicky Hendrasto
Dimas Dwi Mukti
Dinar Alam
Dinda Ayu Prameswari
Dody Tansil
Editha Santika
Eileen Clarita Lim
Eka Swadiansa
Eko Prawoto
Eko Purwono
Elisa Sutanudjaja
Ellena Monica
Ellisa Utomo
Emeraldi
Endy Subijono
Enggelina Anugerah
Ephraim Jeshanah
Eric Anathapindika
Erick Kristanto
Evelyn Gasman
Exuen Sugiarto
Fachri Muzaqii
Fadiah Nurannisa
Fanny Rahmasari
Farida Nur Oktaviana
Faried Masdoeki
Fariska Shani Wijaya
Farren Evanee Williady
Febe Margaretha Syandi
Felicia Chloe
Felicia Puspita
Felisa Dikwatama
Fernisia Richtia W
Fernisia Richtia Winerdy
Fiera Alifa
Fiona Gracia
Fiorent Fernisia Richtia
Fitri Umi Maslikah
Franky Simanjuntak
Furqon Badriantoro

Gabriela Utama
Galuh Pramesti
Gayuh Budi Utomo
Georgius Jonathan
Gerald Mulyadi
Gery Lingga
Gindo Yamestian
Glenn Setianegara Halim
Gracia Augusta
Gregorius Antar Awal
Gregorius G. Gerard
Gregorius Jasson
Gregorius Supie Yolodi
Gunawan Saraska Putri Lango
Gunawan Tanuwidjaja
Hardiyanto Agung
Hasan Abd
Helga Swaradita
Hendrick Tanuwijaya
Herby Dewanu
Hikmatyar Abdul Aziz
Hilary Valencia
I Gede Mahaputra
Indah Widiastuti
Indra Dwi Nugraha
Inggrid Samrat
Intan Findanavy Ridzqo
Irianto Purnomo Hadi
Irma Ramadhan
Irving
Ivan Kurniawan Nasution
Ivan Linardi
Jackson Ade Raynald Zai
Jacky
Janice Sanusi
Jascha Vladi Santoso
Jason Hari Boediardjo
Jennifer
Jenny Alvionita
Jeremiah Tiono
Jessica Deviani Putri
Jesslyn
Jimmy Priatman
Jo Wilendra
Johan Raphael Chandra
Johannes Adiyanto
Johannes Widodo
John Lado Gozali

Jolanda Atmadja
Jonathan lesmana
Jordan Ancel
Joshua Luvin
Jovita Lisyani Halim
Julian Palapa
Kamil Muhammad
Kanigara Ubaszti Putra
Kanoasa Akbar
Karisya Adjie
Kartika Gelahara
Kazuyo Morita
Kenneth Aldwin
Kevin Mark Low
Khattiya Hendarta
Kirana Ardya G.
Klaudia Tan
Koichi Tanaka
Komunitas Tadulako Tradisional
Laras Miradyanti
Laras Wartevani
Laudza Az Zahra
Laura Juwita Tansil
Louis Ardian Junus
Louis Osvaldo Xavier
Lystia Regina Suhalim
M Cahyo Novianto
M Iqbal Tawwakal
M Rifki Maulana
M Wildan Nurmanna
M. Alfi
Mahsya Carmennila
Marco Kusumawijaya
Margaretha Syandi
Maria Stephanie
Marsha Celia
Marshall Utoyo
Matthew Kenneth Lauw
Mazebah Siahaan
Meilisa
Michael DS
Michael Pratama
Miftahuddin Nurdayat
Mila Ardiani
Mitsuha Abe
Mitu M Prie
Mondrich Sjarief
Monica Dwiputri
Muhammad Ansar
Muhammad Luthfi Eryando
Muhammad Sagita
Muhammad Thamrin
Munna Dwi Riani
Muqoddas Syuhada
Mutia Amelia Febriana
Mutiara Seprina
Nadia Amira
Nadia R
Nanda Widyarta
Natasia Heindri
Natasya Gunardi
Naudaffal Widdi
Nela Rohmawati
Nelly Lolita Daniel
Nisita Hapsari
Nur Khairani Balqis Afifah
Oliver Victor Wibowo
Olivia Iendah
Oscar Tanudjaja
Pandu Pujo Wicaksono
Petrus Edward Willem Tangkilisan
Prabowo Hanifianto
Priscilla
Priscilla Regita Putri Tunggono
Prof Gunawan Tjahjono
Prof Moh Danisworo
Prof Yandi Andri Yatmo
Prof. Tri Harso Karyono
Putra Wijaya
Putri Ghassani Nurshabrina

Rafael David Pasaribu
Regi Kusnadi
Regina Chandra
Regina F. Amalia
Reinardus Indra Tanata
Relan Masato
Ren Katili
Revano Satria
Revianto B. Santosa
Rewinda Kris Wulan
Rexy Jonathan Rokiyanto
Reza Achmed Nurtjahja
Reza Ambardi Pradana
Rezki Dikaputra
Ricky Purbaya
Rifandi Septiawan Nugroho
Riladita Asri
Rimba Harendana
Rio Dylan
Rio Sanjaya
Riri Yakub
Rismauli Napitu
Riswanda Setyo Addino
Riswandi Nursam Haddede
Rizal Muslimin
Robert Christopher P
Robin Hartanto
Rofianisa Nurdin
Roykhan Bawazier
Rudy Kelana
Ryadi Adityavarman
Ryandika Candriana
Samsu Duha
Samuel Timothy
Sarah Ginting
Satria Karunia R
Satrio Triwardana
Scott Valentine
Sebastian Brian
Septrio Effendi
Setiadi Sopandi
Sherlyn Christiane
Sibarani Sofian
Sonny Sutanto
Stephen Tedy
Stevanie Tjahaja
Steven
Studio Aliri
Studio Geometry
Sumayya
Suryono Herlambang
Susi Famestu
Sutikno Michiella
Suwardana Winata
Syifa Asshofie
Tan Tjiang Ay
Tatyana Kusumo
Teresia Hanna Sanjaya
Thomas Agung
Tiyok Prasetyoadi
Tommy Wijaya
Umi Khasanah
Undi Gunawan
Universitas Tanri Abeng
Utami Sugianto
Valdo karya
Vianka Stela Wijaya
Vina Triyuliana
Vinny Stefany
Virgoza Nicotheus Giovanni
Viva Octa Grend
Wati
Wendy Djuhara
Wendy Teo
Wiliam Sutanto
Willis Kusuma
Wiyoga Nurdiansyah
Yandi Andri Yatmo
Yapharos Risma Afriyanti
Yasmin Aryani
Yenni Kaldaziah
Yenni Khaliddazia
Yori Antar
Yoris Mangenda
Yu Sing
Yuki Fadillah
Yuliana Putri
Yuliana Susi Susanti
Yulianto Sumalyo
Yusni Aziz
Yuswadi Saliya
Zahrina Amalia


Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia

JAAI adalah sebuah gerakan akar rumput yang bertujuan untuk mengumpulkan arsip arsitektur Indonesia dari kita, untuk kita, oleh kita Indonesia yang diinisasikan Mohammad Cahyo Novianto. JAAI dibentuk dari prinsip kolegial, orang – per orang dengan prinsip kesetaraan dengan semangat pembaharuan untuk terus belajar dari arsip arsitektur Indonesia. JAAI adalah kerja bersama, sebuah kerja gotong royong untuk masa depan arsitektur Indonesia yang dimulai dengan dokumentasi dan pemetaan terhadap arsitektur tradisional dan arsitektur masa kini. JAAI mengajak rekan-rekan untuk bersama-sama merajut semangat kebhinekaan, gotong royong, tradisi, bahan, dan ketukangan untuk berbagi bersama dalam suatu cita-cita besar Arsitektur Indonesia. JAAI bersama OMAH Library mendorong semangat pengarsipan secara kolegial, bergotong-royong yang dimulai dari pengarsipan, dokumentasi dan pemetaan terhadap diskursus arsitektur yang ada di Indonesia.


Founding Member JAAI (Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia)
1. Mohammad Cahyo Novianto
2. Yoris Mangenda
3. Muhammad Ansar
4. Riswandi Nursam Haddade
5. Bondan Petra Diponegoro
6. Mutia Amelia Febriana
7. Fachri Muzaqii
8. Furqon Badriantoro
9. Putra Wijaya
10. Khattiya Paninndriya
11. Arsitektur Hijau
12. Komunitas Tadulako Tradisional
13. Yulianto Sumalyo


Perpustakaan OMAH 2021

Omah Library atau perpustakaan Omah diinisiasikan pada tahun 2015 oleh Realrich Sjarief. Sesi diskusi – diskusi di dalam Omah Library memiliki keterkaitan mengenai wacana, retrospeksi, ataupun sekedar interpretasi terhadap arsitektur. Diskusi – diskusi tersebut selalu melibatkan, presentasi, dialog dua arah, dan sifatnya sementara. Dari perbincangan – perbincangan tersebut, muncullah berbagai macam kuliah dan kerjasama dengan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia, beberapa universitas, ataupun periset lepas. selain perpustakaan arsitektur. Materi – materi yang dibahas terkait dengan Teori, Kritik, Sejarah, Metode, Kurasi arsitektur sampai dengan persilangan diskusi dengan disiplin – disiplin lain. Di dalam memproduksi ilmu pengetahuan, Perpustakaan Omah juga menulis, meriset, dan menerbitkan buku. Perpustakaan Omah Menjadi rumah yang mempertemukan praktisi arsitektur, desainer, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum dalam membincangkan wacana literasi arsitektur di Indonesia.

Advisor
Realrich Sjarief

Librarians and Researchers
Hanifah Sausan N.
Nirma Ayuni S
Satria A. Permana

Video Editor
Muhammad Farhan Nashrullah

Administration
Laurensia Yudith
Novita Gunawan
Yuliana Putri


Back to Top