Experiencing – Tante Hera dan Keluarga

Pagi itu, untuk pertama kalinya Tante Hera @tan_herawati mengikuti tur di Guha, kali ini bersama anak-anaknya. Sebelumnya ia sudah beberapa kali kunjungan reguler ke Guha dan Boboto, kali ini mereka memilih menjelajahi seluruh Guha.

Tante Hera meminta tur pagi itu dibawakan dalam bahasa Jawa setelah mengetahui pemandu pagi itu juga berasal dari Semarang. Maka sepanjang perjalanan, lorong-lorong Guha dijelaskan dalam bahasa ibu mereka berdua. Kami kembali belajar lagi, keramahan sebuah tur bukan pada hafalan materinya, melainkan pada kesediaan berbicara dalam bahasa tamunya.

Kak Vincent sedang belajar arsitektur, maka percakapan hari itu cepat menemukan jalannya, eksplorasi material, proses, dan ketukangan. Ia membagikan kesan, merasa senang akhirnya menjelajah langsung tempat yang selama ini hanya dilihat di layar. Tante Hera tertarik pada beberapa furniture di Guha. Sementara sang adik menemukan sudut favoritnya, piano di foyer, yang pagi itu sempat ia mainkan. Kak Tha yang seorang guru musik memuji material, buku, para pekerja, dan hewan-hewan peliharaan, lalu menitip saran, “akustik ruang piano masih bisa lebih baik”. Kami menerimanya dengan senang. Pujian menghangatkan hari, tetapi kritik yang tepat membantu memperbaiki ruang, telinga seorang guru musik mendengar apa yang mata kami lewatkan.

Piano di foyer punya cerita lebih panjang dari sekadar perabot. Ada kalimat yang sering dihubungkan kepada Goethe, “arsitektur adalah musik yang membeku.” Kalimat itu indah, tapi hanya separuh benar. Arsitektur tidak pernah benar-benar beku. Ia tumbuh melalui ketidaksempurnaan, belajar batas, menguji keyakinan, dan tahu kapan harus membuka diri.

Kami teringat Konserto Piano ke-20 Mozart dalam D minor. Piano masuk sendirian, menarik orkestra ke dalam kesendiriannya. Keduanya saling menjawab, menolak dan menerima, hingga perlahan menuju terang. Rasanya tidak jauh dari cara sebuah rumah dibangun, maupun cara sebuah keluarga berjalan.

Terima kasih, Tante Hera dan anak-anak. Piano di foyer itu memang tidak diletakkan untuk dipajang, ia menunggu dimainkan, dan pagi itu ia mendapat tamunya.

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild

(rs, ty, fm)


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

PMI #42 – Tektonika Retikulasi dan Tektonika Kuno-Kini – Dani Hermawan, Cahyo Novianto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #42. Ini episode kedua dari seri Tektonika Kayu untuk Arsitektur Kayu Masa Depan, dan terbagi dalam dua paparan: ▫️Paparan 1 bersama Dani Hermawan, dengan tema: “Tektonika Retikulasi” “Tektonika Retikulasi” merupakan eksplorasi yang mempertemukan komputasi, ketukangan, dan rekayasa material…

Bittersweet Memories In Design Experience | 68. Anton Siura

Di tengah pesatnya urbanisasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan tantangan perubahan iklim, membangun lanskap tidak lagi sekadar urusan estetika. Ia adalah upaya merajut ketahanan. Menjaga kesadaran itu bukanlah proses yang singkat, dan bagi Anton Siura, hal tersebut telah menjadi perjalanan profesionalnya selama lebih dari dua dekade. Dalam kultur industri yang sering…

Book Launching | Rumah Bosar, Karya Arsitektur Kayu Dayak Pesaguan

Dengan penuh sukacita, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia bersama OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari ikhtiar panjang untuk mendokumentasikan, merawat, dan melestarikan khazanah arsitektur Nusantara sebagai warisan pengetahuan bagi generasi kini dan mendatang. Gagasan mengenai ruang, material, dan tektonika ini pertama kali dipaparkan secara lisan dalam forum PMI #20 pada 2022.…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading