Contextual Method #2 – Being Creative + Critical in Context – Eko Prawoto

Eko Prawoto menyebut desainnya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, sederhana dan sesuai dengan lingkungannya di kehidupan sehari-hari.Menurut belaiau mendesain adalah proses menyalurkan niat dan tekad tentang mencari upaya pengejawantahan nilai (Tentang bagaimana gagasan-gagasan yang ideal atau dianggap penting diwujudkan melalui materi dalam suatu tempat), dengan kata lain  Arsitektur tidaklah bebas, selain memilki relasi langsung dengan client dan program ruang, juga relasi dengan sekitarnya secara sosial, budaya dan lingkungan yang disebut Silent Client. 

Pak Eko menjawab bahwa intervensi aritektur harus lebih rendah dari site atau alamnya. Jadi ketika kita meletakkan arsitektur pada sebuah site harus dengan kesadaran bahwa ini sementara. karena itu maka site harus lebih diapresiasi, jadi sebisa mungkin jangan terlalu banyak merubah. Menempatkan bangunan, berarti berfikir tentang mendudukan, meletakkan, atau mendirikan untuk singgah atau mampir. Bagaimana status objek. Karena tidak bebas, maka ada semacam etika, atau aturan, atau rambu-rambu tentu kita harus saadar diri, tahu diri, sdar batas (Secukupnya). Pak Eko Prawoto menyebut, ada 8 poin dalam mendesain:

  1. Membaca Site (Menghargai apa yang ada di site).
  2. Mengartikulasi Site (Memunculkan apa yang unik).
  3. Menyatu dengan Sekitar (Tentang kebersamaan, tentang keseimbangan, tentang proporsi).
  4. Tangan yang Mengerjakan (Tukang lokal demi keberlanjutan budaya setempat).
  5. Bentuk Bukan Tujuan Akhir yang ditentukan oleh desainer (Masing-masing boleh berperan).
  6. Bahan adalah Elemen Landscape (Metaforanya merupakan bahasa atau kata untuk menyapa alam sekitarnya).
  7. Ruang adalah Setting Kehidupan (Satu rangkaian menerus dengan berbagai nuansa).
  8. Detail dan Artikulasi (Merupakan sentuhan dan sapaan).

Eko Prawoto berhasil memberi sentuhan dalam setiap desainnya (Yang beliau anggap sederhana) menjadi desain yang istimewa dengan detail-detail unik yang disebut sebagai estetika ndeso. Desainnya sangat konsen terhadap keselarasan antara site, sekitar, masyarakat, bentuk, bahan atau elemen landscape, ruang, detail dan artikulasi yang diramu secara bersamaan kedalam sebuah desain.


Video will be updated.

Kuliah tanggal 16.09.2021, diisi oleh Eko Prawoto, moderator: Realrich Sjarief, host: Hanifah Sausan Nurfinaputri


Testimoni Peserta

Diskusi menarik dan sangat menggugah wawasan dan pengetahuan untuk menjadi kreatif serta kritis dalam kontesktual
Ulfa An Naafi

Pak eko menghabiskan waktu berapa lama dalam sehari untuk melamun ya? untuk menyederhanakan pemikiran yang kompleks tersebut. menarik
Agung

acaranya sangat bagus karena mampu memberikan pandangan baru dalam dunia desain dan arsitektur
Wensen Jhonnatan

seru sekali, karena bisa membuka wawasan. Apalagi saya masih smt 3 Arsitektur dan masih membutuhkan amunisi untuk kedepannya
Muhammad ardhian samudra

terimakasih atas kuliah ini sebelumnya saya agak kurang PD dalam berkarya, karena belakangan saya memiliki keterbatasan untuk mengeksplore dan mengoleksi pengalaman ruang, ada sedikit ketakutan tidak bisa memberikan yang terbaik dalam design saya, karena pengalaman meruang saya terasa tumpul. Terimakasih untuk Masukan Dari Pak Eko, untuk memperkaya diri saya dengan apa yang ada untuk lebih di maknakan yang sedikit tadi. tidak selalu melulu menambahkan dan mengoleksi banyak hal. Tetapi memperkuat dan mengelolah yang sudah ada. Matur nuwun Pak Eko dan Tim Omah yang sudah mengadakan acara ini.
Yuliana Susi Susanti

Menarik sekali bagi saya. Saya sendiri belum begitu mengenal banyak tentang arsitektur. Begitu banyak orang hebat di dalamnya yang memiliki banyak pengalaman, ilmu, dan perbedaan pandangan dengan pembawaan yang santai. Topik yang disampaikan sangat menarik. Banyak sekali diskusi dan pertanyaan yang bagus di dalamnya. Terima kasih.
Iswahyudi


Berikut ini adalah transkrip diskusi yang terjadi pada saat berlangsungnya kuliah tanggal 16.09.2021, diisi oleh Eko Prawoto, moderator: Realrich Sjarief, host: Hanifah Sausan Nurfinaputri



Pembicara

Eko Prawoto

Dalam banyak karyanya, Eko Prawoto memperlakukan proses desain arsitektural sebagai proses kelahiran. Ia memiliki perspektif tentang hubungannya dengan klien yang lekat dengan kebutuhan pengguna. Ia memposisikan dirinya layaknya bidan yang membantu proses persalinan. Dalam sudut pandang yang lain, Eko Prawoto menunjukkan ketrampilan di dalam menyusun bentuk menggunakan bahasa keseharian, bahasa vernakular yang praktis, lugas, dan apa adanya. Dari bahasa-bahasa tersebut, proyek mendapatkan efisiensi dari proses ketukangan yang dimulai dari proses pemilihan material, prosesContinue reading “Eko Prawoto”

Detailed Summary

Apresiasi Konteks – Silent Client

Rangkuman oleh Lu’luil Ma’nun Dirangkum dari kuliah tanggal 16.09.2021, diisi oleh Eko Prawoto, moderator: Realrich Sjarief, host: Hanifah Sausan Nurfinaputri Eko Prawoto menyebut desainnya biasa-biasa saja, tak adayang istimewa, sederhana dan sesuai dengan lingkungannya di kehidupan sehari-hari.Menurut belaiau mendesain adalah proses menyalurkan niat dan tekad tentang mencari upaya pengejawantahan nilai (Tentang bagaimana gagasan-gagasanyang ideal atau dianggap penting diwujudkan melalui materi dalam suatu tempat), dengan kata lain  Arsitektur tidaklah bebas, selain memilki relasi langsung dengan client danContinue reading “Apresiasi Konteks – Silent Client”


Contextual Method #7 – Berkelanjutan – Paulus Mintarga

Ada 3 aspek yang menjadi pertimbangan membangun Rumah Atsiri Indonesia dalam proses berkelanjutan: Aspek ekonomi Aspek sosial Aspek lingkungan Proses membangun Rumah Atsiri Indonesia diawali dengan semangat revitalisasi bangunan lama (eksisting) yang ditransformasikan ke fungsi baru serta elaborasi kontennya. Sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak serta lingkungan/kawasan sekitar dalam pengembangan & penguatan ekosistem yang berkelanjutan.Continue reading “Contextual Method #7 – Berkelanjutan – Paulus Mintarga”

Contextual Method #6 – Bamboo Engineering – The Next Context (Markus Roselieb from Chiangmai Life Architects)

In our journeys we always have to understand where we are – the current context and then realize that there are many more possible contexts waiting to be explored. That’s where it gets interesting. To make bamboo more popular and free of the current image as “poor men’s timber” we need to work on manyContinue reading “Contextual Method #6 – Bamboo Engineering – The Next Context (Markus Roselieb from Chiangmai Life Architects)”

Contextual Method #5 – Redefining Bamboo – Elora Hardy & Defit Wijaya from IBUKU

IBUKU is a team of young designers, architects, and engineers exploring groundbreaking ways of using bamboo to build homes, hotels, schools, and event spaces in Bali, Indonesia. We are creating a new design vocabulary based on this one material and exploring the way sustainable architecture and design can redefine luxury. The materials we use, theContinue reading “Contextual Method #5 – Redefining Bamboo – Elora Hardy & Defit Wijaya from IBUKU”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s