Storytelling: Do and Don’t

Cerita adalah bagian penting dari kemanusiaan kita. Harari meyakini bahwa ciri terpenting manusia adalah bahasa dan kemampuan bahasa yang terpenting adalah untuk bercerita. Dengan bahasa kita bisa menyebut segala sesuatu di sekitar kita, tapi dengan bahasa juga kita bisa mengkomunikasikan bahkan meyakinkan orang lain tentang hal-hal yang tak serta merta dapat kita saksikan.

Dengan berbagi cerita maka manusia dapat menggalang solidaritas, menjalin kerjasama, serta membangun cita-cita dan idealita bersama. Budaya, bangsa dan agama adalah di antara gagasan-gagasan abstrak yang terbentuk karena kemampuan bercerita. Arsitektur menjadi perlu dibahasakan sebagai cerita ketika dia melampaui batas-batas kesehariannya. Suatu rumah bisa membuat penghuninya kerasan, tanpa perlu diceritakan kepada orang yang memang sehari-hari di situ. Tapi ketika penghuni ingin meyakinkan tentang perasaan kerasan itu kepada mereka yang tak pernah melihat dan menginap di dalamnya maka cerita diperlukan.

Sejumlah moda dalam membangun cerita arsitektur antara lain: a) figuratif, memberikan gambaran wujud; b) sensasional, memberikan gambaran perasaan; c) fiksional, memberikan gambaran imajinatif; atau d) representasional, memberikan gambaran tentang sesuatu selain rumah atau objek itu sendiri.

Arsitektur dapat menginspirasi cerita, namun cerita juga dapat menginspirasi arsitektur. Relasi timbal balik ini lah yang memungkinkan “cerita arsitektur” menjadi kaya dan beragam. Namun demikian, arsitektur tetap bukanlah entitas linguistik naratif karena arsitektur memiliki alur yang jauh lebih kompleks ketimbang cerita, serta arsitektur melibatkan pengalaman-pengalaman non-verbal yang tak sepenuhnya dapat diceritakan.

Menceritakan Arsitektur & Mengarsitekturkan Cerita

“Those who tell the stories rule society”
—Plato


Kuliah tanggal 03.07.2020, diisi oleh Revianto Budi Santosa, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana


Testimoni Peserta

Materi disampaikan dengan cara yang menyenangkan namun tidak mengurangi esensi diskusi yang ingin disampaikan. moderator juga bisa membawa diskusi dengan baik sehingga diskusi sejalan dengan tema.
Rakhmi Fitriani

Menarik dan pembicara banyak pengalaman yang menarik dan bisa membagi ilmu dengan santai, sehingga pendengar pun mudah menyimaknya.
Mieke Choandi

Mengalir, cocok dengan temanya, bercerita.. dan seperti kuliah sebelumnya, memang open ending.. bukan mengakhiri dengan jawaban, tapi memperluas aternatif jawaban.. kendala ganguan sinyal ditutupi tanggapan kocak spontan dari pak revi.. dan jawaban beliau bisa lompat-lompat dimensinya.. sehingga gak nemu kekakuan saat mengulas..
Nugroho Ifadianto

Acaranya santai dan setiap materi selalu berbobot, terima kasih Omah Library..
Yunita Kesuma

Cara bercerita yang pas untuk menceritakan cara bercerita. Wawasan dan contoh terasa dekat dengan kita bahkan yang mungkin tidak tahu dengan contoh tersebut.
Affi Khresna

Bagus, fresh, sesi Pak Revi tidak membosankan!
Marchelia Gupita Sari

Sangat menarik… lucu menggelitik.. tapi sangat berisi.
Diana Lisa

Materi tentang apa itu story bagaimana dan tentang story yang ada memberikan gamabaran yang jelas tentang story itu tersebut. materi yang di sampaikan menyenangkan tanpa mengurangi cara berfikirnya.
Muhammad Syauqi

Seruu banget, jadi punya perspektif baru ttg storytelling, sebelumnya agak blm kebayang 🙂
Ajani


Berikut ini adalah transkrip diskusi yang terjadi pada saat berlangsungnya kelas wacana Storytelling pada 03.07.2020, diisi oleh Revianto B. Santosa, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana


Speaker

Revianto B Santosa

Revianto Budi Santosa bercita-cita menjadi dalang sebelum akhirnya mempelajari arsitektur di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas McGill MontrÈal, dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Sejak tahun 1992 mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia. Bapak dua anak ini menulis buku Kotagede: Life between Walls; Trusmi: Berarsitektur yang Tak Abadi; Omah: Membaca Makna Rumah Jawa; dan Kudus: Sepenggal Yerusalem di Tanah Jawa. Saat ini sedang menyiapkan buku Spirituality in Space: The Architectural Legacy of the Wali in Java.


Beberapa kelas wacana Seven Do and Don’t lainnya bisa diakses di bawah ini :

Philosophy: Do and Don’t

“Cogito Ergo Sum”—Rene Descartes ‘Jargon’ yang selalu membayangi pembahasan filsafat. Tapi apakah keberadaan seorang manusia hanya muncul saat dia berpikir? Tolak ukur manusia saat dia menggunakan otaknya? Bagaimana dengan organ lain seperti perasaan? Apakah otak rasional lebih tinggi dari pada perasaan hati? Sejumlah pertanyaan dapat dilontarkan dari sebuah kalimat pendek Descartes, dan itulah esensi dari filsafat. Dalam teori filsafat terdapat empat nilai yang melandasinya, yaitu nilai otologik jika berbicara tentang obyek; nilai epistemologi jika berbicara tentang metode; nilai estetika jika berbincang tentang sistem; dan nilai etik jika berbicara tentang kebenaran yang dicapai. Dari sini nampaknya filsafat adalah sebuah pengetahuan yang…

Keep reading

Writing: Do and Don’t

The profession of architecture has become representative of the society we live in. Arguably the most public art that affects human psychology most profoundly, architecture also happens to be the least discussed. Everyone does care about architecture, but the lack of a common language to talk about the built environment renders the profession as less understood. Over the years, architecture-design writing has emerged as a language, which helps to interpret, identify, critique and celebrate the built environment, and provide a vision to create demand for better buildings, leading to better societies and culminating in better living. In this case, critical…

Keep reading

Curation: Do and Don’t

Manakah yang seharusnya lebih dulu ada: konsep atau desain? Apakah benar hubungan antara konsep dan desain itu seperti ‘telur dan ayam’? Jawabannya bergantung pada persepsi masing-masing. Mengapa persepsi? Karena tidak ada aturan-aturan baku yang secara de jure bisa mengikat kemungkinan-kemungkinannya. Mungkinkah konsep dibuat setelah desain selesai digambar –atau bahkan lebih radikalnya– karya tersebut selesai dibangun? Secara de facto bisa saja. Namun dalam persepsi yang lebih sempit, hal ini kemudian berlanjut kepada pertanyaan seputar esensi dari dibuatnya konsep tersebut. Apakah kemudian konsep tersebut memiliki fungsi pengayaan makna dalam proses pengkaryaan obyek arsitekturnya? Ataukah kemudian ia hanya menjadi media justifikasi yang sebenarnya…

Keep reading

Theory: Do and Don’t

Pernyataan:Teori adalah sebuah aktivitas memandang. Coba lanjutkan kalimat ini:Pertemuan ini adalah pertemuan mengenai … Jawaban:a. Teori Arsitektur,b. Teori pada Arsitektur,c. Teori bagi Arsitektur,d. Teori dari Arsitektur,e. Teori dan Arsitektur,f. Di atas semua benar,g. Di atas semua tidak benar,h. Di atas, sebagian yang benar.i. Saya punya teori saya sendiri,j. Pernyataan awal adalah salah, Saya punya pernyataan yang lain.k. Multiple-choice koq sampai k ??? Ngaco !!!?!?!!! Jawaban Anda akan didiskusikan pada pertemuan ini. Hal-hal pokok mengenai arsitektur akan dibenturkan dengan sudut pandang-sudut pandang sebuah entitas yang diberi nama t.e.o.r.i , sebuah aktivitas memandang, yang melahirkan pengetahuan atau sekedar cara kita merasakan keindahan.…

Keep reading

History: Do and Don’t

Profesi di bidang (yang kita gadang-gadang sebagai) “kreatif” punya konotasi selalu berorientasi ke masa depan seakan tidak relevan dengan masa lalu. Profesi kreatif selalu diberi tuntutan untuk terampil dalam memanfaatkan teknologi terkini dan tanggap terhadap budaya kiwari, dan selalu dalam kodrat untuk mengejar apapun yang ada di depan. Namun di sisi lain, profesi kreatif (khususnya di Indonesia) juga seringkali dibebankan untuk tetap bertolak dari tradisi dan kebiasaan. Tradisi dan kebiasaan ini meliputi berbagai hal yang dianggap lokal, berakar, endemik, atau sesederhana kontra terhadap apa yang global dan industrial. Beberapa dari bentukan tradisi dan kebiasaan ini akhirnya dipatri menjadi model-model yang…

Keep reading

Criticism: Do and Don’t

Apakah kritisisme itu? Apakah kegunaannya dalam arsitektur? Bagaimana kita melakukan kritik yang baik? Adakah parameter yang jelas untuk menilai sesuatu? Kita kerap salah dalam memahami kritisisme. “Mengkritik” kerap kita anggap sebagai “menyerang,” “mencela,” atau “menghantam” lawan debat kita. Kesalah pahaman ini perlu diluruskan. Kritisisme adalah salah satu unsur dari tritunggal sejarah—teori—kritisisme. Kritisisme, menurut salah satu pengertian yang ditawarkan oleh Kamus Cambridge, adalah “a careful discussion of something in order to judge its quality or explain its meaning.” Melalui kritisisme kita dapat membahas karya-karya arsitektur secara diskursif. Pembahasan diskursif semacam itu akan sangat bermanfaat dalam pengembangan arsitektur sebagai sebuah disiplin. Pada…

Keep reading

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s