Experiencing – KKA UGM

Kali ini Kunjungan KKA UGM datang membawa satu pertanyaan, bagaimana sebuah tempat bisa memicu interaksi sosial. Tema kliah kerja arsitektur mereka tahun ini Rejuvenating Grounded Social Interaction, lahir dari keresahan sederhana, ruang publik di rumah mereka di Yogyakarta masih terbatas. Setelah berkeliling ke beberapa preseden, mereka akan merancang jawabannya bersama sama dan memamerkannya di Wiswakharman Expo, pameran tahunan mereka.

Interaksi sosial yang mereka teliti di Guha justru tumbuh dari mereka sendiri. Setelah experiencing selesai, beberapa dari mereka bermain basket dengan anak-anak kampung di halaman Guha. Halaman yang memang terbuka untuk siapa saja. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang mengatur. Ada lapangan, ada bola, ada anak kecil yang menunggu diajak. Permainan itu mengalir begitu saja, lapangan dan bola menjadi undangan untuk berinteraksi. Mereka datang meneliti bagaimana tempat memicu interaksi sosial, dan tanpa sadar mereka sudah mengalaminya lebih dulu. Ruang publik bekerja persis seperti itu, bukan lewat teori, melainkan lewat undangan yang tidak diucapkan.

Rombongan ini juga tahu cara bersenang senang. Kelompok kelompoknya dinamai band band tahun 2000-an, dan sepanjang kunjungan nama nama itu dipanggil bergantian seperti pengumuman panggung festival.

Melihat pohon trembesi di Guha, Bu @nareswari07 dosen pembimbing mereka, teringat dengan pohon trembesi besar yang dulu menaungi kampus, Beberapa tahun lalu pohon itu ditebang untuk perluasan bangunan. Yang hilang bukan hanya teduhnya, melainkan waktunya, sebab pohon sebesar itu adalah tabungan puluhan tahun yang tidak bisa dibeli tunai. Ken Yeang, arsitek Malaysia yang menyusun teori perancangan bioklimatik, sudah lama mengingatkan hal ini, tumbuhan bukan hiasan di atas rancangan melainkan bagian dari struktur kehidupannya. Menanam bisa hari ini, meneduhi baru bisa 1 generasi kemudian.

Di dalam Guha, pertanyaan mereka melebar ke mana mana, dan justru itu tandanya kunjungan yang hidup. Mereka mengetuk ngetuk material, mencari kolom yang seolah tidak ada, menanyakan bentang, dan beberapa kali tersesat di antara tangga dan pintu sampai kaget sudah sampai di basement. Mereka bertanya bagaimana kain perca bisa berpindah ke material lain tanpa transisi yang kasar, dan dari situ percakapan sampai ke keyakinan yang kami pegang lama, tidak semua yang mahal harus dibuat dari material mahal. Yang menentukan bukan harga materialnya, melainkan pola, rasa, detail, dan penguasaan atas bumi dan manusia yang memakainya.

Soal mencari konsep, jawabannya tidak tunggal. Ada sketsa, ada riset, ada hitungan Jawa dan fengshui yang dibawa klien, dan semuanya bermuara ke tapak. Yang lebih penting dari semua alat itu adalah percakapan yang dalam dengan klien, sebab konsep yang baik lahir dari irisan antara hidup klien dan cara pandang arsiteknya. Karena itu kami percaya arsitek mesti belajar menjadi pamong, dan pamong itu jenjang yang lebih tinggi dari sekadar jago berkompetisi. Kami selalu mengingat kalimat almarhum Pak Eko Prawoto, mendesain itu seperti bidan. Yang lahir bukan milik bidannya, tugas bidan memastikan kelahirannya selamat.

Ada 2 hal lagi yang kami titipkan sebelum mereka pulang. Pertama, ilmu bangunan tidak hanya tinggal di sekolah arsitektur, para tukang membuktikannya setiap hari di lapangan. Kedua, lulusan arsitektur tidak wajib menjadi arsitek, ada banyak jalan lain yang sama sama membutuhkan cara berpikir keruangan. Dua kalimat itu membebaskan, bukan mengecilkan.

Malamnya kami teringat satu buku, Studio Culture terbitan Unit Editions, berisi wawancara 28 studio desain grafis dunia. Premisnya sederhana dan menghibur, ada begitu banyak warna cara menjalankan studio, dan justru studio yang berumur panjang biasanya keras kepala memegang keyakinannya sendiri. Larry Greiner bahkan memetakan hidupnya, organisasi tumbuh lewat 5 fase, dan tiap fase yang tenang selalu ditutup krisis yang memaksa cara baru. Guha pun sedang berjalan di fase fasenya, dan kunjungan seperti ini bagian dari cara kami merawat fase yang sedang kami jalani, membuka pintu, ditanyai macam macam, dan ikut belajar dari yang bertanya.

Terima kasih teman-teman @architecture.ugm. Sampai jumpa di Wiswakharman Expo @wex_ugm. Kami menunggu jawaban kalian untuk Yogyakarta.

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild

(rs, hs, ty, fm)


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

PMI #42 – Tektonika Retikulasi dan Tektonika Kuno-Kini – Dani Hermawan, Cahyo Novianto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #42. Ini episode kedua dari seri Tektonika Kayu untuk Arsitektur Kayu Masa Depan, dan terbagi dalam dua paparan: ▫️Paparan 1 bersama Dani Hermawan, dengan tema: “Tektonika Retikulasi” “Tektonika Retikulasi” merupakan eksplorasi yang mempertemukan komputasi, ketukangan, dan rekayasa material…

Bittersweet Memories In Design Experience | 68. Anton Siura

Di tengah pesatnya urbanisasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan tantangan perubahan iklim, membangun lanskap tidak lagi sekadar urusan estetika. Ia adalah upaya merajut ketahanan. Menjaga kesadaran itu bukanlah proses yang singkat, dan bagi Anton Siura, hal tersebut telah menjadi perjalanan profesionalnya selama lebih dari dua dekade. Dalam kultur industri yang sering…

Book Launching | Rumah Bosar, Karya Arsitektur Kayu Dayak Pesaguan

Dengan penuh sukacita, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia bersama OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari ikhtiar panjang untuk mendokumentasikan, merawat, dan melestarikan khazanah arsitektur Nusantara sebagai warisan pengetahuan bagi generasi kini dan mendatang. Gagasan mengenai ruang, material, dan tektonika ini pertama kali dipaparkan secara lisan dalam forum PMI #20 pada 2022.…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading