Arsitektur di Sekitar Kita

Ada anggapan yang ingin kami bantah pelan-pelan: bahwa arsitektur hanya untuk anak arsitektur dan hanya bisa dipahami oleh yang bersekolah di dalamnya. Kami tidak percaya itu. Bagi kami, arsitektur ada di keseharian, di hadapan siapa saja, dan siapa pun yang mau memperhatikan bisa mulai memahaminya.

Cobalah perhatikan hal-hal yang tampak sepele. Bagaimana sebuah dinding diselesaikan, rapi atau kasar, halus atau bertekstur, itu arsitektur. Bagaimana tinggi sebuah meja terasa pas atau tidak untuk tubuh yang memakainya, itu arsitektur. Bagaimana sebuah pintu terasa berat atau ringan, bagaimana cahaya masuk ke sebuah ruangan di pagi hari, bagaimana orang mengalir di sebuah keramaian tanpa berbenturan, semua itu arsitektur. Banyak hal yang kita kira bukan arsitektur ternyata, kalau diperhatikan, adalah arsitektur juga.

Justru dari yang paling sehari-hari inilah pintu masuknya paling mudah. Kita tidak perlu memulai dari teori besar atau nama-nama arsitek terkenal. Kita bisa memulai dari skala, dari seberapa besar sesuatu terasa dibanding tubuh kita. Dari ergonomi, dari bagaimana sebuah benda melayani atau justru menyusahkan tubuh yang memakainya. Ini hal-hal yang bisa dirasakan siapa saja, tanpa gelar, hanya dengan memperhatikan. Dan begitu seseorang mulai memperhatikan, ia tidak bisa berhenti; dunia di sekitarnya berubah menjadi penuh keputusan desain yang tadinya tak terlihat.

Yang menarik, arsitektur sebagai cara berpikir ternyata bisa bermuara ke banyak hal, ke banyak produk yang tampaknya jauh dari bangunan. Cara memperhatikan komposisi, proporsi, dan bagaimana sesuatu bekerja untuk manusia, adalah cara pandang yang berguna di desain grafis, di penataan barang, di branding, di banyak bidang lain. Arsitektur, pada tingkat ini, bukan lagi tentang gedung; ia tentang cara melihat.

Kami menyaksikan ini terjadi pada orang-orang di sekitar kami sendiri, dan itu selalu membahagiakan. Ada seorang kawan yang mulai bergabung dengan kami di bagian administrasi, jauh dari dunia perancangan. Tetapi karena setiap hari berada di tengah percakapan tentang desain, cara pandangnya pelan-pelan tumbuh, sampai akhirnya ia kini justru mengerjakan branding dan grafis. Ia tidak pernah bersekolah arsitektur, tetapi ekosistem ini menularkan cara berpikirnya, dan ia menemukan jalannya sendiri di dalamnya.

Ada pula seorang anak yang bahkan belum menyelesaikan sekolah menengahnya, tetapi sudah datang magang, belajar bersama kami, dan ketika waktunya usai, ia justru meminta memperpanjang. Usianya masih sangat muda, dan justru karena itu keingintahuannya murni, belum dibebani anggapan tentang apa yang seharusnya ia pelajari atau tidak. Baginya, tidak ada tembok antara arsitektur dan bukan arsitektur; ada hanya hal-hal menarik yang ingin ia mengerti. Kami belajar banyak dari keterbukaan seperti itu.

Dan di sinilah lingkaran itu menutup dengan caranya sendiri. Orang-orang yang datang dari luar disiplin ini, yang tadinya kita kira tidak nyambung dengan arsitektur, justru sering membawa ide-ide segar yang tidak akan muncul dari dalam. Dari obrolan santai dengan seseorang yang latar belakangnya berbeda, kadang lahir gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh yang terlalu lama di dalam. Keberagaman latar bukan gangguan; ia sumber. Semakin banyak jenis mata yang memandang, semakin kaya yang bisa dilihat.

Maka ketika kami bilang arsitektur tidak terbatas pada anak arsitektur, kami tidak sedang berbaik hati membuka pintu. Kami sedang mengatakan sesuatu yang kami yakini benar: bahwa cara pandang ini memang milik siapa saja, dan bahwa ia justru menjadi lebih hidup ketika dipegang oleh tangan-tangan yang datang dari berbagai arah. Arsitektur ada di sekitar kita, setiap hari, menunggu diperhatikan. Dan yang memperhatikannya tidak harus menyandang namanya untuk berhak memahaminya.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading