Beberapa minggu yang lalu, Universitas Widya Mataram memberi kami sebuah hadiah yang tidak biasa. Bukan buku, bukan barang, melainkan sebatang pohon sawo kecik, tingginya kira-kira satu meter. Sebuah kebaikan yang sederhana, yang datang dalam bentuk yang masih harus tumbuh.
Sawo kecik bukan pohon yang megah. Ia pohon halaman dan pohon desa. Buahnya kecil, hanya sebesar kelereng besar, manis dengan sedikit sepat, berwarna merah kecokelatan saat matang. Bijinya yang licin dulu dipakai anak-anak untuk bermain bekel dan mengisi lubang congklak. Dan hari ini, pohon yang dulu akrab di pekarangan-pekarangan itu justru mulai langka, karena semakin jarang orang mau menanam sesuatu yang tumbuhnya tidak buru-buru.

Namanya sendiri adalah sebuah doa. Orang Jawa mendengar “sawo kecik” sebagai “sarwo becik”, serba baik, dan menanamnya di halaman atau dekat gerbang rumah sebagai harapan, semoga siapa pun yang keluar dan masuk rumah ini serba baik, niatnya maupun perbuatannya. Kecik juga berarti kecil. Maka dalam satu nama pohon itu, dua kata yang jarang disandingkan justru bertemu, kecil, dan baik.
Dari pohon ini kami belajar beberapa hal yang tidak diajarkan di bangku mana pun. Ia tumbuh pelan, dan justru karena pelan itulah kayunya menjadi salah satu yang paling keras dan awet, dipakai orang untuk tiang bangunan, ukiran, bahkan badan biola dan rebana. Ia tidak rewel, ia sanggup hidup di tanah yang kurang subur, bahkan dikenal sebagai pohon perintis yang memulihkan lahan-lahan kritis.
Barangkali karena semua itu, orang Jawa menjadikannya lambang kesabaran dan keteguhan hati yang pelan, yang tidak menuntut, yang menguat diam-diam dari dalam.
Pohon pemberian itu kini sudah kami tanam. Hari ini ia masih setinggi itu, satu meter, belum meneduhkan siapa-siapa. Orang yang berkunjung mungkin melewatinya tanpa menyadari apa-apa, hanya sebatang pohon muda yang berdiri diam di antara tanaman lain.



Tetapi kami sudah mengenal wataknya, dan karena itu kami tahu bagaimana cerita ini akan berjalan. Ia akan tumbuh pelan, tahun demi tahun, tanpa drama, tanpa minta diperhatikan. Dan pada suatu hari yang masih jauh, ia akan menjulang dan memayungi perpustakaan ini.
Dan di situlah kami menaruh harapan yang sama dengan namanya, bahwa yang kecil bisa serba baik. Rumah ini pun tidak pernah tergesa untuk menjadi besar. Ia hanya ingin, seperti sawo kecik, tumbuh pelan, tidak rewel pada keadaan, menguat di dalam, dan pada waktunya memayungi siapa pun yang datang. Semoga makna yang kecil itu terus melekat pada rumah ini.
Kebaikan yang ditanam memang begitu cara kerjanya. Mula-mula ia setinggi satu meter. Bertahun-tahun akan tampak tidak terjadi apa-apa. Lalu pada suatu hari nanti, seseorang yang barangkali belum pernah kami temui akan duduk membaca di bawahnya, mendongak, dan bernaung di bawah sebuah kebaikan yang ditanam jauh sebelum ia datang.
(rs, hs, ty, ir)
