Kursi yang Jarang Diduduki

Di antara kursi-kursi di perpustakaan ini, ada satu yang berbeda sendiri. Warnanya merah dan biru, bidang sandaran dan dudukannya seperti melayang, ditahan oleh batang-batang hitam yang saling silang dan dikunci dari samping. Orang yang pernah belajar sejarah desain akan langsung mengenalinya, kursi Rietveld.

Ia dirancang sekitar seabad yang lalu oleh Gerrit Rietveld, dan yang sering dilupakan orang, Rietveld bukan pertama-tama seorang arsitek. Ia tukang kayu, pembuat mebel, yang melakukan risetnya bukan di atas kertas melainkan lewat tangannya sendiri, dengan membuat, membongkar, dan merakitnya lagi.

Kursi ini adalah hasil riset seorang tukang, dan barangkali itu sebabnya kami merasa dekat dengannya. Ia mewakili semangat yang sama dengan yang kami jaga di rumah ini, semangat para perajin yang bertanya lewat pekerjaan tangannya.

Pertanyaan-pertanyaan itu terekam jelas dalam evolusi sang kursi. Ketika pertama kali lahir dari bengkelnya pada 1917, kursi ini belum memiliki warna ikoniknya. Ia hanya berwujud kayu tanpa cat, lengkap dengan papan samping di bawah sandaran lengannya. Wujudnya terus berubah lewat serangkaian prototipe, termasuk satu versi putih bersih untuk kamar seorang kawan penulis, hingga perjumpaannya dengan gerakan seni De Stijl.

Barulah pada 1923, Rietveld menanggalkan papan sampingnya, menipiskan rangkanya, dan menyapukan warna merah, biru, kuning, serta hitam. Pewarnaan ini adalah sebuah taktik visual yang cerdik, rangka hitam itu dirancang agar “menghilang” di latar ruangan yang gelap, menyisakan bidang-bidang warna yang seolah merdeka dari gravitasi.

Dari sanalah ia kemudian menjadi salah satu simbol modernitas pada zamannya, dan menarik untuk mengamati kenapa. Ia menolak ornamen. Ia mengurai sebuah kursi sampai ke unsur-unsurnya yang paling dasar, yakni bidang, garis, dan warna primer.

Rangkanya tidak menutup ruang melainkan membiarkan ruang mengalir menembusnya, mempertegas kesan dudukannya yang mengambang di udara. Dan ia dibuat dari kayu ukuran standar dengan sambungan yang sederhana, karena Rietveld bermimpi kursi yang baik seharusnya bisa dibuat dan dimiliki siapa saja. Duduk pun, pada masa itu, ikut menjadi modern.

Di perpustakaan ini, kursi itu diletakkan di antara saudara-saudaranya, kursi-kursi lokal yang biasa saja, tanpa nama besar, tanpa sejarah yang ditulis buku. Dan keduanya bertolak belakang hampir dalam segala hal. Yang satu tegak, keras, penuh gagasan. Yang lain empuk dan akrab. Yang satu diamati, yang lain diduduki. Kontradiksi itu tidak kami sembunyikan. Justru kontradiksi itulah pelajarannya.

Karena pada akhirnya kami harus menjawab satu pertanyaan sederhana, apa sebenarnya tugas furnitur di sebuah perpustakaan? Jawaban kami tidak muluk-muluk, enak diduduki. Membaca membutuhkan tubuh yang tenang, dan perpustakaan ini memang kami niatkan sebagai ruang singgah, tempat orang membaca sambil melepas penat, bersandar, dan sesekali tertidur dengan buku terbuka di pangkuan. Bagi kami, pembaca yang tertidur adalah pujian tertinggi yang bisa diterima sebuah kursi.

Lalu untuk apa kursi Rietveld itu, kalau ia hampir tidak pernah diduduki? Karena tidak semua kursi bertugas menopang tubuh. Ada satu-dua yang bertugas menampung pertanyaan. Kursi yang satu ini kami perlakukan seperti buku, bacaan tiga dimensi tentang keberanian, tentang riset, tentang seorang tukang yang mengubah cara dunia duduk. Ia dikelilingi buku-buku, dan sesungguhnya ia salah satu dari mereka.

Dan ada satu hal yang suka kami renungkan pelan-pelan setiap kali memandangnya. Rietveld dulu merancang kursi ini dari kayu ukuran standar supaya siapa pun bisa memilikinya. Kini, ironisnya, ia menjadi barang yang mahal dan dimuseumkan.

Tetapi cita-citanya tidak hilang. Cita-cita itu justru hidup diam-diam di kursi-kursi lokal tak bernama di sekelilingnya, yang sederhana, terjangkau, dan nyaman diduduki siapa saja yang datang. Barangkali begitulah nasib terbaik sebuah ikon: dikelilingi saudara-saudara yang mewujudkan mimpinya, tanpa merasa perlu menjadi terkenal.

(rs, hs, ir, fr, ty)

Image Source:
[1]https://gerrit-rietveld.nl/nieuws/de-kleuren-van-de-rood-blauwe-stoel/?lang=en
[2]https://www.flickr.com/photos/chanceprojects/49781616872
[3]https://commons.wikimedia.org/wiki/File:RED_AND_BLUE_designed_by_architect_Gerrit_Rietveld.jpg

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading