Apresiasi Konteks – Silent Client

Rangkuman oleh Lu’luil Ma’nun

Dirangkum dari kuliah tanggal 16.09.2021, diisi oleh Eko Prawoto, moderator: Realrich Sjarief, host: Hanifah Sausan Nurfinaputri

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fmiro.medium.com%2Fmax%2F3840%2F1*UPwiXB4kdTyo4_bapM22rQ.jpeg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fthecreative.cafe%2Fsilence-will-speak-63b0ca2dd187&tbnid=qzeBs9sHp3pX-M&vet=12ahUKEwjag9jij4v0AhU6KbcAHS6PAHQQxiAoCHoECAAQIQ..i&docid=tod1dQ9v7_AibM&w=1920&h=1271&itg=1&q=silent%20picture&ved=2ahUKEwjag9jij4v0AhU6KbcAHS6PAHQQxiAoCHoECAAQIQ

Eko Prawoto menyebut desainnya biasa-biasa saja, tak ada
yang istimewa, sederhana dan sesuai dengan lingkungannya di kehidupan sehari-hari.Menurut belaiau mendesain adalah proses menyalurkan niat dan tekad tentang mencari upaya pengejawantahan nilai (Tentang bagaimana gagasan-gagasan
yang ideal atau dianggap penting diwujudkan melalui materi dalam suatu tempat), dengan kata lain  Arsitektur tidaklah bebas, selain memilki relasi langsung dengan client dan program ruang, juga relasi dengan sekitarnya secara sosial, budaya dan lingkungan yang disebut Silent Client. Hal ini
menimbulkan sebuah pertanyaan, seberapa otentik relasi-relasi itu bisa diwujudkan? Menurut Pak Eko, ketika kita meletakkan aritektur pada sebuah site harus dengan kesadaran bahwa ini sementara. karena itu, maka site
harus lebih diapresiasi, jadi sebisa mungkin jangan terlalu banyak merubaH. Karena setiap site itu unik, sehingga perlu menemukan keunikan dari tiap-taip site.

Desain adalah sesuatu yang sementara, Ia harus berdialog
dengan kehidupan sekitarnya, tidak memisahkan. Membaca kontext sama dengan mengkonstruksi kontext (Apa yang kita lihat, angankan dan kita susun) butuh kecermatan. Kontext dimaksnai sebagai hubungan yang mnjadi dasar bahwa arsitektur menjadi milik bagi site. Ini merupakan upaya yang sadar dalam memilih dan tidak netral. Bagi beberapa orang mungkin pohon, batu itu tidak terlalu penting, mungkin yang penting adalah kontur yang datar, kontur yang naik turun tidak penting dll. Proses memandang inilah yang penting, nurani yang berbicara. Proses ini merupakan rekaan atau
imaginasi kita tentang kontext itu sendiri, apa yang kita potret, apa yang kita apresiasi, yang mungkin setiap orang bisa berbeda. proses ini butuh waktu.

Pertanyaannya adalah seberapa otentik relasi itu bisa diwujudkan?

Pak Eko menjawab bahwa intervensi aritektur harus lebih
rendah dari site atau alamnya. Jadi ketika kita meletakkan arsitektur pada sebuah site harus dengan kesadaran bahwa ini sementara. karena itu maka site harus lebih diapresiasi, jadi sebisa mungkin jangan terlalu banyak merubah. Menempatkan bangunan, berarti berfikir tentang mendudukan, meletakkan, atau mendirikan untuk singgah atau mampir. Bagaimana status objek. Karena tidak bebas, maka ada semacam etika, atau aturan, atau rambu-rambu tentu kita harus saadar diri, tahu diri, sdar batas (Secukupnya).

Lalu muncul pertanyaan baru, Kalau kita diminta
secukupnya, Cukup untuk apa? cukup bagi siapa? Seberapa kita mengambil area?, Seberapa kita merumuskan tentang wilayah gerak kita ?, Seberapa kita bisa membingkai kebebasan kita?, Sebebas apa sebetulnya yang boleh kita lakukan? (Ini persoalan dalam berarsitektur). Pak Eko mengatakan bahwa batas-batas ini sangat lentur, karena kontext juga tentang relasi, tentang kebersamaan. Relasi itu bukan hanya satu dengan satu, tapi relasi terhdapa apa ? terhdapa siapa ? banyak speknya. sehingga pemikirannya tentu tentang kebersamaan, tapi juga tentang keseimbangan, tentang proporsi. kalau kita berbicara tentang keseimbangan (Balance and Proportion) itu dimaknai sebagai komposisi visual, tapi sebetulnya keseimbangan dan proporsi tiu adalah juga tentang rasa, tentang kepantasan, dan kita pasti merusak alam, entah sedikit entah banyak. Sehingga kita kadang-kadang harus mengambil tapi harus juga memberi. Arsitektur masuk kedalam sistem yang lebih besar, bukan memisahkan, bukan memotong-motong, bukan kemudian membentengi diri, tapi bagaimana kita menjadi satu dengan sekitarnya.

Pak Eko Prawoto menyebut, ada 8 poin dalam mendesain:

  1. Membaca Site. Menghargai apa yang ada, karena site sudah berada disana jutaan tahun yang lalu. Ada memory, ada peran, ia bagian dari rangkain alam semesta. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan pemutusan hubungan. ntah itu aliran air, udara, cahaya matahari, siklus migrasi binatang, dan banyak hal ini mesti kita lihat.
  2. Mengartikulasi Site. Perlu menggarisbawahi atau mengartikulasikan apa yang sudah ada dan baik. kita tampung dan gak boleh berubah, ini sedikit boleh berubah, ini jangan, menambah saya secukupnya sebagai koleksi alam stempat. memunculkan apa yang unik.
  3. Menyatu dengan Sekitar. Harus seimbang apa yang kita ambil dan beri, ada ketulusan disitu. nilai-nilai sosial, kepantasan budaya semuanya adalah dialog membngaun relasi dalam 1 kontext. Kontext juga tentang relasi, kebersamaan. Relasi itu bukan hanya satu dengan satu, tapi relasi terhdapa apa ? terhdapa siapa ? banyak speknya. sehingga pemikirannya tentu tentang kebersamaan, tapi juga tentang keseimbangan, tentang proporsi.
  4. Tangan yang Mengerjakan. Tukang merupakan agian dari masyrakat, dari struktur sosial setempat ada. Keterampilan yang dimiliki oleh mereka, tentang musim, kondisi tanah, bahan yang bisa dipakai dll. Ini sangat penting dimunculkan dalam desain kita. melanjutkan perpanjangan dari budaya yang sudah ada, demi keberlanjutan budaya setempat.
  5. Bentuk Bukan Tujuan Akhir yang ditentukan oleh desainer, tapi berbagai faktor didalanmnya. bentuk akan selalu berganti sampai diterima olheh alam dan diambilnya kembali. tentang kesadaran sementara. peran kita bukan satu-satunya tapi masing-masing boleh berperasn disitu.
  6. Bahan adalah Elemen Landscape. Metaforanya merupakan bahasa atau kata untuk menyapa alam sekitarnya. bahan adalah jembatan rasa untuk menyambung komunikasi dan silaturrahmi dengan sitenya. Adalah diri dan ekspresi kesejatian yang mengejawantah. bisa mengeksprsikannya dengan sejati. Yang penting tukang-tukang yang mengerjakan harus senang, Mereka butuh tulus dan memahami desain, mereka butuh diberi ruang untuk menaruh sebagian dirinya dalam karya itu. proses ini sangat menyenangkan.
  7. Ruang adalah Setting Kehidupan. Satu rangkaian menerus dengan berbagai nuansa. Titik simpul peristiwa yang ada canda dan tawa, ada emosinya. bungan puspa yang menyapa raga dan jiwa. ini kehidupan, bukan sebuah puncak teknologi atau karya yang sophisticated. inilah ekspresi dari kehidupan biasa-biasa saja kadang-kadang perlu dirayakan.
  8. Detail dan Artikulasi. Merupakan wujud perayaannya. Mungkin diranah kecil, mungkin dipertemuan dinding, atau ditempat persilangan jalan setapak atau yang lain. Merupakan sentuhan dan sapaan, ini bisa dilihat sebagai bincang atau percakapan antara kenangan jejak kerja. ruang untuk tukang menaruh rasa disitu, jadi yang diartikalasi ada dimana-mana.

Eko Prawoto berhasil memberi sentuhan dalam setiap desainnya (Yang beliau anggap sederhana) menjadi desain yang istimewa dengan detail-detail unik yang disebut sebagai estetika ndeso. Desainnya sangat konsen terhadap keselarasan antara site, sekitar, masyarakat, bentuk, bahan atau elemen landscape, ruang, detail dan artikulasi yang diramu secara bersamaan kedalam sebuah desain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s