Curation: Do and Don’t

Manakah yang seharusnya lebih dulu ada: konsep atau desain? Apakah benar hubungan antara konsep dan desain itu seperti ‘telur dan ayam’? Jawabannya bergantung pada persepsi masing-masing. Mengapa persepsi? Karena tidak ada aturan-aturan baku yang secara de jure bisa mengikat kemungkinan-kemungkinannya. Mungkinkah konsep dibuat setelah desain selesai digambar –atau bahkan lebih radikalnya– karya tersebut selesai dibangun? Secara de facto bisa saja. Namun dalam persepsi yang lebih sempit, hal ini kemudian berlanjut kepada pertanyaan seputar esensi dari dibuatnya konsep tersebut. Apakah kemudian konsep tersebut memiliki fungsi pengayaan makna dalam proses pengkaryaan obyek arsitekturnya? Ataukah kemudian ia hanya menjadi media justifikasi yang sebenarnya tidak memiliki koneksi apapun dengan proses pengkaryaan obyek tersebut? Apapun itu, sekali lagi secara de jure, keduanya tidak ada yang salah, juga tidak ada yang benar.

Setali tiga uang, manakah yang seharusnya lebih dulu ada: catatan kurasi atau obyek kurasi? Mungkinkah catatan kurasi dibuat sebelum adanya obyek kurasi? Jawabannya pun sama, semua tergantung pada persepsi yang dipilih. Kelas ini akan mediskusikan topik kurasi –salah satu ranah ‘paling abu-abu’ di dunia ‘arsitektur pinggiran’ mas kini– yang dalam persepsi nara sumber, praktiknya terasa kian mengkhawatirkan. Sebuah konsekuensi yang terjadi ketika aktifitas kurasi mulai jamak diobral sebagai prosesi yang minim makna. Semakin menjauh dari fungsinya sebagai media observasi karya dan atau proses pengkaryaannya; untuk sekedar menjadi justifikasi praktik-praktik komodifikasi eksibisi.


Kuliah tanggal 26.06.2020, diisi oleh Eka Swadiansa, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana


TESTIMONI PESERTA

Padat & kompleks begitu banyak yang harus diserap… Sesi obrolan selalu menjadi favorit krn disitu proses pencernaan terjadi…
Quartanti D

Kurasi adalah catatan bersama dalam perjalanan untuk menemukan jati diri yang berdasarkan objektivitas kolektivitas yang dilakukan secara berkesinambungan. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri.
Sandra Eka Febrina

Materi mudah diterima, cukup panjang, intens. Seperti harapan pada awal mendaftar, it’s getting better. As always, penutup dengan open-ended ini membuat saya semakin tidak tahu apa-apa sekaligus penasaran untuk mencari tahu apa yang saya dapatkan dari kelas ini. Perjalanan masih panjang, kelas-kelas ini menjadi kompasnya.
Muhammad Fadhil Ardian

Materi yang disampaikan sangat menarik, pembahasan yang cukup ‘berat’ tapi mampu dibahas dengan sangat apik dan tidak membosankan, serta pesan mampu tersampaikan dengan baik. Waktu yang disiapkan sebenarnya sdh cukup panjang, tapi masih saja terasa begitu cepat..
Weko Indira Romantiaulia

Materi menarik dan dilengkapi contoh-contoh praktis. Namun memang materi ini cukup baru untuk saya dan butuh waktu untuk mencerna lebih dalam lagi.
George Marvin

Setelah mengikuti materi Kurasi yang disampaikan membuat mata saya terbuka dan keinginan saya untuk memperdalam arsitektur semakin kuat.
Yanuarra H

Berikut ini adalah transkrip diskusi yang terjadi pada saat berlangsungnya kelas wacana Curration pada 26.06.2020, diisi oleh Eka Swadiansa, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana

Eka Swadiansa

Eka Swadiansa adalah principal dari Office of Strategic Architecture (OSA), founding member Global University for Sustainability (GU) dan kurator SPIRIT_45/47/55. Sebagai kurator; ia telah mengkurasi roundtable arsitektur di the Rise of Asia 2018 (Universite Paris 1 Pantheon Sorbonne & Universite Le Havre du Normandie), SPIRIT_45 (Sinar Fontaine Bartholdi, Lyon & ENSA Paris La Villette, 2018) dan SPIRIT_47 (Lingnan University Hong Kong, 2019) lecture, conferece and exhibition series.

Beberapa kelas wacana Seven Do and Don’t lainnya bisa diakses di bawah ini :

Philosophy: Do and Don’t

“Cogito Ergo Sum”—Rene Descartes ‘Jargon’ yang selalu membayangi pembahasan filsafat. Tapi apakah keberadaan seorang manusia hanya muncul saat dia berpikir? Tolak ukur manusia saat dia menggunakan otaknya? Bagaimana dengan organ lain seperti perasaan? Apakah otak rasional lebih tinggi dari pada perasaan hati? Sejumlah pertanyaan dapat dilontarkan dari sebuah kalimat pendek Descartes, dan itulah esensi dariContinue reading “Philosophy: Do and Don’t”

Writing: Do and Don’t

The profession of architecture has become representative of the society we live in. Arguably the most public art that affects human psychology most profoundly, architecture also happens to be the least discussed. Everyone does care about architecture, but the lack of a common language to talk about the built environment renders the profession as lessContinue reading “Writing: Do and Don’t”

Storytelling: Do and Don’t

Cerita adalah bagian penting dari kemanusiaan kita. Harari meyakini bahwa ciri terpenting manusia adalah bahasa dan kemampuan bahasa yang terpenting adalah untuk bercerita. Dengan bahasa kita bisa menyebut segala sesuatu di sekitar kita, tapi dengan bahasa juga kita bisa mengkomunikasikan bahkan meyakinkan orang lain tentang hal-hal yang tak serta merta dapat kita saksikan. Dengan berbagiContinue reading “Storytelling: Do and Don’t”

Theory: Do and Don’t

Pernyataan:Teori adalah sebuah aktivitas memandang. Coba lanjutkan kalimat ini:Pertemuan ini adalah pertemuan mengenai … Jawaban:a. Teori Arsitektur,b. Teori pada Arsitektur,c. Teori bagi Arsitektur,d. Teori dari Arsitektur,e. Teori dan Arsitektur,f. Di atas semua benar,g. Di atas semua tidak benar,h. Di atas, sebagian yang benar.i. Saya punya teori saya sendiri,j. Pernyataan awal adalah salah, Saya punya pernyataanContinue reading “Theory: Do and Don’t”

History: Do and Don’t

Profesi di bidang (yang kita gadang-gadang sebagai) “kreatif” punya konotasi selalu berorientasi ke masa depan seakan tidak relevan dengan masa lalu. Profesi kreatif selalu diberi tuntutan untuk terampil dalam memanfaatkan teknologi terkini dan tanggap terhadap budaya kiwari, dan selalu dalam kodrat untuk mengejar apapun yang ada di depan. Namun di sisi lain, profesi kreatif (khususnyaContinue reading “History: Do and Don’t”

Criticism: Do and Don’t

Apakah kritisisme itu? Apakah kegunaannya dalam arsitektur? Bagaimana kita melakukan kritik yang baik? Adakah parameter yang jelas untuk menilai sesuatu? Kita kerap salah dalam memahami kritisisme. “Mengkritik” kerap kita anggap sebagai “menyerang,” “mencela,” atau “menghantam” lawan debat kita. Kesalah pahaman ini perlu diluruskan. Kritisisme adalah salah satu unsur dari tritunggal sejarah—teori—kritisisme. Kritisisme, menurut salah satuContinue reading “Criticism: Do and Don’t”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s