Dua Kata di Punggung Buku

Kalau ada yang bertanya untuk siapa sebenarnya perpustakaan ini ada, jawabannya tidak perlu kami karang panjang-panjang. Ia sudah tercetak di punggung buku-buku yang kami terbitkan sendiri. Lihatlah judul-judulnya: Filsafat Arsitektur untuk Mahasiswa. Teori Arsitektur untuk Mahasiswa. Cara Menulis Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa. Buku demi buku, dua kata yang sama terus kembali di ujung judulnya, seperti sebuah pengakuan yang tidak bisa kami sembunyikan: untuk mahasiswa.

Kami menuliskan dua kata itu dengan sadar, karena kami tahu satu kenyataan yang jarang diucapkan terang-terangan di dunia arsitektur. Buku arsitektur itu mahal. Sebagian besar yang bagus datang dari luar, berbahasa asing, dan harganya bisa melampaui uang makan seorang mahasiswa untuk berminggu-minggu. Maka terjadilah sebuah ironi yang diam-diam kami saksikan bertahun-tahun: orang-orang yang paling membutuhkan buku-buku itu justru orang-orang yang paling tidak sanggup membelinya. Seorang mahasiswa bisa berdiri lama sekali di depan rak toko buku, membolak-balik sebuah buku yang ia tahu akan mengubah cara berpikirnya, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati, karena isi dompetnya sudah punya rencana lain yang lebih mendesak.

Perpustakaan ini ada untuk orang yang meletakkan buku itu kembali.

Karena itu kami memutuskan sesuatu yang sederhana sejak awal: uang tidak boleh menjadi penjaga pintu bagi siapa yang boleh belajar arsitektur. Buku-buku kami tulis dalam bahasa kita sendiri, supaya pengetahuan yang tadinya terkunci di balik bahasa dan harga bisa duduk lebih dekat dengan yang membutuhkannya. Perpustakaan kami buka dengan basis donasi. Dan bagi pengunjung yang sedang kesulitan keuangan, pintunya bahkan lebih sederhana lagi: cukup menulis surat kepada kami, dan akses itu diberikan. Di dalam, segelas air pun tidak perlu dibeli.

Kami menuliskan ini bukan untuk terdengar dermawan, karena sesungguhnya keputusan itu tidak lahir dari kemurahan hati, melainkan dari ingatan. Banyak dari kami pernah menjadi mahasiswa itu, yang berdiri di depan rak dan berhitung. Kami masih ingat bagaimana rasanya mencintai sebuah ilmu lebih dulu, jauh sebelum sanggup membayar harganya. Maka yang kami lakukan sekarang bukanlah memberi ke bawah, melainkan sekadar mengulurkan tangan ke masa lalu kami sendiri, kepada orang-orang yang sedang berdiri persis di tempat kami dulu berdiri.

Dan dari merekalah kami belajar bahwa kecintaan tidak pernah berbanding lurus dengan kemampuan membayar. Beberapa pembaca yang paling lapar, paling tekun, paling menghidupkan ruangan ini, adalah mereka yang datang tanpa bisa membeli apa-apa. Mereka membayar dengan mata uang yang lain: pertanyaan yang sungguh-sungguh, kehadiran yang setia, dan kelak, kami percaya, dengan meneruskan apa yang mereka terima di sini kepada orang-orang setelah mereka.

Jadi untuk siapa perpustakaan ini ada? Untuk mereka yang mencintai arsitektur sebelum mampu membayarnya. Dua kata di punggung buku itu adalah janji kami yang paling sederhana, dan selama masih ada mahasiswa yang berdiri lama di depan rak sambil berhitung, janji itu belum selesai kami tunaikan.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading