Writing: Do and Don’t

The profession of architecture has become representative of the society we live in. Arguably the most public art that affects human psychology most profoundly, architecture also happens to be the least discussed. Everyone does care about architecture, but the lack of a common language to talk about the built environment renders the profession as less understood.

Over the years, architecture-design writing has emerged as a language, which helps to interpret, identify, critique and celebrate the built environment, and provide a vision to create demand for better buildings, leading to better societies and culminating in better living. In this case, critical thinking leads to powerful architectural writing, which becomes the platform for critical and enlightening discourses on architecture, city-building and nation-building.

What does writing signify, and what are the mandates for it? Clear thinking, absorbing important ideas, correctly interpreting them, critiquing and creating opinions from them are just some of the mandates needed for writing. Writing should not only become a medium to communicate and educate about architecture and design; it should rightly be able to raise a voice and initiate a change. This is especially critical for Asian countries, where architecture and design remain a much-less discussed subject.

In her talk, Ar. Apurva Bose Dutta will discuss how writing should be able to assume more significant roles and responsibilities and contribute to a robust discourse on architecture- design.


Lecture held on 10.07.2020 speaker: Apurva Bose Dutta, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana


Testimoni Peserta

Very nice presentation, learn a lot! Jadi semangat buat nerusin apa yang saya lakukan.
Aldea

nice perspective from other aspect of architecture. Yet still maintain to stay relevant. It explain the creative process of producing writing instead of building
Finta Lissimia

A very interesting presentation and story telling about turning a lonely road of architecture (writing) into a serious career option, which of course never been that easy. Encouraging me enough to do some observes about architecture journalism that can be intersect with architectural curatorial and conceptual thinking.
Yuramia Oksilasari

Enjoyable lecture! Would love to hear more about the role of writings in the larger scheme. Would love to hear more about the “phase of detachment”. Really nice to meet you Apurva!
Rezki Dikaputera

Menarik, Indonesian memerlukan penulis yang tidak hanya bagus tapi cerdas dan Bijaksana. This is a great start to learn how to write and then write 🙂
Yuliana Susi Susanti

Very clear and thorough, like reading a book
Priscilla


Berikut ini adalah transkrip diskusi yang terjadi pada saat berlangsungnya kelas wacana Writing pada 10.07.2020, diisi oleh Apurva B. Dutta, moderator: Realrich Sjarief, host: Satria A Permana


Apurva B Dutta

Apurva Bose Dutta is an author, award-winning architectural journalist, curator, and editor, based in Bangalore, India. Her professional journey of fifteen years has seen global collaborations with multimedia publication houses, firms, organisations, and educational institutions affiliated with architecture, design, and building in India, the UK, the US, Italy, Indonesia, Singapore, Karachi, and Canada. Through her various initiatives, Apurva has persistently been working towards increasing the visibility of architectural writing in India. She is credited with the conceptualisation of the first magazine issue solely dedicated to architectural journalism in India in 2013.

Beberapa kelas wacana Seven Do and Don’t lainnya bisa diakses di bawah ini :

Philosophy: Do and Don’t

“Cogito Ergo Sum”—Rene Descartes ‘Jargon’ yang selalu membayangi pembahasan filsafat. Tapi apakah keberadaan seorang manusia hanya muncul saat dia berpikir? Tolak ukur manusia saat dia menggunakan otaknya? Bagaimana dengan organ lain seperti perasaan? Apakah otak rasional lebih tinggi dari pada perasaan hati? Sejumlah pertanyaan dapat dilontarkan dari sebuah kalimat pendek Descartes, dan itulah esensi dari filsafat. Dalam teori filsafat terdapat empat nilai yang melandasinya, yaitu nilai otologik jika berbicara tentang obyek; nilai epistemologi jika berbicara tentang metode; nilai estetika jika berbincang tentang sistem; dan nilai etik jika berbicara tentang kebenaran yang dicapai. Dari sini nampaknya filsafat adalah sebuah pengetahuan yang…

Keep reading

Storytelling: Do and Don’t

Cerita adalah bagian penting dari kemanusiaan kita. Harari meyakini bahwa ciri terpenting manusia adalah bahasa dan kemampuan bahasa yang terpenting adalah untuk bercerita. Dengan bahasa kita bisa menyebut segala sesuatu di sekitar kita, tapi dengan bahasa juga kita bisa mengkomunikasikan bahkan meyakinkan orang lain tentang hal-hal yang tak serta merta dapat kita saksikan. Dengan berbagi cerita maka manusia dapat menggalang solidaritas, menjalin kerjasama, serta membangun cita-cita dan idealita bersama. Budaya, bangsa dan agama adalah di antara gagasan-gagasan abstrak yang terbentuk karena kemampuan bercerita. Arsitektur menjadi perlu dibahasakan sebagai cerita ketika dia melampaui batas-batas kesehariannya. Suatu rumah bisa membuat penghuninya kerasan,…

Keep reading

Curation: Do and Don’t

Manakah yang seharusnya lebih dulu ada: konsep atau desain? Apakah benar hubungan antara konsep dan desain itu seperti ‘telur dan ayam’? Jawabannya bergantung pada persepsi masing-masing. Mengapa persepsi? Karena tidak ada aturan-aturan baku yang secara de jure bisa mengikat kemungkinan-kemungkinannya. Mungkinkah konsep dibuat setelah desain selesai digambar –atau bahkan lebih radikalnya– karya tersebut selesai dibangun? Secara de facto bisa saja. Namun dalam persepsi yang lebih sempit, hal ini kemudian berlanjut kepada pertanyaan seputar esensi dari dibuatnya konsep tersebut. Apakah kemudian konsep tersebut memiliki fungsi pengayaan makna dalam proses pengkaryaan obyek arsitekturnya? Ataukah kemudian ia hanya menjadi media justifikasi yang sebenarnya…

Keep reading

Theory: Do and Don’t

Pernyataan:Teori adalah sebuah aktivitas memandang. Coba lanjutkan kalimat ini:Pertemuan ini adalah pertemuan mengenai … Jawaban:a. Teori Arsitektur,b. Teori pada Arsitektur,c. Teori bagi Arsitektur,d. Teori dari Arsitektur,e. Teori dan Arsitektur,f. Di atas semua benar,g. Di atas semua tidak benar,h. Di atas, sebagian yang benar.i. Saya punya teori saya sendiri,j. Pernyataan awal adalah salah, Saya punya pernyataan yang lain.k. Multiple-choice koq sampai k ??? Ngaco !!!?!?!!! Jawaban Anda akan didiskusikan pada pertemuan ini. Hal-hal pokok mengenai arsitektur akan dibenturkan dengan sudut pandang-sudut pandang sebuah entitas yang diberi nama t.e.o.r.i , sebuah aktivitas memandang, yang melahirkan pengetahuan atau sekedar cara kita merasakan keindahan.…

Keep reading

History: Do and Don’t

Profesi di bidang (yang kita gadang-gadang sebagai) “kreatif” punya konotasi selalu berorientasi ke masa depan seakan tidak relevan dengan masa lalu. Profesi kreatif selalu diberi tuntutan untuk terampil dalam memanfaatkan teknologi terkini dan tanggap terhadap budaya kiwari, dan selalu dalam kodrat untuk mengejar apapun yang ada di depan. Namun di sisi lain, profesi kreatif (khususnya di Indonesia) juga seringkali dibebankan untuk tetap bertolak dari tradisi dan kebiasaan. Tradisi dan kebiasaan ini meliputi berbagai hal yang dianggap lokal, berakar, endemik, atau sesederhana kontra terhadap apa yang global dan industrial. Beberapa dari bentukan tradisi dan kebiasaan ini akhirnya dipatri menjadi model-model yang…

Keep reading

Criticism: Do and Don’t

Apakah kritisisme itu? Apakah kegunaannya dalam arsitektur? Bagaimana kita melakukan kritik yang baik? Adakah parameter yang jelas untuk menilai sesuatu? Kita kerap salah dalam memahami kritisisme. “Mengkritik” kerap kita anggap sebagai “menyerang,” “mencela,” atau “menghantam” lawan debat kita. Kesalah pahaman ini perlu diluruskan. Kritisisme adalah salah satu unsur dari tritunggal sejarah—teori—kritisisme. Kritisisme, menurut salah satu pengertian yang ditawarkan oleh Kamus Cambridge, adalah “a careful discussion of something in order to judge its quality or explain its meaning.” Melalui kritisisme kita dapat membahas karya-karya arsitektur secara diskursif. Pembahasan diskursif semacam itu akan sangat bermanfaat dalam pengembangan arsitektur sebagai sebuah disiplin. Pada…

Keep reading

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s