Cermin Arsitek – Nous

Rangkuman oleh Lu’luil Ma’nun

Dirangkum dari Kuliah tanggal 03.11.2021, diisi oleh Indah Widiastuti, moderator: Realrich Sjarief, host: Lu’luil Ma’nun

https://www.google.com/search?q=mirror+refleksi+diri&tbm=isch&ved=2ahUKEwjy0_SbgYv0AhU5kdgFHSg_ARwQ2-cCegQIABAA&oq=mirror+refleksi+diri&gs_lcp=CgNpbWcQAzoHCCMQ7wMQJzoECAAQQzoFCAAQgAQ6BggAEAgQHlCXB1iaHWDkIGgAcAB4AIABY4gB4QiSAQIxNZgBAKABAaoBC2d3cy13aXotaW1nwAEB&sclient=img&ei=AkWKYfLKDbmi4t4PqP6E4AE&bih=789&biw=1600#imgrc=lIjze5_fg_p61M

Adanya upaya untuk menjelaskan desain yang telah selesai terkadang menimbulkan sebuah permasalahan. Disebabkan oleh ketidakmampuan desainer dalam mengkomunikasikan desain mereka dengan baik. Oleh karena itu desainer sebagai manusia perlu belajar untuk mengasah diri agar proses analisis desainnya menghasilkan keputusan-keputusan yang baik dan benar. Dengan kata lain mengawali proses desain dengan niatan untuk kebaikan. Indah Widiastuti punya perhatian terhadap fenomena ini, dimana “kadang-kadang desain harus dijelaskan, namun ternyata kadang-kadang tidak bisa begitu saja bisa untuk dijelaskan”. Karena sejatinya desainer, arsitek sudah selesai mendesain di kepala mereka sejak melihat site, namun ada sebuah proses untuk menstransformasikan isi kepala menjadi sebuah gambar dan kata-kata. Proses inilah yang menurut belaiu kadang menimbulkan permasalahan, salah satunya karena desainer, arsitek belum mengenali diri mereka sendiri dan adanya keterbatasan bahasa.

Sering kali ketika Indah mengikuti webinar tentang arsitek-arsitek yang menjelaskan karyanya. Beliau kadang-kadang memiliki keraguan, terkait jawaban dari “Apa makna arsitektur bagi arsitek tersebut? Apa arti arsitektur bagi arsiteknya?” Karena jika dilihat dari karyanya, mungkin ada banyak hal yang tidak bisa diceritkan. Adanya samacam tuntutan bahwa “Proses kreatif harus dijelaskan” inilah yang membuat Indah Widiastuti mencoba mundur untuk melihat kembali ke belakang, berhadapan dengan situasi pada saat zaman-zaman Aristoteles, ketika pikiran, spirit, tubuh, jiwa belum dilihat sebagai sesuatu yang terpisah-pisah secara segregated, tapi semuanya menyatu menjadi satu. Aristotelas menuliskan konsep kebajikan Aristoteles di dalam buku “Nichomachean Ethic Book IV” (300SM) yang terdiri dari 10 Bab. Indah membayangkan karya Aristoteles ini sebagai nasehat seorang ayah kepada anaknya terkait “bagaimana menjadi orang baik”.

Buku ini menjelaskan tentang keseimbangan semesta yang digambarkan sebagai kecerdasan kosmik (Seperti keseimbangan orbit-orbit bulan, bumi, planet) yang oleh Aristoteles kemudian di dirikan terhadap pikiran manusia. Dalam pembahasan Bab 6 dibahas khusus mengenai konsep kebajikan seperti: Nous, Techne, Episteme, Phronesis dan Sophia (Wisdom). Karena manusia memiliki sifat “menghakimi”, maka manusia perlu “belajar sambil bekerja – bukan belajar untuk bekerja”. Hal inilah yang mendasari kenapa manusia perlu belajar tentang kebajikan. Kebajikan (Virtue) adalah semua cara yang diupayakan supaya tindakan sampai pada tujuan yang tepat sasaran. Jadi manusia bisa belajar untuk tidak hanya menghakimi, tetapi belajar “menghubungankan konteks-konteks kenapa sesutu dapat terjadi” secara mendeatil.

Konsep kebajikan (Empat tipe pengetahuan dalam kebajikan intelektual) dapat dijelaskan secara sederhana bahwa episteme berarti pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami asal-muasal sebuah pilihan dan, mengetahui seberapa rasional dari tindakan penentuan sebuah  pilihan, sehingga episteme menjasi sebuah kebutuhan yang tidak boleh untuk tidak kita ketahui. Phronesis adalah serangkaian tindakan yang baik (good action) yang tidak untuk diketahui tapi untuk dilakukan, karena pada dasarnya phronesis bukanlah karya atau pengetahuan, tapi kebajikan itu sendiri. Kadang-kadang seseorang dapat melakukan sesuatu tapi dia tidak sadar, setalah melakukan baru mereka bisa mempelajari dan menjelaskannya, itulah phronesis. Techne merupakan kapasitas untuk membuat (Origin berada pada diri ‘sang pembuat’ (the maker), bukan pada apa yang dibuatnya. Sophia, Bentuk pengetahuan yang paling sempurna hingga mencapai alam kecintaan pada apa yang sedang di kerjakan. Dan Nous adalah kapasitas seseorang untuk membangun wawasan, kecerdasan, dan kemampuan untuk memperoleh kebijaksanaan intelektual.

Aristoteles menggambarkannya seperti seseorang yang sedang memanah. Orang yang memanah tidak sekedar tau busur & panah, tidak sekedar menembakkan tapi dengan teknik paraboloida dsb, dalam proses ini sebetulnya mereka sedang mengenal dirinya sendiri, apakah saya orang yang mudah panik, apakah saya orang yang mudah tersinggung, apakah saya bisa merasakan arah angin dsb, agar bisa menjaga keseimbangan untuk melepas anak panah agar tepat sasaran. Namun hal-hal seperti ini tidak semuanya bisa di ukur & di jelaskan. Ukurannya dalah “Kalau dia sampai pada tepat sasaran, berarti dia sampai pada kebenaran tersebut”.

Dalam kaca mata Aristoteles “Yang penting prosesnya baik & tujuannya untuk kebaikan”. Jadi mandad dari segala bentuk kesenian dan penelitian itu adalah kebajikan.

Relevansinya dalam bidang arsitektur, desain juga seperti itu, ukuran arsitek bukan sekedar karya dan gagasan-gagasannya, tapi dimulai sejak mengenali jiwanya sendiri dan membuat pilihan-pilihan (proses analisis yang baik) sampai peristiwa yang menempati arsitektur itu. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagian. Kebahagian client sampai pada lingkungan sekitarnya.

Karena pada dasarnya manusia membuat pilihan-pilihan. Maka manusia akan memilih & bertindak. Untuk dapat membuat pilihan dan menentukan pilihannya untuk bertindak, manusia butuh dipandu. Di pandu oleh siapa? Di pandu oleh jiwa yang baik untuk menghasilkan pilihan yang pas/pilihan yang benar. Untuk membuat jiwa menjadi baik, membutuhkan input pengetahuan yang menggairahkan dan benar, sehingga ia dapat melahirkan keinginan yang baik untuk memunculkan tindakan yang baik. Ketika proses ini terjadi, disitulah derajat Nous bekerja. Aristoteles menyebutkan bahwa kebaikan itu brsifat ilahiah, karenanya harus dilakukan dengan benar. Jadi adanya tuntutan untuk benar, bukan sekedar tanggung jawab rasional saja, tapi tanggung jawab spiritual. Sehingga kebenaran akhirnya menjadi bidikan pengetahuan. Di dalam desain juga seperti itu, ketika proses desain terjadi, maka disitulah derajat Sophia, derajat Episteme, derajat Phronesis, dan derajat Techne semuanya akan saling bersinergi. Sehingga masing-masing derajat ini mengantarkan pada bibit pengetahuan yang benar.

Sebenarnya konsep kebajikan ini ada didalam kehidupan kita sehari-hari, terutama didalam konteks pendidikan arsitektur. Episteme atau ilmu pengetahuan memiliki porsi paling besar, karena didunia pendidikan kita lebih banyak belajar dengan mendengarkan. Phronesis merupakan kecerdasan taktikal dalam bertindak, namun di dunia pendidikan yang didominasi oleh gaya balajar mendengarkan, ruang untuk melatih kecerdasan taktikal sangat sedikit. Hal ini menimbulkan gap antara pelajaran di universitas & dunia praktik. Beruntungnya di dalam dunia pendidikan ada techne, yang disimulasi kedalam studio desain, yang diperkuat dengan kuliah praktik dan profesi. Walaupun pembelajaran ini terhitung optional, dalam kata lain kebijakan atau gaya pembelajaran setiap universitas bisa berbeda-beda. Sophia merupakan ranah yang lebih personal yang membentuk keberanian & kecintaan dalam berkarya. Keseimbangan keempat kecerdasan ini mmebentuk sebuah Nous, kapasitas untuk membangun wawasan, kecerdasan, dan kemampuan untuk memperoleh kebijaksanaan intelektual. Kadar Nous dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Kaitan Nous dengan kapasitas seseorang, membuat para penanggap dalam kelas Nous ini membawa Nous kedalam konteks mereka masing-masing. Seperti Revianto B. Santosa, membawa kedalam Konteks Penyadaran, bahwa sebenarnya Nous merupakah sebuah awal ataukah akhir?. Johannes Adiyanto, membawa kedalam konteks pendidikan arsitektur, terkait pemikiran bagaimana memberi mahasiswa kesempatan untuk intuitif?. Linda Oktavia, membawa ke konteks Real Life untuk mempertanyakan tujuan hidup dan peran sosial. Ronny Gunawan membawa kedalam untuk memaikan peran keseimbangan antara Arsitek, Urban design, Desainer landskap dll. Yuswadi Saliya membawa ke konteks kehidupan sehari-hari, bahwa dalam dunia kerja kita harus terus belajar. Nanda Widyarta membawa ke konteks persoalan yang aktif, seperti kesenjangan perkampungan dan perkotaan. Undi Gunawan membawa ke konteks batas-batas berfikir & tantangannya, zaman Aristotels dan sekarang kira-kira apa yang masih relevan atau apa yang tidak, karena perlu disadari bahwa memang zamannya sudah berbda. I Nyoman Gede Mahaputra membawa ke konteks proses untuk mendapatkan Nous, dimana tergantungan oleh lingkungan eksternal & internal kita. Dan Eko Prawoto membawa ke konteks bahwa sebesar apapun seorang individu tetap memerlukan insight, yang berarti bahwa kita perlu terus belajar untuk terus bertumbuh.

Konteks-konteks dari para penanggap membuka wawasan audience untuk dapat juga membawa Nous kedalam konteks diri mereka masing-masing. Dari paparan pemateri, para penanggap dan pertanyaan-pertanyan audience dapat disimpulkan bahwa dalam upaya memilih yang pas untuk keputusan desain, kadang-kadang harus ada yang dikorbankan, kadang-kadang harus ada yang dilepas, kadang-kadang harus ada yang ditambahkan dll (Proses ini bisa berbeda-beda pada setiap orang, sehingga kesadaran pribadi menjadi fundamental). Menurut Indah “Proses pencarian yang pas” ini merupakan sebuah penegasan bahwa “belajar” itu bukan tujuan, belajar adalah alat untuk melakukan kebaikan. Desainer, Seniman, Arsitek dll secara umum mereka bekerja untuk tujuan kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s