History: Do and Don’t

Profesi di bidang (yang kita gadang-gadang sebagai) “kreatif” punya konotasi selalu berorientasi ke masa depan seakan tidak relevan dengan masa lalu. Profesi kreatif selalu diberi tuntutan untuk terampil dalam memanfaatkan teknologi terkini dan tanggap terhadap budaya kiwari, dan selalu dalam kodrat untuk mengejar apapun yang ada di depan. Namun di sisi lain, profesi kreatif (khususnya di Indonesia) juga seringkali dibebankan untuk tetap bertolak dari tradisi dan kebiasaan. Tradisi dan kebiasaan ini meliputi berbagai hal yang dianggap lokal, berakar, endemik, atau sesederhana kontra terhadap apa yang global dan industrial. Beberapa dari bentukan tradisi dan kebiasaan ini akhirnya dipatri menjadi model-model yang harus ditiru, direplikasi, dan diadaptasi. Bentuk-bentuk yang dianggap sah, pantas, representatif, relevan terhadap identitas lokal maupun nasional bahkan diperkuat dengan produk-produk hukum – yang memaksa, mewajibkan.

Ini adalah salah satu runutan dari konsekuensi sempitnya pemahaman mengenai tradisi dan sejarah. Pemahaman yang sempit yang mengakibatkan pendangkalan pemanfaatan tradisi dan sejarah itu sendiri. Alih-alih memandangnya sebagai khazanah, kekayaan pengetahuan dari tradisi, peristiwa, artefak tertapis dan menjadi simbol yang ajeg, mengerdilkan kreatifitas kita dalam membaca dan menginterpretasi fenomena masa lalu dan artefak budaya.

Paparan ini akan mencoba mendiskusikan definisi dan peran “sejarah arsitektur” bagi para arsitek dan akademisi arsitektur di Indonesia, dan bagaimana sempitnya definisi itu telah menyebabkan kekeliruan epistemologis di dalam arsitektur sebagai sebuah disiplin dan profesi kreatif.


Kuliah tanggal 12.06.2020, diisi oleh Setiadi Sopandi, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana


Testimoni Peserta

Gilakkk. Sangat mengenyangkan untuk materinya sendiri dan narasumbernya pula sangat kompeten untuk materi ini. Tidak hanya memandang arsitektur dari satu displin ilmu tetapi multi disiplin yang membuatnya terasa sangat berhubungan satu dengan yang lain dan bisa lebih membahasakannya dengan baik dan memiliki konteksnya. Saya merasa sangat puas dan ilmu yyang didapatkan juga sangat bermanfaat sekali bagi saya.
I Wayan Dedek Surya Mahadipa

Good. Salah cara pandang terhadap sejarah arsitektur di Indonesia, mungkin memandang sejarah seperti memandang ‘mantan’, penuh luka dan kenangan terhadap kolonial Belanda :))
Aria Zabdi

Oke. Menarik. Selalu suka sesi diskusi karena hal-hal penting muncul terbahas di sesi itu.
M Iqbal

Sejarah arsitektur perlu diketahui, sehingga kita bisa membedakan dengan sejarah-sejarah yang lain, dan bisa mengambil hal-hal penting dan konstektual dari sejarah itu serta mengembangkan dengan menyesuaian ke konteks saat ini dan masa yang akan datang.
Yulsi Munir

Materi dibawakan dengan lugas dan gamblang. Sangat menarik dan memberi pencerahan mengenai sejarah arsitektur.
Ingrid D

Materi yang disampaikan memberikan pengetahuan dan perspektif yang berbeda meskipun saya jarang membaca literature sejarah dan tidak mengerti dengan beberapa istilah yang disampaikan namun cara penyampaian membuat apa yang disampaikan mudah dipahami dan menarik.
Ersalina

Berikut ini adalah transkrip diskusi yang terjadi pada saat berlangsungnya kelas wacana History pada 12.06.2020, diisi oleh Setiadi Sopandi, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana

Speaker

Setiadi Sopandi

Setiadi Sopandi saat ini aktif dalam riset, penerbitan, kurasi, dan pengarsipan sejak tahun 2007, dengan ketertarikan kepada modernisme, warisan arsitektur modern, dan duskursus seni dan arsitektur kontemporer di Indonesia dan Asia Tenggara – berafiliasi dengan modern Asian Architecture Network (mAAN) dan baru-baru ini dengan Proyek mASEANa. Ia adalah kurator dari Arsip F. Silaban, Bogor, dan co-founder, anggota dewan kurator, dan pengurus arsitekturindonesia.org, repositori online pertama yang didedikasikan untuk pengarsipan arsitektur di Indonesia.


Beberapa kelas wacana Seven Do and Don’t lainnya bisa diakses di bawah ini :

Philosophy: Do and Don’t

“Cogito Ergo Sum”—Rene Descartes ‘Jargon’ yang selalu membayangi pembahasan filsafat. Tapi apakah keberadaan seorang manusia hanya muncul saat dia berpikir? Tolak ukur manusia saat dia menggunakan otaknya? Bagaimana dengan organ lain seperti perasaan? Apakah otak rasional lebih tinggi dari pada perasaan hati? Sejumlah pertanyaan dapat dilontarkan dari sebuah kalimat pendek Descartes, dan itulah esensi dariContinue reading “Philosophy: Do and Don’t”

Writing: Do and Don’t

The profession of architecture has become representative of the society we live in. Arguably the most public art that affects human psychology most profoundly, architecture also happens to be the least discussed. Everyone does care about architecture, but the lack of a common language to talk about the built environment renders the profession as lessContinue reading “Writing: Do and Don’t”

Storytelling: Do and Don’t

Cerita adalah bagian penting dari kemanusiaan kita. Harari meyakini bahwa ciri terpenting manusia adalah bahasa dan kemampuan bahasa yang terpenting adalah untuk bercerita. Dengan bahasa kita bisa menyebut segala sesuatu di sekitar kita, tapi dengan bahasa juga kita bisa mengkomunikasikan bahkan meyakinkan orang lain tentang hal-hal yang tak serta merta dapat kita saksikan. Dengan berbagiContinue reading “Storytelling: Do and Don’t”

Curation: Do and Don’t

Manakah yang seharusnya lebih dulu ada: konsep atau desain? Apakah benar hubungan antara konsep dan desain itu seperti ‘telur dan ayam’? Jawabannya bergantung pada persepsi masing-masing. Mengapa persepsi? Karena tidak ada aturan-aturan baku yang secara de jure bisa mengikat kemungkinan-kemungkinannya. Mungkinkah konsep dibuat setelah desain selesai digambar –atau bahkan lebih radikalnya– karya tersebut selesai dibangun?Continue reading “Curation: Do and Don’t”

Theory: Do and Don’t

Pernyataan:Teori adalah sebuah aktivitas memandang. Coba lanjutkan kalimat ini:Pertemuan ini adalah pertemuan mengenai … Jawaban:a. Teori Arsitektur,b. Teori pada Arsitektur,c. Teori bagi Arsitektur,d. Teori dari Arsitektur,e. Teori dan Arsitektur,f. Di atas semua benar,g. Di atas semua tidak benar,h. Di atas, sebagian yang benar.i. Saya punya teori saya sendiri,j. Pernyataan awal adalah salah, Saya punya pernyataanContinue reading “Theory: Do and Don’t”

Criticism: Do and Don’t

Apakah kritisisme itu? Apakah kegunaannya dalam arsitektur? Bagaimana kita melakukan kritik yang baik? Adakah parameter yang jelas untuk menilai sesuatu? Kita kerap salah dalam memahami kritisisme. “Mengkritik” kerap kita anggap sebagai “menyerang,” “mencela,” atau “menghantam” lawan debat kita. Kesalah pahaman ini perlu diluruskan. Kritisisme adalah salah satu unsur dari tritunggal sejarah—teori—kritisisme. Kritisisme, menurut salah satuContinue reading “Criticism: Do and Don’t”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s