Api Kepercayaan

Ada dua anggapan yang setiap hari dibantah oleh padepokan kami, pelan-pelan, tanpa niat berdebat. Pertama, bahwa belajar arsitektur harus di sekolah formal. Kedua, bahwa belajar arsitektur harus berujung menjadi arsitek. Orang-orang datang ke sini dari berbagai arah, dan banyak yang pulang bukan sebagai arsitek. Dan itu tidak apa-apa. Itu justru intinya. Pendidikan formal sering berdiriContinue reading “Api Kepercayaan”

Kandang Kelinci

Salah satu proyek arsitektur kami yang paling kecil, dan diam-diam paling banyak mengajari kami. adalah sebuah kandang kelinci. Kedengarannya sepele, tetapi justru dari benda sekecil itu kami diingatkan bahwa arsitektur tidak hanya tentang manusia. Ia tentang siapa pun, atau apa pun, yang akan tinggal di dalam sebuah ruang. Kami tidak memulainya dari desain, kami memulainyaContinue reading “Kandang Kelinci”

Doa Setinggi Satu Meter

Beberapa minggu yang lalu, Universitas Widya Mataram memberi kami sebuah hadiah yang tidak biasa. Bukan buku, bukan barang, melainkan sebatang pohon sawo kecik, tingginya kira-kira satu meter. Sebuah kebaikan yang sederhana, yang datang dalam bentuk yang masih harus tumbuh. Sawo kecik bukan pohon yang megah. Ia pohon halaman dan pohon desa. Buahnya kecil, hanya sebesarContinue reading “Doa Setinggi Satu Meter”

Kursi yang Jarang Diduduki

Di antara kursi-kursi di perpustakaan ini, ada satu yang berbeda sendiri. Warnanya merah dan biru, bidang sandaran dan dudukannya seperti melayang, ditahan oleh batang-batang hitam yang saling silang dan dikunci dari samping. Orang yang pernah belajar sejarah desain akan langsung mengenalinya, kursi Rietveld. Ia dirancang sekitar seabad yang lalu oleh Gerrit Rietveld, dan yang seringContinue reading “Kursi yang Jarang Diduduki”

Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia

Dari dek sebuah kapal yang merapat ke dermaga yang jauh, kampung itu tampak berdiri di atas laut. Rumah-rumah panggung, jalan setapak kayu ulin yang membentang ke daratan, kehidupan yang sudah lama sekali tahu cara tinggal di atas air. Pemandangan semacam itulah yang ditempuh berhari-hari oleh para pengarsip dalam ekspedisi-ekspedisi mereka. Dan pemandangan semacam itu pulaContinue reading “Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia”

Yang Tidak Bisa Kita Perintah

Di Guha ada pohon-pohon, dan ada hewan. Marmut, kelinci, kambing. Mereka bukan sekadar penghuni tambahan, lama-lama kami sadar mereka bagian dari cara tempat ini menjaga kewarasan orang-orang di dalamnya. Ada sesuatu yang menenangkan dari memegang, atau sekadar berada di dekat, makhluk yang hidup. Banyak orang bilang itu pelepas stres, dan memang begitu terasanya. Tetapi kalauContinue reading “Yang Tidak Bisa Kita Perintah”

Rak yang tidak menghalangi

Orang yang datang ke OMAH mungkin mengira rak-rak buku di sana disusun sekadar untuk menampung sebanyak mungkin buku. Sebenarnya tidak. Susunan rak di sini kami pikirkan cukup lama, karena ternyata cara menata rak buku punya ilmunya sendiri, dan ilmu itu bukan tentang kapasitas, melainkan tentang bagaimana orang melihat dan bergerak. Persoalan utamanya adalah ruangnya kecil.Continue reading “Rak yang tidak menghalangi”

Adik Kami di Lantai Bawah

Di lantai paling bawah rumah ini tinggal adik kami. Namanya OMAH, sebuah perpustakaan. Kami menyebutnya adik bukan untuk lucu-lucuan: ia memang lahir belakangan dari studio ini, tumbuh menumpang di ruang-ruang kami, dan seperti semua adik, ia dibesarkan ramai-ramai. Rak-rak bukunya kami desain dengan satu keputusan yang mungkin terdengar aneh untuk sebuah perpustakaan: supaya orang dudukContinue reading “Adik Kami di Lantai Bawah”

Adik Kami di Lantai Bawah

Di lantai paling bawah rumah ini tinggal adik kami. Namanya OMAH, sebuah perpustakaan. Kami menyebutnya adik bukan untuk lucu-lucuan: ia memang lahir belakangan dari studio ini, tumbuh menumpang di ruang-ruang kami, dan seperti semua adik, ia dibesarkan ramai-ramai. Rak-rak bukunya kami desain dengan satu keputusan yang mungkin terdengar aneh untuk sebuah perpustakaan: supaya orang dudukContinue reading “Adik Kami di Lantai Bawah”

Arti Mumpuni

Ada malam-malam di OMAH yang berakhir jauh lewat tengah malam. Salah satunya kami ingat betul, seorang guru kami duduk berdiskusi dengan anak-anak muda sampai jam 1 pagi. Tidak ada hitungan waktu, atau materi yang menahannya di situ, tidak ada kewajiban, tidak ada acara yang belum selesai. Ia bertahan karena percakapannya belum selesai. Kami yang seharusnyaContinue reading “Arti Mumpuni”