Orang yang datang ke OMAH mungkin mengira rak-rak buku di sana disusun sekadar untuk menampung sebanyak mungkin buku. Sebenarnya tidak. Susunan rak di sini kami pikirkan cukup lama, karena ternyata cara menata rak buku punya ilmunya sendiri, dan ilmu itu bukan tentang kapasitas, melainkan tentang bagaimana orang melihat dan bergerak.
Persoalan utamanya adalah ruangnya kecil. Di ruang sekecil ini, kalau rak diletakkan sembarangan menghalangi pandangan, orang akan langsung merasa terjepit, sesak, seperti terkurung di antara dinding-dinding buku. Tetapi kalau raknya ditutup rendah semua supaya lapang, ruangan justru kehilangan sesuatu, ia menjadi datar dan tidak mengundang. Jadi persoalannya bukan memilih antara terbuka atau penuh, melainkan menemukan susunan yang terasa lapang sekaligus kaya.
Jalan keluarnya kami temukan pada satu prinsip: rak tidak boleh langsung menghalangi pandangan. Kami menyusunnya berlapis-lapis, sehingga mata tidak dihentikan oleh satu dinding buku, melainkan dituntun masuk lebih dalam, sedikit demi sedikit. Satu lapisan membuka ke lapisan berikutnya. Ada yang tersingkap lebih dulu, ada yang baru terlihat setelah melangkah, seperti masuk ke sebuah toko buku yang di baliknya ternyata masih ada ruang lagi, dan di baliknya lagi masih ada.
Ruang kecil pun terasa punya kedalaman, karena ia tidak memperlihatkan seluruh isinya sekaligus.
Ini, kami kemudian tahu, sejalan dengan apa yang dipelajari orang-orang yang merancang perpustakaan. Mereka menemukan bahwa rak yang disusun untuk menuntun orang maju, membuka pemandangan bertahap, justru membuat ruang kecil terasa lebih besar dan lebih hidup daripada deretan rak lurus yang memperlihatkan semuanya dari pintu. Yang penting bukan berapa banyak buku yang muat, melainkan bagaimana orang mengalir di antaranya, dan apakah pandangannya diberi ruang untuk menemukan, bukan dibendung oleh tembok.
Ada juga sisi yang lebih praktis, dan yang harus terus disesuaikan. Susunan rak tidak pernah benar-benar selesai, karena semuanya bergantung pada hal-hal yang terus berubah: berapa jumlah buku yang bertambah, berapa banyak rak yang kami punya, seberapa ramai pengunjung pada suatu masa. Rak yang pas untuk koleksi tahun lalu bisa terasa sempit ketika buku bertambah. Maka menata rak, bagi kami, bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan penyesuaian terus-menerus terhadap kenyataan yang bergerak.
Yang membuat kami senang mengerjakannya adalah karena penyusunan rak ini, pada akhirnya, memudahkan kami sendiri. Ketika rak disusun dengan logika yang jernih, kami lebih mudah merawatnya, lebih mudah menemukan tempat bagi buku baru, lebih mudah menuntun pengunjung menemukan yang mereka cari. Susunan yang dipikirkan baik-baik bekerja diam-diam, membuat pekerjaan sehari-hari terasa ringan.
Barangkali itulah pelajaran kecil dari rak-rak buku ini, yang sebenarnya sama dengan pelajaran dari merancang apa pun: bahwa yang tampak sekadar urusan menaruh barang ternyata menyimpan pertanyaan yang lebih dalam tentang bagaimana manusia melihat, bergerak, dan merasa betah. Sebuah rak buku, kalau dipikirkan dengan sungguh-sungguh, bukan cuma tempat menyimpan buku. Ia bagian dari bagaimana sebuah ruang menyambut orang yang masuk ke dalamnya.
(rs, ty, ir, fm)





