Kebanyakan perpustakaan dimulai sebagai gedung: dirancang, dibangun, diresmikan, lalu diisi buku. Perpustakaan kami dimulai dengan urutan yang terbalik. Ia bermula sebagai sebuah paviliun kecil di garasi sebuah rumah, tempat beberapa orang berkumpul di akhir pekan untuk membicarakan arsitektur, dan buku-buku datang belakangan, satu demi satu, mengikuti percakapan itu seperti anak-anak yang mengikuti suara ramai.



Nama kami sendiri sudah mengakuinya. Omah, dalam bahasa Jawa, berarti rumah. Dan memang di dalam rumahlah perpustakaan ini lahir: dari koleksi pribadi, dari buku-buku yang terkumpul dari lingkaran kawan dan kolega, di sela-sela sebuah rumah tinggal yang juga menampung sebuah studio kecil. Kami tidak pernah berniat mendirikan sebuah lembaga. Kami hanya tidak ingin percakapan yang kami cintai itu berhenti, dan ternyata percakapan yang dijaga terus-menerus lama-lama membutuhkan rak, lalu ruangan, lalu rumah.
Ketika kemudian keluarga ini membangun rumah baru di Meruya, terjadilah sesuatu yang barangkali menjelaskan seluruh watak perpustakaan ini: ia tidak dititipkan di sisa ruang, melainkan rumah itulah yang dirancang untuk memberinya tempat. Ruang perpustakaannya dibenamkan sebagian di bawah permukaan taman, supaya suhunya tetap sejuk dan stabil, supaya buku-buku terawat tanpa harus terus-menerus bergantung pada pendingin ruangan. Sebuah rumah yang meneduhkan buku-bukunya seperti meneduhkan anggota keluarganya sendiri. Di akhir pekan, pintunya dibuka untuk umum, dan orang-orang yang tak kami kenal mulai berdatangan ke dalam rumah, duduk di antara koleksi pribadi yang perlahan berhenti menjadi pribadi.



Lalu rumah itu berubah lagi, tumbuh menjadi gua bambu yang sekarang, dan perpustakaan ikut tumbuh bersamanya. Koleksinya kini berlipat-lipat dari rak pertama di garasi dulu, percakapannya beranak-pinak menjadi kelas, diskusi, penerbitan, dan ia mulai memiliki kehidupannya sendiri, lengkap dengan tanaman, hewan, dan orang-orang yang datang dan pergi. Tetapi satu hal tidak pernah berubah dari asal-usulnya: ia tetap tinggal di dalam rumah. Ia tidak pernah pindah ke gedung yang berdiri sendiri, yang megah dan berjarak. Setiap orang yang datang ke perpustakaan ini sesungguhnya sedang bertamu ke sebuah rumah, dan barangkali itulah yang membuat percakapan di sini terasa berbeda: orang berbicara lebih jujur di ruang tamu daripada di aula.



Kini kebiasaan itu mulai menyebar, tumbuh di beberapa kota sekaligus. Tetapi kami berhati-hati untuk tidak salah membaca pertumbuhan itu. Yang menyebar bukanlah gedung, bukan cabang, bukan papan nama. Yang menyebar adalah sebuah kebiasaan: orang-orang duduk bersama, membicarakan apa yang mereka cintai, dan menjaga percakapan itu tetap hidup lebih lama dari pertemuan mana pun.



Maka kalau ada yang bertanya dari mana perpustakaan ini berasal, jawabannya bukan sebuah alamat. Asal-usul kami adalah sebuah kebiasaan yang bermula di garasi: kebiasaan berkumpul, bertanya, dan tidak membiarkan kecintaan pada arsitektur dirasakan sendirian. Ia lahir di sebuah garasi. Dan artinya, ia bisa lahir lagi, kapan saja, di garasi siapa pun.
