Ruang yang Aman untuk Bercerita

Ada pertanyaan yang lama kami pikirkan di OMAH: bagaimana sebuah tempat bisa membuat orang berani bercerita? Bukan berbicara basa-basi, melainkan benar-benar bercerita, tentang keraguannya, tentang perjalanannya, tentang hal-hal yang biasanya disimpan sendiri. Kami perlahan paham bahwa keberanian semacam itu tidak bisa dipaksa. Ia hanya tumbuh di ruang yang terasa aman.

Ruang aman itu kami rawat lewat hal-hal kecil. Diskusi dalam kelompok yang tidak terlalu besar, tempat setiap orang masih bisa saling menatap. Dialog yang terjadi di ruang-ruang kecil, bukan panggung megah. Dan seorang pustakawan yang, bagi kami, bukan sekadar penjaga buku, melainkan orang yang melatih kepekaan: membaca kapan seseorang ingin bicara, kapan ia hanya ingin ditemani, kapan sebuah percakapan perlu diberi ruang untuk mekar. Kepekaan itu tidak tertulis di deskripsi pekerjaan mana pun, tetapi ia justru yang paling menentukan.

Tema-tema yang kami pilih untuk diskusi mewakili semangat ini. Darah muda, tentang mereka yang baru memulai dan masih mencari arah. Bittersweet, tentang perjalanan yang manis dan pahit sekaligus, karena kami tidak ingin hanya merayakan yang indah dan menyembunyikan yang berat. Arsitektur yang mumpuni, tentang kerja dan keahlian. Dan perjalanan mengenal Indonesia bersama kawan-kawan Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia. Tema-tema yang tidak berpura-pura bahwa hidup selalu mulus.

Jantung dari semua acara ini, anehnya, bukan pada ceramahnya, melainkan pada sesi tanya jawab sesudahnya. Di situlah kuncinya. Ketika orang berani bertanya, membantah, atau menyampaikan pandangan yang berbeda, kami justru senang, karena di situlah kami belajar bahwa berdebat adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Di ruang tanya jawab itu tumbuh sejenis persaudaraan yang menembus rasa takut dihakimi. Dan yang paling penting, ia mengembalikan orang menjadi apa adanya. Di layar, orang sering berbisik dengan hati-hati, memilih kata agar aman, kadang berpura-pura. Bertemu langsung, berhadapan muka, membuat semua itu luruh. Orang kembali menjadi dirinya.

Yang paling membahagiakan kami adalah menyaksikan lingkaran itu berputar. Ada yang dulu datang hanya sebagai penonton sebuah ceramah, lalu bertahun-tahun kemudian berdiri di depan sebagai pembicara. Ada yang kemudian menjadi pustakawan di sini, ada yang menjadi penulis, dan beberapa bahkan menjadi klien dan kolaborator. Rumah ini, pada akhirnya, adalah rumah untuk kesempatan: tempat orang tidak hanya menerima, tetapi kelak ikut memberi. Dan diam-diam, ia juga tempat orang menyembuhkan diri, karena bercerita di ruang yang aman selalu punya daya sembuhnya sendiri.

Kami sering merasa ini bukan gagasan baru. Ia sudah lama ada di tanah ini. Borobudur, misalnya, tidak dibangun dengan ruang pemujaan seperti candi kebanyakan; ia justru berupa koridor dan tangga, sebuah jalan yang ditempuh orang bersama-sama, naik perlahan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Tempat suci di Nusantara lama sering bukan ruang untuk diam menyendiri, melainkan jalan untuk ditempuh bersama.

Dan kalau kita membaca relief-relief tua di Borobudur dan Prambanan, kita menemukan sesuatu yang menyentuh: masyarakat Jawa Kuno ternyata sudah hidup dalam keberagaman. Kisah Hindu dan Buddha terpahat berdampingan di dinding yang sama, budaya-budaya berbeda bertemu dan berbaur pada saat yang bersamaan. Nenek moyang kita sudah lama tahu cara mempertemukan yang berbeda tanpa saling menyingkirkan. Ruang aman, ternyata, adalah warisan lama, bukan penemuan baru.

Itulah yang kami coba rawat di OMAH, dengan cara yang sederhana. Sebuah ruang tempat orang boleh datang membawa dirinya apa adanya, bercerita tanpa takut dihakimi, berdebat tanpa kehilangan persaudaraan, dan pulang membawa sedikit lebih banyak keberanian daripada saat ia datang. Kalau sebuah perpustakaan bisa melakukan itu, ia sudah menjadi lebih dari tempat menyimpan buku. Ia menjadi tempat menyimpan orang.

(rs, ty, hs, ir)

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading