Persahabatan yang baik ternyata tahan jarak. Tiga sahabat sejak SMA, kini hidup di jalur masing-masing, pekan ini memilih terbang jauh dari Bali dan menjadikan Guha sebagai titik temunya.
Kak Rania datang paling awal, baru saja kembali dari Bandung, koper besarnya masih setia menemani sampai ke Guha. Sembari menunggu, ia bercerita tentang kekagumannya pada OMAH Library yang menurutnya bukan sekadar ruang baca melainkan ekosistem literasi yang hidup, dan sebagai lulusan arsitektur, ia memang membaca rumah ini dengan kacamata yang berbeda. Kak Dianra dan Kak Ayu menyusul kemudian dengan cerita yang membuat kami tertawa, keduanya sempat nyasar ke OMAH Library Guha Boboto, rupanya dua Guha bisa membingungkan juga. Perjalanan dimulai pukul dua lewat sepuluh, dan di foyer mereka berhenti lama, mengagumi lantai beton dengan nat kaca, bukan hanya idenya, kata mereka, tetapi keterampilan tukang yang sanggup mewujudkannya. Di basement paling bawah mereka merasa sangat nyaman sampai mengantuk, dan bagi kami itu pujian, perpustakaan memang sengaja ditenggelamkan ke bawah tanah supaya sejuk alami, kantuk adalah tanda desainnya bekerja. Di depan rak-rak, Kak Rania berujar, waw, ini beneran library. Dan mereka menutup perjalanan tiga puluh menit lebih awal, demi satu alasan yang sangat bisa kami maklumi, makanan rumahan di OMAH Library sudah menunggu.
Kesan mereka bertiga berbeda-beda dan justru saling melengkapi. Dewa Ayu, seorang bankir, menulis, super seru, gak nyangka rumah dan tempat kerja bisa se-meaningful ini, banyak dapet insight, setiap sudut bener-bener positif librasinya, dan kata librasi itu terlalu bagus untuk kami koreksi. Dianra, seorang penjelajah, menulis bahwa ia belajar banyak tentang arsitek dan bagaimana rumah ini dibangun. Dan Rania, seorang perancang merek, membacanya paling struktural, interesting sandwich program of private and public spaces, lalu menitip satu permintaan bergaris bawah ganda, the collection of books are exceptional, please make a membership program, here’s to democratizing knowledge. Permintaan itu kami catat baik-baik.
Ada dua teori yang terasa hidup hari itu. Yang pertama, teori small world, dunia yang kecil, eksperimen Stanley Milgram dulu menunjukkan bahwa manusia mana pun di bumi rata-rata terhubung hanya dalam sekitar enam langkah perkenalan. Tetapi sahabat lama memendekkannya menjadi nol langkah, teman bisa sampai menjadi saudara, dan lingkaran itu terus berputar, yang menarik, di tengah lingkaran yang berputar itu selalu dibutuhkan sebuah tempat untuk bertemu, dan di situlah arsitektur berdiri. Yang kedua, dari Kalkuta yang ditulis Eric Weiner, tradisi adda, lingkaran diskusi tempat orang berkumpul untuk bertanya dan bertukar pikiran tanpa buru-buru, tradisi yang menyalakan zaman keemasan sebuah kota. Tiga sahabat yang berdiskusi dari foyer sampai basement, ditutup makan bersama masakan rumahan, bagi kami adalah adda kecil yang sedang berlangsung, dan harapan Rania tentang demokratisasi pengetahuan adalah semangat “adda” itu sendiri.
Terima kasih Dianra, Rania, dan Dewa Ayu, sudah menempuh jarak Bali sampai tersasar di antara dua Guha. Rumah ini berdiri persis untuk menjadi titik tengah lingkaran-lingkaran seperti milik kalian. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya.
#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild
(rs, hs, fm, ir)
Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:






