Di pertengahan Juli lalu, sebuah kendaraan berhenti di depan Guha. Supirnya turun membawa beberapa buku, menyerahkannya, lalu pergi. Kami kira, mungkin sampai di situ saja.
Namun dua minggu berikutnya, beliau datang lagi. Kali ini membawa lebih banyak buku. Dan kemarin malam, buku-buku itu kembali tiba di Guha. Ketika kami bertanya apakah masih akan ada lagi, jawabannya sederhana: masih, bukunya sedang dipilah dahulu.
Berkali-kali datang, dan ternyata masih akan ada lagi.
Ketika kami menghubunginya untuk berterima kasih, beliau menutup pesannya dengan satu permintaan, tolong jangan sebutkan nama saya di postingan. Maka caption ini tidak akan menyebutkan namanya.
Yang boleh kami ceritakan hanya ini. Buku-buku itu milik sepasang arsitek. Keduanya belajar arsitektur di Belanda sekitar 40 tahun lalu, sebagian besar koleksi ini dikumpulkan selama mereka di sana. Sepulang ke Jakarta, sang suami mendirikan biro desain yang masih berjalan sampai hari ini. Beliau berpulang sekitar empat bulan lalu.
Setelah itu, istrinya memutuskan mendedikasikan sebagian koleksi mereka untuk orang lain. Mencari ke sana kemari lewat internet, dan menemukan tempat ini, yang ternyata tidak jauh dari rumahnya. Alasannya ia tulis sendiri, “karena saya lihat sendiri kalian bisa merawatnya dengan baik.” Kalimat itu kami terima sebagai amanat, bukan pujian.
Gerakan berbagi buku sedunia justru lahir dari peristiwa yang mirip. Pada 2009 di Amerika, Todd Bol membangun rak buku kecil di halaman rumahnya sebagai kenangan untuk ibunya yang baru meninggal, seorang guru. Rak itu kemudian menjadi Little Free Library, kini ada puluhan ribu rak serupa di seluruh dunia. Di Belanda sendiri, buku-buku ini dulu dikumpulkan, jaringan minibieb (perpustakaan mini) berjalan tumbuh di taman depan rumah warga, ratusan titik dan terus bertambah.
Sekitar 2,5 juta orang Belanda masih kesulitan membaca dan menulis, dengan dampak ekonomi €572 juta per tahun. Karena itu, Taalhuis, rumah belajar bagi orang dewasa, banyak ditempatkan di perpustakaan umum.
Buku-buku ini sudah kami terima dengan hati-hati. Kini menjadi milik siapa saja yang mau datang membacanya. Matur nuwun. Amanatnya kami jaga.
(rs, ty, hs, fm)
Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:







