Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia

Dari dek sebuah kapal yang merapat ke dermaga yang jauh, kampung itu tampak berdiri di atas laut. Rumah-rumah panggung, jalan setapak kayu ulin yang membentang ke daratan, kehidupan yang sudah lama sekali tahu cara tinggal di atas air. Pemandangan semacam itulah yang ditempuh berhari-hari oleh para pengarsip dalam ekspedisi-ekspedisi mereka. Dan pemandangan semacam itu pula yang paling dulu pudar setiap kali negeri ini melewati satu lagi gelombang modernisasi, bersama pengetahuan yang membangunnya, cara orang-orang kepulauan ini mendirikan rumahnya sendiri, jauh sebelum kata “modern” datang.

Para pengarsip itu tergabung dalam kontribusinya bersama Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia, kawan-kawan yang menekuni arsip arsitektur vernakular dan tradisional. Bersama merekalah kami merawat satu kerja sama yang kami jaga sungguh-sungguh di perpustakaan ini. Mereka yang berjalan jauh, menempuh ekspedisi ke pelosok-pelosok untuk mengenal Indonesia dari rumah-rumahnya, mendokumentasikan apa yang masih berdiri dan mendengarkan apa yang masih diingat, sebelum keduanya hilang.

Arsip-arsip itu terkumpul dari banyak tangan, para peneliti, akademisi, praktisi, sampai anak-anak muda yang ingin meneruskan semangat penelitian yang mengakar di lapangan. Dan yang mereka jaga bukan sekadar rupa bangunannya, melainkan kebijaksanaan di baliknya, mengapa sebuah fungsi diletakkan di situ, mengapa sebuah sambungan tektonika dibuat begitu, pengetahuan yang hanya bisa dipahami dengan berjalan, dalam perjalanan mengenal Indonesia.

Bentuk kerja samanya sederhana tetapi terus hidup. Arsip-arsip itu didokumentasikan dan dibagikan lewat rekaman yang bisa ditonton siapa saja, supaya pengetahuan yang dulu tersimpan jauh kini bisa sampai ke layar mana pun. Telaah disusun bersama, karena arsip yang hanya disimpan belum tentu dimengerti; ia perlu dibaca ulang, dipertanyakan, didiskusikan.

Sebagian di antaranya kemudian diterbitkan menjadi buku. Dan di ruang-ruang kami, seminar serta ekskursi digelar, tempat orang duduk bersama membicarakan rumah-rumah yang dirancang bukan dengan teori, melainkan dengan warisan.

Keterbukaan itu kami jaga dengan satu adab yang sederhana. Arsip-arsip ini terbuka untuk dipelajari siapa saja, tetapi terbuka bukan berarti tak bertuan. Di balik setiap rekaman dan telaah ada tangan-tangan yang berjalan jauh untuk mengumpulkannya, dan menghormati mereka semudah menyebutkan dari mana pengetahuan itu berasal. Prinsip kami tidak pernah membatasi orang belajar; kami justru ingin ilmu ini menyebar sejauh-jauhnya.

Yang kami minta hanyalah penggunaan yang etis, atribusi yang layak bagi para peneliti dan pengarsipnya, serta izin ketika materi hendak dipakai lebih jauh daripada sekadar belajar. Karena melindungi arsip, bagi kami, sesungguhnya adalah cara melindungi orang-orang yang mengumpulkannya, supaya mereka yang berjalan jauh tidak kehilangan namanya di tengah jalan.

Tetapi dari semua bentuk itu, yang paling kami sayangi adalah satu kata kerja, “menyambungkan”. Sebuah arsip yang tersimpan rapi tetapi tidak pernah dibuka oleh generasi berikutnya sesungguhnya sudah setengah hilang. Maka di ruang-ruang diskusi itulah sambungan terjadi. Yang lebih tua menitipkan apa yang mereka jaga, yang lebih muda menerima sambil bertanya, dan pengetahuan berpindah tangan dalam keadaan hidup, bukan sebagai benda mati yang diwariskan diam-diam.

Dari kerja sama ini kami juga belajar membaca ulang kata “modern” itu sendiri. Mengenal Indonesia lewat sejarah arsitekturnya berarti menyadari bahwa setiap generasi pembangun di negeri ini pun pernah menjadi modern pada zamannya, dan arsitektur vernakular bukanlah masa lalu yang beku. Ia kecerdasan yang menjawab iklim, bahan, dan cara hidup dengan apa yang tersedia. Justru banyak dari jawaban-jawaban lama itu yang hari ini sedang dicari-cari kembali oleh dunia, dengan nama-nama yang lebih baru.

Barangkali ada yang bertanya, mengapa sebuah perpustakaan yang tumbuh dari praktik merasa perlu mengurusi arsip masa lalu. Jawabannya justru datang dari praktik itu sendiri, orang membangun hari ini selalu dengan pengetahuan kemarin. Kalau sambungannya putus, kita tidak berhenti membangun; kita hanya membangun tanpa ingatan.

Lalu kenapa harus dikerjakan bersama-sama? Salah seorang penggerak jaringan ini pernah mengibaratkannya dengan cara yang tidak kami lupakan, seperti lembar-lembar keju swiss. Setiap lembar punya lubangnya sendiri, tetapi ketika lembar-lembar itu ditumpuk, lubang yang satu tertutup oleh lembar yang lain.

Tidak ada satu pun lembaga, peneliti, atau perpustakaan yang lengkap sendirian; kami semua berlubang di tempat yang berbeda-beda. Justru karena itulah kerja ini hanya masuk akal kalau dikerjakan berlapis-lapis, saling menutup lubang satu sama lain.

Maka yang kami jaga bersama, sesungguhnya, bukanlah dokumen-dokumen tua. Yang kami jaga adalah sambungannya. Supaya generasi berikutnya, ketika ingin mengenal negerinya lewat rumah-rumahnya, tidak harus memulai dari nol. Supaya tidak ada anak di kepulauan ini yang tumbuh menjadi orang asing di rumahnya sendiri.

Dan kalau ditanya seperti apa rupa mimpi ini pada akhirnya, jawaban kami sederhana. Ia bukan satu api besar yang menyala dari kota besar. Ia lilin-lilin kecil yang dinyalakan di seluruh penjuru negeri, di tangan siapa pun yang mau ikut menjaga sambungan itu, satu demi satu, sampai negeri ini terang oleh ingatannya sendiri.

(rs, hs, ir)

Teman-teman dapat menyimak cerita-cerita ekspedisi dan penelusuran arsitektur vernakular dalam seri kelas dan buku Perjalanan Mengenal Indonesia:

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading