Experiencing – Shanice Eve

“In front, I thought this is just a small place, but this is a very big place.” Begitu tulis Shanice Eve, seusai kunjungannya. Kalimat sederhana itu diam-diam menyentuh jantung cara rumah ini dirancang.

Kesannya ia tuliskan lengkap, “everything was done intentionally up to its detail, this is such a wonderful and full of warmth place,” dan ia menitipkan terima kasih khusus, appreciate Ms. Hanifah “ka ufi” for her assistance with us. Bagi kami, bagian terakhir itu justru yang paling berharga. Di Experiencing, relasi antara pemangku tur dan tamu bukan relasi pemandu dan penonton. Keduanya saling mengasuh percakapan, detail keluar lewat tanya jawab, pengetahuan mengalir dua arah, dan terbentuk sesuatu yang hybrid, majemuk tetapi masuk akal. Itulah kekuatan keseharian, percakapan biasa yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Soal kecil yang ternyata besar itu, Gaston Bachelard menuliskannya dalam The Poetics of Space. Rumah yang dihuni dengan kasih menyimpan keluasan yang intim; besar yang sesungguhnya tidak diukur dengan meter persegi, tetapi oleh kesan dalam pengalaman. Maka besar harus berkesan, bukan sekadar berukuran. Di Guha, keluasan itu dibangun dari adegan demi adegan, bayang-bayang tropis yang berpindah sepanjang hari, pohon-pohon yang lebih dulu berdiri, dan artefak budaya yang menunggu ditanyakan, sehingga tempat yang tampak kecil dari depan terus membesar seiring langkah.

Dan soal detail yang serba disengaja itu, ada logika ketukangan di baliknya. Dalam buku Craftgram yang kami susun bersama, seorang perajin dipetakan berjenjang, dari apprentice yang belajar lewat mengerjakan, journeyman yang mulai bertanya dan bereksperimen, sampai master mumpuni bermain dengan keahliannya. Rumah ini pada dasarnya adalah buku latihan yang terbuka dari jenjang-jenjang itu, setiap sambungan, pengait, bayangan adalah kalimat dalam tata bahasa ketukangan yang sedang terus dipelajari.

Terima kasih, Shanice dan partnernya, sudah membaca rumah ini sampai ke dalam, dan terima kasih Hanifa yang memamong percakapannya. Tempat kecil ini memang berniat besar, bukan dalam ukuran, melainkan dalam kesan yang dibawa pulang tamu-tamunya. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya.

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild
(rs, hs, fm)


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

PMI #42 – Tektonika Retikulasi dan Tektonika Kuno-Kini – Dani Hermawan, Cahyo Novianto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #42. Ini episode kedua dari seri Tektonika Kayu untuk Arsitektur Kayu Masa Depan, dan terbagi dalam dua paparan: ▫️Paparan 1 bersama Dani Hermawan, dengan tema: “Tektonika Retikulasi” “Tektonika Retikulasi” merupakan eksplorasi yang mempertemukan komputasi, ketukangan, dan rekayasa material…

Bittersweet Memories In Design Experience | 68. Anton Siura

Di tengah pesatnya urbanisasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan tantangan perubahan iklim, membangun lanskap tidak lagi sekadar urusan estetika. Ia adalah upaya merajut ketahanan. Menjaga kesadaran itu bukanlah proses yang singkat, dan bagi Anton Siura, hal tersebut telah menjadi perjalanan profesionalnya selama lebih dari dua dekade. Dalam kultur industri yang sering…

Book Launching | Rumah Bosar, Karya Arsitektur Kayu Dayak Pesaguan

Dengan penuh sukacita, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia bersama OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari ikhtiar panjang untuk mendokumentasikan, merawat, dan melestarikan khazanah arsitektur Nusantara sebagai warisan pengetahuan bagi generasi kini dan mendatang. Gagasan mengenai ruang, material, dan tektonika ini pertama kali dipaparkan secara lisan dalam forum PMI #20 pada 2022.…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading