Experiencing – Meggiy Saputra

Kita sering mengira identitas adalah sesuatu yang utuh. Padahal, sebagian besar dari kita justru dibentuk oleh banyak hal yang datang dari tempat-tempat yang berbeda. Ada yang mewarisi bahasa dari satu kota, kebiasaan dari kota lain, cara berpikir dari tempat ia belajar, lalu perlahan menjadi seseorang yang tidak lagi dapat dijelaskan hanya oleh satu asal.

Barangkali, rumah pun demikian.

Experiencing Guha Boboto kali ini kami menerima kunjungan Kak Meggiy Saputra, seorang dokter umum yang datang setelah menyelesaikan pekerjaannya di hari Sabtu. Menelusuri setiap sudut Boboto bukan sekadar sebagai penikmat seni, melainkan dengan ketertarikan mendalam pada logika konstruksi, membuat perjalanan hari itu dipenuhi pertanyaan. Bukan pertanyaan tentang bentuk semata, tetapi tentang bagaimana sebuah bangunan dapat berdiri, bertumbuh, dan terus berubah tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Ketika Boboto dijelaskan sebagai sebuah anatomi tubuh—memiliki struktur, selubung, dan lapisan yang terus berevolusi—percakapan terasa menemukan bahasanya. Mungkin karena bagi seorang dokter, tubuh bukan sekadar bentuk. Ia adalah sistem yang saling terhubung, tumbuh, beradaptasi, dan bekerja bersama. Dari sana, pembicaraan mengalir pada logika konstruksi, material pelapis, hingga alasan mengapa setiap keputusan diambil dengan cara tertentu.

Boboto tumbuh dari banyak lapisan. Material lama berdampingan dengan material baru. Barang sisa bertemu dengan material yang baru diproduksi. Yang mahal hidup berdampingan dengan yang sederhana. Tidak semuanya lahir pada waktu yang sama, tetapi semuanya perlahan menemukan tempatnya masing-masing.

Kak Meggiy kemudian bercerita bahwa ia merasa dekat dengan cara Boboto bertumbuh, Kak Meggiy menemukan sebuah resonansi yang personal. Barangkali karena hidupnya sendiri juga dibentuk oleh banyak tempat. Kota asal kedua orang tuanya berbeda. Tempat ia lahir berbeda. Kota tempat ia tumbuh besar, menempuh pendidikan, hingga kini bekerja pun semuanya berbeda. Perlahan kami menyadari bahwa manusia, seperti halnya bangunan, tidak selalu dibentuk oleh satu akar. Kadang, justru keberagaman pengalaman itulah yang membuat seseorang menjadi utuh.

Di akhir perjalanan, Kak Meggiy meninggalkan satu refleksi yang diam-diam tinggal bersama kami. Baginya, Boboto menghadirkan sesuatu yang semakin jarang ditemui hari ini—sebuah karya yang lahir bukan karena mengikuti tren atau mengejar kesan yang instan, melainkan karena gagasan, kualitas, dan proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Di ruang yang sederhana, ia menemukan sesuatu yang filosofis, manusiawi, dan memuaskan dahaga akan cara berpikir yang berbeda.

Percakapan sore itu akhirnya mengingatkan kami bahwa barangkali yang membuat seseorang merasa dekat dengan sebuah ruang bukan karena bentuknya menyerupai dirinya, melainkan karena ia menemukan sebagian dari perjalanan hidupnya tercermin di dalamnya.

Terima kasih, Kak Meggiy, atas waktu, pertanyaan, dan cerita yang telah dibagikan di rumah kami. Sayang sekali sore itu harus berakhir lebih cepat. Semoga suatu hari nanti kita dapat kembali melanjutkan percakapan yang masih sempat tertunda.

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild
(rs, ty, fm)


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

PMI #42 – Tektonika Retikulasi dan Tektonika Kuno-Kini – Dani Hermawan, Cahyo Novianto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #42. Ini episode kedua dari seri Tektonika Kayu untuk Arsitektur Kayu Masa Depan, dan terbagi dalam dua paparan: ▫️Paparan 1 bersama Dani Hermawan, dengan tema: “Tektonika Retikulasi” “Tektonika Retikulasi” merupakan eksplorasi yang mempertemukan komputasi, ketukangan, dan rekayasa material…

Bittersweet Memories In Design Experience | 68. Anton Siura

Di tengah pesatnya urbanisasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan tantangan perubahan iklim, membangun lanskap tidak lagi sekadar urusan estetika. Ia adalah upaya merajut ketahanan. Menjaga kesadaran itu bukanlah proses yang singkat, dan bagi Anton Siura, hal tersebut telah menjadi perjalanan profesionalnya selama lebih dari dua dekade. Dalam kultur industri yang sering…

Book Launching | Rumah Bosar, Karya Arsitektur Kayu Dayak Pesaguan

Dengan penuh sukacita, Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia bersama OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari ikhtiar panjang untuk mendokumentasikan, merawat, dan melestarikan khazanah arsitektur Nusantara sebagai warisan pengetahuan bagi generasi kini dan mendatang. Gagasan mengenai ruang, material, dan tektonika ini pertama kali dipaparkan secara lisan dalam forum PMI #20 pada 2022.…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading