Genesis of Design Method | Ep. 6 Prospectus – Eka Swadiansa

Sejak ekspansi Alexander III dari Macedonia ke India utara melalui Turki, Siria dan Mesir; hingga era Augustus dan Trajan dengan Pax-Romana yang menguasai seluruh Semenanjung Mideterania; moyang Eropa membangun peradaban Greeco-Roman mereka dengan demikian pesatnya. Dimana arsitekturpun menjadi salah satu pilar penting didalam warisan kebudayaan tersebut. Bersamaan dengan jatuhnya Konstantinopel; sejak era Mahmud II hingga puncaknya di era Sulaiman I, Kekhalifahan Ottoman-pun menulis ulang sejarah peradaban Semenanjung Mideterania – termasuk arsitekturnya.

Pada dimensi waktu lainnya; Era Neoklasik (Eropa) yang mengemuka pada paruh pertama abad ke-18; mencapai – puncak apresiasi sekaligus perlawanannya – sekitar 1 abad berikutnya melalui gerakan Arts and Crafts dan Modernis awal. Bisa jadi termanifestasi melalui pendirian Bauhaus; ironisnya akumulasi dari segala perlawanan terhadap romantisme masa lalu ini hanya bertahan selama 14 tahun. Sebelum kemudian sekolah desain modern tersebut ditutup oleh Hitler/Nazi yang menghendaki visi desain lainnya – terutama arsitekturnya.

Pada dimensi ruang lainnya, pergulatan serupa juga terjadi di Hindia Belanda. Berawal dari Arsitektur Kolonial-fungsional yang dibawa oleh VOC pada abad ke-17; pada abad berikutnya, Pemerintah Hindia Belanda-pun mulai mengembangkan Arsitektur Indische yang secara pragmatis mulai beradaptasi dengan nilai-nilai lokal. Sebelum kemudian Deandels memperkenalkan Indische Empire yang kembali ‘meng-Eropa-kan’ bangunan-bangunan di bumi Nusantara. Adalah Politik Etis di awal abad ke-20 yang kemudian membuka keran pembaharuan bagi arsitek-arsitek muda Belanda, untuk melahirkan arsitektur Hindia Belanda yang lebih sensitif dengan konteks-konteks kesetempatannya.

Peradaban manusiapun kemudian meng-global. Seiring dengan kemerdekaan NKRI, Soekarno mengimpikan arsitektur Indonesia yang mampu bersaing dengan negara-negara maju. Sebuah visi yang kemudian justru membuat kota-kota kita menjadi tak jauh berbeda dari kota-kota di Eropa dan Amerika Utara. Soeharto menghendaki sebaliknya. Mengkotak-kotakkan tradisi kedalam 27 kotak delienasi Pemerintah Provinsi, untuk memaksakan lahirnya 27 stereotip arsitektur tradisional dengan atap yang berbeda-beda.

Arsitektur tidak akan pernah lepas dari relasi kuasa dalam satuan ruang dan waktu yang spesifik. Peradaban, dinasti, rezim, raja/kaisar/sultan/presiden; semuanya adalah kuasa temporal yang datang silih berganti. Sebaliknya bila mujur, arsitektur sebagai peninggalan dari sebuah relasi kuasa; akan bertahan hingga ribuan tahun lamanya. Sehingga sepertinya, kuasa arsitektur itu bukan sesuatu yang tetap. Karena seperti kuasa politik; yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Dan untuk menggapai perubahan, arsitektur akan selalu membutuhkan prospektus baru.

Seperti kuasa Arsitektur Ottoman / Modern Awal / Indische Empire / Tradisional (Orde Baru) yang berusaha menggantikan Arsitektur Greeco-Roman / Arts and Crafts / (Early) Indische / Modern (Orde Demokrasi Terpimpin); maka prospektus baru juga identik dengan ‘penghancuran pardigma sebelumnya.’ Tapi ini bukan tentang baik dan buruk, sebab kehancuran itu sendiri juga merupakan bagian penting dari lingkar-kesetimbangan penciptaan dan pemeliharaan. Harapannya dari puing-puing yang lama, akan terlahir entitas pembaharu yang lebih kontekstual dengan kuasa ruang dan waktu – disini dan saat ini.

Sesi Redefinisi Prospektus ini, adalah kelanjutan dari Kuliah Umum “Capital, Epochs, and Architecture” yang diselenggarakan oleh Universitas Tarumanagara. Sesi ini akan mendiskusikan ‘sisi praksis’ dari berbagai sudut pandang yang ditawarkan di perkuliahan sebelumnya; sebagai usaha untuk memadukan pemahaman teoritik multidisiplin yang bersifat pengetahuan umum, dengan praktek arsitektur sehari-hari yang cenderung bersifat spesifik.


Video Rekaman Kelas


Pembicara

Eka Swadiansa

Eka Swadiansa adalah principal dari Office of Strategic Architecture (OSA), founding member Global University for Sustainability (GU) dan kurator SPIRIT_45/47/55. Sebagai kurator; ia telah mengkurasi roundtable arsitektur di the Rise of Asia 2018 (Universite Paris 1 Pantheon Sorbonne & Universite Le Havre du Normandie), SPIRIT_45 (Sinar Fontaine Bartholdi, Lyon &…


Beberapa kelas Genesis of Design Method lainnya bisa diakses di bawah ini:

Genesis of Design Method | Ep. 5 Specific Context – Kevin Low

Specific Context is a follow through from the previous lecture on ‘Pride’, hosted by OMAH Library last year. Where ‘Pride’ was about the way in which architects serve their pride more than they serve deeper efforts for work and responsibility, Specific Context is how the service of our pride inevitably…

Genesis of Design Method | Ep. 4 Senyawa Desain – Yulianto P. Prihatmaji

Senyawa desain adalah bagaimana berpikir arsitektur dengan beberapa pendekatan dalam skala makro, meso, mikro. Ada 3 (tiga) pendekatan yang dilakukan: – Pendekatan HEXA HELIX- Pendekatan QUADRIALISM- Pendekatan DISASTER RESPONSE Pendekatan tersebut dilakukan agar 6 aspek (university, government, community, NGO/NPO, business, dan media) ini dapat menjalankan aktivitas mengajar, meneliti, mengabdi, serta…

Genesis of Design Method | Ep. 3 Redefining Ancestral Roots – Wendy Teo

Wendy establishes and nurtures Wendy Teo Atelier (Architectural Practice) and Borneo Laboratory (Curatorial Body), accommodating her interest in developing projects with the participatory model, vernacular wisdom, sensible fabrication, and anthropological insight. Her practice is centered on an approach that allows caring for the earth, sensibility for material, and bonding with…

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s