Perpustakaan yang Tidak Diam

Ada satu hal yang membuat perpustakaan kami tidak seperti yang biasa dibayangkan orang: ia tidak diam. Perpustakaan, dalam bayangan kebanyakan orang, adalah tempat sunyi tempat buku-buku disimpan dan dijaga. Tetapi sejak awal, yang kami rawat di sini bukanlah kesunyian, melainkan percakapan. Buku-buku ini memang inti kami, tetapi mereka bukan benda mati yang dipajang. Mereka bahan bakar bagi sesuatu yang lebih hidup: orang-orang yang duduk bersama, membaca, berdebat, bertanya, dan saling menajamkan cara berpikir tentang arsitektur.

Sejak hari pertama, lebih dari satu dekade lalu, kami memang lahir dari percakapan. Bukan dari koleksi buku yang kemudian mengundang orang, melainkan dari sekelompok orang yang ingin duduk bersama membicarakan arsitektur di luar ruang kerja dan kedai kopi, lalu buku-buku itu berkumpul dengan sendirinya di sekeliling mereka. Sampai hari ini pun begitu. Kami menyelenggarakan diskusi, kelas, dan sesi dialog tempat praktisi, mahasiswa, akademisi, dan siapa saja yang ingin belajar bertemu di satu ruang.

Dan ruang itu, pada mulanya, kecil sekali. Sebuah ruangan selebar dua koma empat meter dan panjang lima meter, tempat semua orang duduk di lantai, siku bertemu siku, dan pembicara pun duduk bersama di antara mereka tanpa panggung. Pernah suatu kali empat puluh lima orang datang ke ruang sekecil itu. Mereka membludak sampai keluar; yang di dalam berdesakan, dan sebagian yang di luar terpaksa berdiri di atas meja agar bisa melihat, sementara yang lain memayungi diri sendiri agar tidak kepanasan. Kami mengenang itu bukan karena ingin memamerkan ramainya, melainkan karena pemandangan itu mengajari kami sesuatu: bahwa kehausan orang akan sebuah percakapan yang jujur bisa jauh lebih besar daripada ruang yang mampu kami sediakan.

Tetapi percakapan yang baik terlalu berharga untuk berhenti di dinding sebuah ruangan. Maka banyak dari diskusi itu kami rekam, lalu kami bagikan. Siapa saja bisa menontonnya, di mana saja, kapan saja, tanpa harus pernah menginjakkan kaki di tempat kami. Dan di sinilah kami belajar sesuatu tentang sifat percakapan: ia seperti air di kolam yang diisi terlalu penuh. Ia meluap. Ia mengalir keluar dari tepinya, menjangkau tempat-tempat yang tak pernah kami duga, dan sampai kepada orang-orang yang tak pernah kami temui.

Salah satu dari mereka adalah seorang mahasiswa. Kami tidak akan pernah tahu tentang dia seandainya ia tidak datang dan bercerita sendiri. Malam itu, ia sedang berada di titik yang barangkali dikenal oleh hampir semua orang yang memilih jalan ini: ragu. Ia mulai bertanya-tanya apakah ia telah memilih jalan yang benar. Arsitektur adalah jalan yang panjang, dan kadang beratnya membuat orang diam-diam bertanya apakah ia cukup kuat untuk menempuhnya. Di malam yang seperti itu, ia menonton salah satu rekaman diskusi kami, sebuah sesi tentang memori pahit dan manis dalam menekuni desain.

Yang menolongnya, ia bilang kemudian, bukanlah janji bahwa jalannya akan menjadi mudah. Justru sebaliknya. Yang menolongnya adalah kejujuran: mendengar orang-orang yang telah lebih dulu menempuh jalan itu berbicara terus terang tentang beratnya, tentang keraguan mereka sendiri, dan tentang bagaimana mereka tetap bertahan. Ia menyadari sesuatu yang sederhana tetapi menenangkan, bahwa jalan yang panjang itu tidak harus ditempuh sendirian. Bahwa ada teman, ada keluarga, ada relasi, ada sesama profesional yang menopang di sepanjang jalan. Dan bahwa arsitektur bukan satu jalur sempit yang kalau tersandung habislah segalanya, melainkan sebuah jalan dengan banyak percabangan, banyak cara menempuhnya.

Beberapa waktu kemudian, ia datang langsung ke salah satu seminar kami. Dan setelah acara selesai, ia menghampiri dan menceritakan semuanya. Ia melanjutkan. Ia menyelesaikan studinya, lalu mulai berpraktik, dan kini menekuni jalan yang sempat ia ragukan itu. Bukan karena jalannya ternyata mudah, melainkan karena ia tak lagi menempuhnya sendirian. Bagi kami, itulah lingkaran yang menutup. Sebuah percakapan yang lahir di ruang kecil ini pernah meluap keluar lewat sebuah layar, menemukan seorang mahasiswa di malam ia sedang ragu, lalu membawanya kembali ke ruang tempat percakapan itu bermula, kali ini bukan sebagai penonton yang jauh, melainkan sebagai orang yang menambahkan ceritanya sendiri ke dalam percakapan itu.

Kami tidak pernah menganggap diri kami penyembuh keraguan siapa pun. Kami hanya berusaha menjaga satu hal tetap hidup: sebuah ruang tempat orang-orang bisa jujur satu sama lain tentang arsitektur, tentang beratnya, tentang manisnya, tentang keraguan dan harapannya. Dan kami percaya bahwa ketika kejujuran seperti itu dibagikan tanpa dihitung-hitung, ia akan meluap dengan sendirinya, menemukan orang-orang yang membutuhkannya, bahkan yang berada jauh di luar jangkauan pandangan kami.

Itulah, barangkali, mengapa perpustakaan ini tidak diam. Karena yang kami simpan di sini pada akhirnya bukanlah buku, melainkan percakapan yang menolak berhenti, dan terus meluap, sampai batas antara “di dalam” dan “di luar” menjadi begitu tipis hingga nyaris hilang.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading