Menerbitkan yang Belum Tentu Laku

Ada satu jenis buku yang barangkali tidak semua penerbit mau menerbitkannya. Bukan karena buku itu tidak penting, melainkan justru karena kepentingannya tidak selalu bisa diukur dengan angka penjualan. Buku semacam itulah yang selama bertahun-tahun kami pilih untuk terbitkan. Dan kami melakukannya bukan karena kami merasa lebih mulia daripada siapa pun, melainkan karena kami percaya ada suara-suara yang akan hilang begitu saja kalau tidak ada yang mau mengabadikannya.

Salah satu yang paling kami sayangi adalah sebuah buku tentang titik awal. Isinya sederhana: catatan tugas akhir para arsitek Indonesia, karya yang mereka kerjakan di masa mereka masih mahasiswa, jauh sebelum nama-nama mereka dikenal seperti sekarang. Di dalamnya ada arsitek-arsitek yang hari ini karyanya dipelajari dan dikagumi banyak orang. Tetapi buku ini tidak menampilkan kemegahan mereka. Ia menampilkan awal mereka: gambar-gambar pertama, gagasan-gagasan yang masih mentah, langkah-langkah pertama yang belum tahu akan menuju ke mana.

Kami mengumpulkannya bukan untuk menunjukkan bahwa mereka dulu belum sempurna, melainkan untuk hal yang sebaliknya: bahwa setiap perjalanan yang besar pun berangkat dari sebuah titik awal yang sederhana. Kami ingin seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhirnya, yang barangkali sedang meragukan dirinya sendiri, bisa membuka buku itu dan menyadari sesuatu yang menenangkan: bahwa para arsitek yang ia kagumi pun pernah berdiri di titik yang sama persis dengan tempat ia berdiri sekarang. Bahwa awal yang belum sempurna bukanlah tanda ia salah jalan, melainkan justru tanda bahwa ia sedang memulai, seperti semua orang sebelum dia.

Buku pertama kami, bertahun-tahun lalu, juga lahir dari semangat yang serupa. Ia tumbuh dari sebuah dialog yang tak kunjung selesai, dan di halaman pembukanya kami mengutip Louis Kahn, yang pernah berkata bahwa sekolah bermula dari seorang lelaki di bawah pohon yang tak tahu ia seorang guru, berbagi kesadarannya dengan beberapa orang yang tak tahu mereka murid. Itulah, bagi kami, awal dari segala pendidikan: bukan gedung, bukan gelar, bukan lembaga, melainkan sekadar orang-orang yang berbagi apa yang mereka ketahui karena mereka mencintainya.

Dan di sinilah kami harus jujur tentang alasan sebenarnya kami terus melakukan ini. Menerbitkan buku-buku semacam ini, yang sebagian besar hasilnya justru kami serahkan kepada para penulisnya, jelas bukan keputusan yang masuk akal secara bisnis. Tetapi ada sesuatu yang kami dapatkan yang jauh lebih berharga daripada keuntungan. Menemukan orang-orang yang sungguh-sungguh mau mendalami arsitektur, ilmu yang kami cintai ini, ternyata tidak mudah. Mereka langka. Dan setiap kali kami menerbitkan sebuah buku bersama seseorang, kami sesungguhnya sedang mengikat sebuah persahabatan, mengumpulkan sesama pencinta di satu meja, membuat mereka tinggal sedikit lebih lama dalam percakapan yang kami cintai. Dalam prosesnya, kami sendiri menjadi lebih memahami apa yang kami kerjakan. Dan sebagai orang-orang yang pada dasarnya membutuhkan sesama, kami merasa ada sesuatu dalam diri kami yang perlahan disembuhkan oleh kebersamaan itu.

Jadi ketika orang bertanya mengapa kami menerbitkan buku-buku yang belum tentu laku, jawabannya bukanlah karena kami dermawan. Jawabannya adalah karena buku-buku itu mempertemukan kami dengan orang-orang yang tanpa mereka, kecintaan kami pada arsitektur akan terasa jauh lebih sepi. Kami memberi, tetapi kami juga menerima. Kolam yang meluap, ternyata, adalah juga kolam yang terus terisi.

Selama bertahun-tahun, mimpi sederhana itu perlahan menjadi lebih dari lima puluh buku. Tetapi yang paling kami syukuri bukanlah jumlahnya, melainkan bahwa di balik setiap satu buku itu, ada seseorang yang tinggal, ada sebuah percakapan yang diabadikan, dan ada satu suara lagi yang tidak jadi hilang.

Leave a Reply