Yang jauh mengenal kami dari layar, yang dekat mengenal kami dari sapaan, dan pekan ini keduanya masuk lewat pintu yang sama. Dari dua arah itu, kami belajar pola bertetangga yang sederhana, lebih kenal, lebih dekat. Kenal bisa dirangkai dari mana saja, kadang dari Instagram oleh yang jauh, kadang dari sapaan pagi oleh yang dekat, dan tetangga yang jarang bertemu pun ternyata bisa langsung bertegur sapa secara substansial. Tetapi, semua kenal itu baru menjadi utuh ketika orang melangkah masuk lewat pintu. Sisa tulisan ini hanyalah dua bukti dari pola tersebut.
Rombongan pertama datang dari Bandung. Meisya mengenal OMAH dari Instagram, dan karena kebetulan ada agenda di Alam Sutera, ia mampir bersama ayahnya, Pak Iman. Sang ayah, seorang PNS, banyak bertanya soal material-material yang unik, banyak pula melempar guyonan yang membuat tur terasa ringan, dan menutup kunjungannya dengan tiga kata, keren, inspiratif, amazing, sebelum langsung menembus jalan pulang ke Bandung. Meisya sendiri menulis, happy keliling rumah, vibes enak, next time pengen coba baca dan kerja di sini, dan pintu itu tentu terbuka.
Rombongan kedua justru datang dari sangat dekat. Bu Aan adalah tetangga kami, sering bertegur sapa dengan kami, tetapi baru pekan ini pertama kali masuk dan ikut experiencing. Motivasi kedatangannya menghangatkan hati, ia ingin mengajak cucunya melihat kambing. Keluarganya banyak yang arsitek, jadi obrolannya nyambung ke mana-mana, dari arsitektur dan anggaran sampai hal-hal yang lebih dalam, tentang hidup, karier, dan menjadi orang tua. Beliau suka baking, memasak, dan traveling. Cucunya happy bermain dengan kambing dan berlarian di basement, dan testimoninya satu kata saja, menyenangkan. Dari seorang tetangga, satu kata itu berarti banyak. Sore harinya, rombongan Bu Aan pulang dengan cara yang paling kami sukai, berjalan kaki.
Konsep bertetangga ini sesungguhnya hadir juga di dalam proses perancangan arsitektur, dalam kedekatan ruang-ruang, seperti kampung yang menyatukan banyak drama, gosip, canda, dan tawa. Di kampung ada gang kaget, gang gado-gado, gang pecel, dan di rumah ini, koridor-koridornya bekerja seperti gang-gang itu. Berbelok sedikit, bisa bertemu kambing, kadang-kadang kelinci, selalu ada ketidaksamaan yang menunggu. Begitulah hidup, kita terus bertemu orang yang berbeda-beda, nuansa yang tidak sama, dan itulah simbol kebhinekaan, sesuatu yang memang tidak mudah untuk dirangkul, tetapi ruang bisa dirancang untuk melatihnya, gang demi gang, sapaan demi sapaan.
Terima kasih, Pak Iman dan Meisya, yang datang dari jauh. Terima kasih, Bu Aan, cucu, dan rombongan yang datang dari sebelah. Satu pulang menembus tol ke Bandung, satu pulang berjalan kaki, dan sejak hari itu, keduanya sama-sama tetangga kami. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya.
Pada akhirnya, yang sedang kami rawat di rumah ini adalah keguyuban, semangat persaudaraan yang tidak menanyakan asal dan jarak. Ki Ageng Suryomentaram, pangeran Jawa yang melepas gelarnya sendiri, mengajarkan bahwa puncak dari semua laku adalah menjadi manusia yang mulia, manusia yang mengerti bahwa rasa manusia itu pada dasarnya sama. Dan barangkali, latihan paling sederhananya memang dimulai dari sini, dari bertegur sapa dengan tetangga, gang demi gang, sapaan demi sapaan, sampai suatu hari ia melangkah masuk, dan kita mendapati saudara.
#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild
(rs, hs, fm)
Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:








