Sekolah arsitektur dunia mengenal dua tradisi besar. Bauhaus mewariskan tradisi rasional, bengkel dan industri, bentuk yang lahir dari fungsi dan logika. Beaux-Arts mewariskan tradisi visual yang monumental, komposisi agung yang dilatih bertahun-tahun. Dan di Nusantara sesungguhnya ada tradisi ketiga yang jarang disebut di buku teks, padepokan, tempat eksperimen, rasionalitas, dan pendekatan bentuk hidup bersama satu hal lagi yang tidak diajarkan dua tradisi pertama, jiwa.
Pekan ini padepokan kecil kami menerima tiga rombongan sekaligus, delapan tamu, sebagian besar orang yang sehari-harinya menggambar ruang. Rombongan Kak Syaukat datang berempat, rombongan Kak Aswin berdua, dan Kak Dimas berdua bersama pasangannya yang sekaligus menikmati private dining, dan yang paling bersemangat melihat sky garden serta mini zoo di puncak.
Para perancang membaca rumah ini dengan mata profesinya. Syaukat Zidane, dari dunia interior, menulis bahwa banyak ilmu didapat dari eksperimen material, layout, dan pengalaman sequence ruang yang menginspirasi, terima kasihnya untuk tim OMAH dan RAW. Aya terkesan pada kesadaran pemanfaatan material sisa dan penggabungan elemen-elemen material yang unik. Ainun menyebutnya such a great place, dan Ridwan pulang dengan wawasan baru. Lalu Kak Aswin, seorang arsitek, menuliskan kalimat yang kami simpan baik-baik, a great experimental architecture test bed, a brilliant use of space, a testament to how future architects should think. Ryan, agen properti, merangkum singkat, great experience and best architecture.
Dan rombongan terakhir membaca sisi yang lain, sisi jiwanya. Kak Dimas, konsultan pajak, menulis bahwa ia happy sekali, the best place to live I ever visit, lalu memberi penghormatan yang membuat kami paling bangga, bukan pada bangunannya melainkan pada orang-orangnya, honorable to Kak Hani, Kak Arya, Mas Aldi, dan Mas Revan. Kak Shifa, sesama konsultan pajak dan pecinta buku, jatuh hati pada perpustakaannya dan berjanji kembali, can’t wait to be back.
Delapan kesan itu, kalau dibaca bersama, persis memetakan tradisi padepokan tadi. Eksperimen material yang dilihat Syaukat dan Aya, rasionalitas ruang yang dibaca Aswin, bentuk yang dinikmati semua mata, dan jiwa yang dirasakan Dimas lewat keramahan orang-orangnya. Sebab di padepokan, bengkel tidak dipisahkan dari rumah, guru tidak dipisahkan dari tukang, dan ilmu tidak dipisahkan dari kehidupan. Kalau para arsitek masa depan, seperti kata Kak Aswin, perlu cara berpikir yang baru, barangkali sebagiannya justru tersimpan di tradisi yang paling tua.
Dan barangkali inilah alasan mengapa tradisi itu terasa makin penting hari ini. Di era ketika hampir semua hal dikomersialkan, kedekatan pun sering berubah menjadi transaksional, ramah karena ada yang dijual, hangat karena ada yang ditagihkan, dan hal-hal yang non-transaksional pelan-pelan menjadi barang langka. Padahal justru itu yang paling diingat orang, Kak Dimas tidak menuliskan harga atau fasilitas, ia menuliskan nama orang-orang. Maka sikap yang kami coba jaga di padepokan ini sederhana saja, tetap lugu, tetap jujur, sembari terus belajar. Dan di era teknologi hari ini, ketika akal imitasi bisa mengerjakan hampir semua yang rasional, sikap selugu itu barangkali justru menjadi yang paling sulit ditiru.
Terima kasih @syaukatzidane, @ainun.narf, @attayainsyira, @ridwanmu17, @discoverwithwin, @rayn88.property, @dimmasbintang, dan @shifaptrr. Padepokan ini hidup karena dikunjungi, ditanyai, dan dibaca oleh mata-mata yang tajam seperti kalian. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya.
#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild
Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:










