Studio kami beberapa kali berpindah tempat. Bukan karena terpaksa semata, melainkan karena kami memang tidak ingin terlalu terikat pada satu ruang. Setiap kali pindah, kami mulai lagi dari awal: menata ulang, membaca ulang bagaimana orang duduk, bekerja, dan berbicara di ruang yang baru. Perpindahan itu melelahkan, tetapi kami memilihnya, karena kami percaya sebuah studio tidak seharusnya membeku dalam satu bentuk ruang.

Kami berpindah karena mengamati. Tim ini tidak pernah berukuran tetap; ia mengembang saat proyek banyak, mengecil saat sepi, dan berubah komposisinya seiring orang datang dan pergi. Ruang yang cocok untuk sepuluh orang belum tentu cocok untuk dua puluh, dan ruang yang pas hari ini bisa terasa salah setahun kemudian. Maka pindah, bagi kami, adalah cara ruang mengikuti orang, bukan orang yang dipaksa tunduk pada ruang.

Kalau dipikir-pikir, ini seperti anak sekolah dasar yang tempat duduknya dipindah-pindah. Ada gunanya ia kadang duduk di depan, kadang di belakang, kadang di samping teman yang berbeda. Dengan berpindah, ia belajar bersosialisasi dengan banyak orang, belajar memposisikan diri, dan merasakan bagaimana dunia terlihat dari baris paling depan sekaligus dari baris paling belakang. Ia tidak terkurung dalam satu sudut pandang. Studio yang berpindah bekerja dengan cara yang sama: ia menolak satu sudut pandang tetap.

Karena itu, yang paling dilatih oleh perpindahan sebenarnya bukan ruangnya, melainkan kesiapan mental orang-orangnya. Bekerja sama dengan banyak orang, dalam susunan yang terus berubah, adalah pelajaran tentang relasi sosial sebelum ia menjadi pelajaran tentang desain. Orang belajar menyesuaikan diri, membaca situasi baru, dan menemukan tempatnya berulang kali. Kelenturan itu tidak tumbuh pada orang yang terlalu lama nyaman di satu kursi.
Glenn Murcutt, arsitek Australia itu, memberi kami contoh tentang bagaimana pribadi berkembang lewat adaptasi. Ia bekerja sendiri, sangat selektif, dan sepanjang kariernya merancang dari rumah-rumah kecil sampai akhirnya sebuah masjid di pinggiran Melbourne. Rentang yang jauh itu tidak ia lompati dengan tetap menjadi orang yang sama; ia menempuhnya dengan terus menyesuaikan diri, membiarkan dirinya berubah oleh setiap skala dan setiap persoalan baru. Kematangan seorang perancang, tampaknya, tidak datang dari menetap, melainkan dari kesediaan berpindah, termasuk berpindah cara berpikir.





Guru yang lebih dekat bagi kami adalah almarhum Eko Prawoto. Di rumahnya di Kulonprogo, dan di karya-karya seperti Rumah Kedondong, ia bekerja dengan cara yang membuat kami, orang kota, harus belajar ulang. Ia memakai struktur rumah Jawa, limasan, sebagai kerangka yang sederhana dan mudah dipahami tukang, lalu membiarkan program ruang tumbuh organik di bawah naungannya. Ruangnya tidak baku. Sebuah limasan bisa menjadi ruang tamu, ruang pertemuan, tempat kuliah, bahkan tempat tidur, tergantung kebutuhan hari itu. Ruang yang “ngowong”, yang dibiarkan longgar, justru bisa menampung apa saja.
Bagi kami yang terbiasa dengan cara kota, ini menampar dengan lembut. Kami terbiasa dengan pola pikir yang serba pasti: satu ruang untuk satu fungsi, semuanya ditentukan sejak awal dan dikunci. Desa mengajarkan yang sebaliknya. Sebuah ruang tidak harus tahu akan menjadi apa; ia cukup disiapkan cukup baik, lalu dibiarkan hidup menemukan gunanya. Fleksibilitas itu bukan kekurangan perencanaan; ia bentuk kearifan yang lain, yang tidak takut pada ketidakpastian.
Dan ada cara lain lagi yang kami pelajari, yang juga jauh dari kebiasaan kota: membangun dari yang sudah jadi. Eko Prawoto mengumpulkan struktur kayu bekas dari berbagai daerah, rumah Jawa Timuran, lumbung dari Bawean, dan memadukannya menjadi sesuatu yang baru. Ini dunia lawasan, dunia jual beli bangunan lama, tempat yang diperdagangkan bukan sekadar material mentah, melainkan bangunan yang sudah pernah hidup, lengkap dengan sejarahnya. Ada tradisi tawar-menawar di dalamnya, ada penghormatan pada apa yang sudah ada. Merakit dari yang sudah jadi menuntut kerendahan hati yang berbeda dari membangun serba baru: ia menuntut kita mendengarkan apa yang bisa dan tidak bisa diminta dari sebuah benda tua.

Semua ini, pada akhirnya, adalah satu pelajaran yang sama: jangan terlalu menetap. Jangan terikat pada satu ruang, satu susunan, satu fungsi, satu cara. Studio yang berpindah, tim yang berubah ukuran, ruang yang dibiarkan longgar, bangunan lama yang dirakit ulang, semuanya mengajarkan hal yang serupa, bahwa hidup yang sehat, seperti ruang yang sehat, adalah yang siap menerima perubahan tanpa ke
