Kenapa Hanya Dua Jam

Ada satu pertanyaan yang datang berulang-ulang kepada kami, hampir setiap pekan, dengan berbagai versi: kenapa kunjungan ke perpustakaan ini dibagi menjadi tiga sesi, dan kenapa setiap sesinya hanya dua jam?

Kami bisa menjawabnya dengan indah, dan jawaban itu tidak bohong: karena dua jam adalah waktu yang cukup untuk singgah. Cukup untuk membaca, menemukan satu-dua hal, menarik napas, lalu kembali melangkah ke kehidupan nyata. Perpustakaan ini memang tidak pernah ingin menelan harimu; ia ingin mengisi ulang, lalu mengantarmu pulang untuk maju lagi.

Tetapi kalau hanya itu yang kami katakan, kami belum sepenuhnya jujur. Karena di balik jawaban yang terdengar bijak itu, ada jawaban lain yang jauh lebih sederhana.

Yang ingin datang banyak. Yang melayani sedikit. Meja depan kami dijaga satu orang. Staf kami tidak banyak, dan setiap kali satu sesi selesai, ada pekerjaan yang tidak terlihat oleh tamu berikutnya: buku-buku yang selesai dibaca harus dikembalikan ke tempatnya, ruangan dirapikan, semuanya disiapkan lagi supaya orang yang datang kemudian menemukan perpustakaan dalam keadaan sebaik orang sebelumnya menemukannya.

Dan orang-orang yang menyambut di sini sebagian adalah para penulis. Kalau mereka menjadi tuan rumah sepanjang hari, kapan mereka menulis? Padahal justru dari tulisan-tulisan itulah perpustakaan ini punya sesuatu untuk terus dibagikan.

Maka sejak awal kami harus memikirkan satu soal yang tidak ada di buku mana pun: bagaimana caranya supaya pengunjung terlayani, penulis tetap bisa bekerja, buku-buku tetap terawat, dan tidak ada satu pun yang tumbang. Jawaban yang kami temukan adalah tiga sesi, dua jam setiap sesinya.

Kami tahu cara ini mungkin tidak optimal. Pasti ada yang pulang merasa kurang lama, dan ada yang tidak kebagian tempat. Tetapi inilah yang terbaik yang bisa kami lakukan dengan tangan yang ada. Dan satu hal ingin kami katakan dengan jelas: batasan ini tidak pernah lahir dari niat untuk berjarak. Tidak ada keinginan membuat tempat ini terasa sulit dijangkau atau hanya untuk kalangan tertentu. Justru sebaliknya: dua jam itu adalah cara kami yang kecil ini menjaga supaya pintu bisa terus terbuka untuk sebanyak mungkin orang, hari demi hari, tanpa ada yang kelelahan di baliknya.

Jadi kalau kau bertanya kenapa hanya dua jam, inilah jawaban kami yang paling jujur: bukan strategi, bukan eksklusivitas, melainkan keadaan yang apa adanya, yang kami terima dengan rendah hati dan kami atur sebaik-baiknya. Semoga dua jam itu, di tangan yang tepat, selalu terasa lebih panjang dari kelihatannya.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading