Five Discourse: Arts, Cities, and Architecture | Ep. 4 Sejarah – Bayu Genia K

Seni rupa dan arsitektur pada hakikatnya adalah saudara kandung dalam keluarga besar kesenian visual (visual arts).

Dalam diskursus seni era Renaisans di Eropa, karya arsitektural Donato Bramante, Tempietto (1502-1510)-sebuah martyrium di kawasan plaza Gereja San Pietro in Montorio, Roma-dianggap sebagai mahakarya yang sama pentingnya dengan patung David (1501-1504) karya Michelangelo, lukisan Monalisa (c. 1503-1506, kemungkinan berlanjut hingga c. 1517) karya Leonardo Da Vinci, dan lukisan fresco The School of Athens (1509-1510) karya Raphael.

Pada perkembangannya, terutama setelah abad ke-19, disiplin keilmuan arsitektur terombang-ambing dalam perdebatan antara diskursus seni, sains, dan teknik. Lalu bagaimana diskursus ini berkembang di Indonesia?

Kelas ini akan mencoba mengajak kita untuk membincangkan persoalan arsitektur melalui perspektif sejarah perkembangan seni rupa modern Indonesia yang bermula sejak era kolonial, utamanya abad ke-19 sebagai titik awal, hingga era kontemporer. Dapat kita amati dan diskusikan bagaimana kedua disiplin ini secara dialektis saling pinjam-meminjam pendekatan satu sama lain, membangun suatu praktik artistik yang interdisipliner.


Video Rekaman Kelas


Beberapa kelas Five Discourse: Arts, Cities, and Architecture lainnya bisa diakses di bawah ini:

Five Discourse: Arts, Cities, and Architecture | Ep. 5 Pameran – Ayos Purwoaji

Seni rupa dan arsitektur kerap dilihat sebagai dua praktik berbeda. Seni rupa dianggap lebih intuitif, sementara arsitektur memiliki pendekatan lebih rasional. Sesi obrolan ini akan bertolak dari pandangan dikotomis tersebut dan mempertanyakan ulang relevansinya saat ini di tengah semakin banyaknya pameran arsitektur yang “ngartsy” dan pameran seni yang menggunakan narasi…

Five Discourse: Arts, Cities, and Architecture | Ep. 3 Refleksi – Alia Swastika

Public art menjadi gagasan identitas kota melalui seni lokal. Strateginya dengan mengajak seniman mapan menjadi pembentuk wajah baru suatu kota. Graffiti, street art, dan urban culture lainnya sudah menjadi budaya umum di kehidupan kita. Sesuatu yang semula identik sebagai simbol pemberontakan sekarang dipandang menjadi wajar, terlebih pada kalangan anak muda.…

Five Discourse: Arts, Cities, and Architecture | Ep. 2 Karakter – Alia Swastika

Pada dasarnya estetika menjadi bagian dari pengalaman indrawi sehingga estetika urban dapat dilihat sebagai pengalaman indrawi yang dapat dibangun melalui lingkungan perkotaan dengan mengambil pertimbangan posisi teoritis lain seperti kajian perkotaan, geografi, manusia, teori perencanaan hingga kritisisme arsitektur. Karya seni urban yang memiliki jangka waktu instalasi cukup panjang bahkan mungkin…

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s