Di beberapa kota di luar negeri, piano diletakkan begitu saja di ruang-ruang publik. Di stasiun, di taman, di sudut bandara. Siapa pun boleh duduk dan memainkannya, dan orang-orang yang lewat mendengarkan musik langsung dari tangan orang asing. Kami selalu menyukai pemandangan itu, dan setiap kali melihatnya, pertanyaan yang sama muncul: kenapa tidak di sini?
Maka di perpustakaan ini, hal pertama yang kau temui di pintu masuk bahkan sebelum rak buku adalah sebuah piano. Ia berdiri di foyer, di bawah sebuah lukisan, seolah keduanya sedang berbagi tugas menyambut tamu: yang satu untuk mata, yang satu untuk telinga.



Dan piano itu tidak sendirian. Di dalam, ada ruangan bernama House of Music yang menyimpan sebuah grand piano. Ada ruangan bernama Benteng, tempat piano digital tinggal bersama drum dan perkusi. Dan di lantai bawah, ada satu piano lagi yang justru paling kami sayangi ceritanya: sebuah piano yang rusak. Nada-nadanya sudah tidak patuh, bunyinya aneh dan tidak bisa diramalkan. Kami tidak membuangnya. Kami membiarkannya di sana untuk para seniman yang justru senang bermain di instrumen yang rusak, mencari bunyi-bunyi ganjil yang tidak akan pernah keluar dari piano yang sehat. Di rumah ini, bahkan instrumen yang rusak tidak kehilangan pekerjaannya.

Kenapa sebuah perpustakaan menyimpan piano? Karena kami percaya pada suara yang hidup. Musik yang dimainkan langsung di sebuah ruangan berbeda dengan musik dari pengeras suara: ia bernapas bersama orang-orang di dalamnya. Dan yang lebih penting: piano-piano ini boleh dimainkan siapa saja. Tidak harus mahir. Orang datang dengan ketidaksempurnaannya masing-masing, dan nada yang salah di sini bukanlah aib; ia tanda bahwa seseorang sedang mencoba. Tidak semua orang harus bisa. Yang penting semua orang boleh.

Kami tahu tidak semua orang percaya bahwa musik itu penting; ia sering dianggap pelengkap, hiburan di pinggir hal-hal yang serius. Tetapi kami percaya musik adalah bagian dari cara manusia berbagi, sama seperti buku dan percakapan. Dan budaya kita sendiri sesungguhnya tidak pernah asing dengan berkesenian bersama-sama di ruang yang terbuka. Ruang publik yang baik adalah tempat berbagi, dan tidak semua yang dibagikan harus dibayar.

Mimpi kami sederhana: seni yang mengisi ruang, dengan cara kita sendiri. Bukan konser yang megah, bukan panggung dengan tiket. Cukup seseorang yang kebetulan datang, duduk di depan piano di bawah lukisan itu, memainkan sesuatu yang tidak sempurna, dan untuk beberapa menit perpustakaan ini bersenandung. Tidak semua yang berharga perlu dibayar. Sebagian cukup dimainkan.

