Ada malam-malam di OMAH yang berakhir jauh lewat tengah malam. Salah satunya kami ingat betul, seorang guru kami duduk berdiskusi dengan anak-anak muda sampai jam 1 pagi. Tidak ada hitungan waktu, atau materi yang menahannya di situ, tidak ada kewajiban, tidak ada acara yang belum selesai. Ia bertahan karena percakapannya belum selesai. Kami yang seharusnya merasa lelah, malah pulang dengan kepala penuh ilmu dan terinspirasi.
Sebagian narasumber yang kami undang ke sini memang lebih tua dari kami. Para guru besar, praktisi senior, orang-orang yang ilmunya diendapkan berpuluh tahun. Kami mengundang mereka bukan untuk memberikan “panggung”, sebab panggung mereka sudah ada sejak lama. Kami mengundang mereka karena kamilah yang membutuhkan mereka, hal-hal yang mereka tahu, dan karena banyak hal tidak bisa dipelajari dari buku di rak kami sendiri.
Dalam bahasa Jepang, guru disebut sensei, yang secara harfiah berarti orang yang lahir lebih dulu, yang sudah menempuh jalan sebelum kita. Kami suka arti harfiah itu karena jujur dan sederhana. Bukan soal pangkat, bukan soal gelar, melainkan soal urutan berjalan. Di India ada parampara, silsilah pengetahuan yang diturunkan dari guru ke murid lintas generasi, dan yang dijaga di sana bukan orangnya, melainkan sambungannya. Dua-duanya menempatkan yang lebih dulu berjalan sebagai mata rantai, bukan sebagai masa lalu. Di Indonesia kami mengenal kata pamong.
Kami tidak sedang mengusulkan untuk meniru siapa pun mentah-mentah. Tapi ada satu hal yang kami ambil dari sana, penghormatan pada yang lebih dulu hadir bukan sekadar sopan santun, melainkan cara sebuah masyarakat menjaga pengetahuannya tidak putus di tiap pergantian generasi.
Kami jujur tidak ingin membagi para senior menjadi golongan-golongan. Yang masih sibuk berpraktik dan yang lebih banyak mengajar sama-sama sedang meneruskan sesuatu, hanya saja lewat pintu yang berbeda. Bangunan yang berdiri juga sebentuk pengajaran, dan banyak dari kami belajar justru dengan berdiri di lapangan, ruang diskusi, dan duduk hadir bersama mereka, mendengarkan.
Kalau begitu, apa peran tempat ini? Kecil saja, dan kami tidak ingin melebih-lebihkannya. OMAH menyediakan ruang, kursi, waktu, dan orang-orang muda yang mau mendengar. Kami bukan penjaga ilmu siapa pun, sebab ilmu itu milik yang memilikinya, dan mereka tidak butuh dijaga. Kami hanya menyediakan ruangan tempat percakapan bisa terjadi, dan memastikan ada yang datang untuk mendengarkan, karena mendengarkan itulah bagian yang paling sering hilang.






Dan sejujurnya kami yang paling diuntungkan. Setiap kali seorang guru duduk di sini dan bercerita, yang bertambah bukan koleksi kami, melainkan pengertian kami. Kami belajar bahwa banyak hal yang kami kira baru sebetulnya sudah pernah dikerjakan, dicoba, dan gagal, lalu dicoba lagi dengan cara lain. Itu pelajaran yang tidak bisa kami temukan sendiri, dan yang hanya bisa diberikan oleh orang yang berjalan lebih dulu.
Karena itu, kalau ada yang ingin kami jaga di tempat ini, bukan ilmu mereka. Melainkan pintu, supaya tetap terbuka, dan kursi, supaya selalu ada yang duduk mendengarkan sampai jam 1 pagi kalau memang percakapannya belum selesai.
Sebagai upaya menjaga saluran pengetahuan ini tetap terbuka, teman-teman bisa ikut duduk dan menyimak diskusi bersama para guru melalui video kelas maupun buku Seri Arsitek(tur) Mumpuni.
Teman-teman juga bisa berdiskusi langsung bersama para guru dan komunitas di OMAH Library melalui Forum Oma(h):
