Pekerjaan Rumah dari Anak-Anak

Di perpustakaan ini ada satu sudut yang bernama Rumah Buku Anak. Ia tidak lahir dari rencana besar. Ia bermula dari sebuah keranjang berisi majalah National Geographic yang kami bagikan untuk warga sekitar, dan dari keranjang sederhana itu, perlahan-lahan, tumbuhlah sebuah rumah kecil untuk buku-buku anak.

Photograph by @luil_mn

Anak-anak pun datang. Dan sudut itu menjadi hidup dengan cara yang tidak kami bayangkan, ramai, riuh, penuh energi. Sampai pada satu titik, ia menjadi terlalu hidup. Buku-buku diterbangkan. Dilempar dari satu tangan ke tangan lain, jatuh, terinjak, tidak pada tempatnya. Dan kami harus jujur tentang apa yang kami rasakan saat itu, kami sedih. Buku-buku ini didapatkan dengan susah payah, satu demi satu, dan melihatnya beterbangan di udara membuat dada kami sesak.

Hampir saja kami mengambil kesimpulan yang paling mudah, anak-anak ini tidak menghormati buku.

Tetapi kemudian kami teringat siapa kami. Kami orang-orang yang bekerja dengan ruang, dan aturan pertama dalam pekerjaan kami berbunyi kalau orang-orang tampak salah memakai sebuah ruang, periksa dulu ruangnya sebelum menyalahkan orangnya. Maka kami melihat lagi, lebih pelan kali ini. Yang sebenarnya ada di depan kami bukanlah anak-anak yang kurang ajar, melainkan energi yang sangat besar di dalam ruangan yang sangat kecil.

Anak-anak belajar dengan bermain, itu bukan kekurangan mereka, itu cara mereka. Yang belum berhasil bukan mereka menghormati perpustakaan, melainkan perpustakaan menghormati cara mereka belajar.

Dengan melempar buku, sesungguhnya mereka sedang menyampaikan masukan desain dengan satu-satunya bahasa yang mereka kuasai. Dan sebagai perancang, tugas kami bukan tersinggung, melainkan mendengarkan.

Photograph by @luil_mn, @aryophramudhito 

Maka untuk sementara, beberapa waktu lalu Rumah Buku Anak sempat kami tutup. Ini bukan hukuman untuk anak-anak. Ini pekerjaan rumah untuk kami, merancang ulang sudut itu supaya ruang yang kecil ini bisa menampung rasa main-main mereka, bukan melawannya.

Ruang yang tidak besar bukanlah alasan, justru itulah soal desainnya yang sebenarnya. Kami ingin ia kembali dibuka sebagai tempat yang biarpun kecil namun memuaskan, tempat energi sebesar itu punya jalannya sendiri, dan buku-buku yang didapat dengan susah payah itu bisa dicintai dengan cara yang tidak membuat siapa pun sesak dada.

Dari sebuah keranjang majalah ia dulu lahir. Sekarang ia sedang berbenah, bukan karena gagal, melainkan karena kami akhirnya mendengar apa yang selama ini anak-anak coba katakan. Kini, pintunya telah kembali dibuka, kami berharap yang masuk bukan hanya anak-anak yang sama, melainkan juga kami yang sudah lebih mengerti.

(rs, ty, ir, fm)

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading