Modernisme

1. Oksidental Modern

Manusia menciptakan sejarah sebagai penanda zamannya; dan di ranah arsitektur, style menjadi penanda dari berubahnya konsensus arah pandang sebuah zaman. Seperti halnya histografi peradaban, sejak zaman kuno ilmu arsitektur pun berkembang secara paralel di berbagai belahan dunia dan menghasilkan style- style regional yang amat beragam. Revolusi industri kemudian mendatangkan konflik intra-territorial pertama yang bukan didasari oleh ekspansi wilayah (ruang),

Kelas Oksidental Modern akan mencoba untuk mendiskusikan modernisme melalui beberapa pendekatan:
(1) Menyajikan konteks sejarah yang mendasari kelahiran gerakan modernis di Eropa sebelum PD-I hingga perpindahan haluan perkembangannya di Amerika Serikat paska PD-II;
(2) memaparkan beberapa manifesto gubahan arsitek-arsitek modern sebagai usaha mendefinisikan apa itu arsitektur modern;
(3) mengusulkan pengayaan diluar ranah arsitektur sebagai elemen pembanding; dan
(4) menawarkan beberapa sudut pandang oksidental untuk Indonesia.

2. Dari bali untuk indonesia

Bali bersentuhan dan dijajah secara penuh oleh pengetahun barat di luar control penduduknya sejak awal abad ke-20. Keruntuhan penguasa-penguasa lokal serta berhembusnya liberalisasi telah merubah lansekap pulau di sebelah Timur Jawa. Pengetahuan-pengetahuan baru tersebut tidak lantas berterima dengan konstruksi wawasan yang telah tumbuh selama berabad-abad di lahan lokal. Banyak perdebatan, pergulatan hingga upaya-upaya konstruksi identitas dilakukan pada setengah awal abad ke-20 untuk berbagai kepentingan yang berlangsung di ‘tanah para dewa’.

Pergulatan-pergulatan tersebut tentu saja dimotori oleh upayapenguasaan sumber daya lokal, upaya penerapan peradaban dan pemerintahan ala Barat yang bertemu dengan ide-ide ke-setempat-an. Perdebatan tidak melulu terjadi antara pemikir barat dengan pemikir lokal tetapi juga antar pemikir barat dengan koleganya serta antar pemikir lokal dengan compatriot lokalnya pula. Pergulatan ide-ide tersebut berlangsung hingga masa awal kemerdekaan saat Bali memutuskan untuk bergabung dengan Republik Indonesia.


Testimoni Peserta

Mohon panitia bisa membantu peserta dalam pemberian kode nama utk memudahkan registrasi (lebih praktis). Terima kasih.
Anggri Indraprasti

memberi pandangan baru tentang perkembangan Arsitektur
mieke choandi

Sangat bagus.
Tjahjo Widodo HB

Membuka mata dan mengetahui dalam perkembangan dunia Bali dipengaruhi oleh pendatang luar. Pendatang sangat menghargai budaya dan kesenian Bali.
Mieke Choandi

Acara sangat menarik dan sangat informatif untuk fresh graduated dan mahasiswa dalam memulai karir secara dasar yg harus diketahui
Fina Soraya

Seperti biasa pemateri luar biasa dan sangat bersyukur atas sharingnya. Saya tertarik dengan statement Mas Eka, kita generasi muda harus membuat pertanyaan, dan menghindari berkutat di ranah Grand Design. Saya rasa penting untuk kita belajar bagaimana cara membuat pertanyaan bukan tentang Arsitektur ke depan (preskriptif) tapi justru dari aspek yang melatarbelakangi arsitektur itu nantinya. Mungkin alangkah baiknya PR dari sesi ini, atau mungkin diakhir serial ini peserta dan semua pembicara, ada form sharing pertanyaan masing-masing mengenai konteks dimana dia berada. Mungkin Omah disini bisa jadi jembatan, saya lebih sering mendengar sintesis pemikiran dibandingkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Mungkin kita yang muda-muda bisa merajut pertanyaan-pertanyaan kecil kita, syukur-syukur yang punya pertanyaan sama bisa mendapat teman untuk sama-sama mencari jawaban. Sehat selalu Tim Omah 🙂
Erfan M. Kamil


Eka Swadiansa

Eka Swadiansa adalah principal dari Office of Strategic Architecture (OSA), founding member Global University for Sustainability (GU) dan kurator SPIRIT_45/47/55. Sebagai kurator; ia telah mengkurasi roundtable arsitektur di the Rise of Asia 2018 (Universite Paris 1 Pantheon Sorbonne & Universite Le Havre du Normandie), SPIRIT_45 (Sinar Fontaine Bartholdi, Lyon & ENSA Paris La Villette, 2018) dan SPIRIT_47 (Lingnan University Hong Kong, 2019) lecture, conferece and exhibition series.

I Nyoman Gede Mahaputra

I Nyoman Gede Maha Putra merupakan dosen dan periset di Program Studi Arsitektur Universitas Warmadewa, Bali. Lulus dari S1 Arsitektur Universitas Udayana, Denpasar dan menyelesaikan pendidikan S2 Urban Planning di Erasmus University, Netherland. Kemudian menyelesaikan S3 Urban Design di Oxford Brookes University, UK. Pernah bekerja sebagai praktisi di Cipta Mandala dan Nusa Consulindo Design. Saat ini aktif mengikuti seminar, baik sebagai peserta maupun pembicara, nasional dan internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s