Memberi Alamat pada Buku

Ada satu pekerjaan di perpustakaan ini yang hampir tidak pernah difoto: mengkatalog. Duduk berjam-jam di depan tumpukan buku, mengangkat satu demi satu, mencatat judul, penulis, penerbit, tahun, lalu memberinya nomor dan tempat di rak. Pekerjaan yang pelan, berulang, dan tidak akan pernah muncul di halaman mana pun sebagai prestasi.

Kami mengerjakannya dengan sumber daya yang terbatas. Perpustakaan ini bukan lembaga besar dengan barisan pustakawan yang khusus dididik untuk itu. Maka pekerjaan mengkatalog dibagi ke semua tangan yang ada: staf administrasi ikut mengkatalog, para penulis ikut mengkatalog, dan yang memimpin pun duduk di meja yang sama, mencatat buku satu demi satu. Ini bukan karena kami ingin terlihat egaliter. Ini karena memang tidak ada jalan lain.

Tetapi keterbatasan itu ternyata menyimpan hadiah yang tidak kami rencanakan. Orang yang mengkatalog adalah orang yang bersentuhan dengan setiap buku, satu per satu, dari sampul sampai halaman kolofonnya. Ia menemukan buku-buku yang tidak ia sangka ada di sini. Lama-lama ia mengenal koleksi ini seperti mengenal punggung tangannya sendiri, dan ketika sebuah diskusi tiba-tiba membutuhkan rujukan, dialah yang bisa berkata: ada, di rak sebelah sana. Pengetahuan tentang di mana pengetahuan berada, ternyata, tidak bisa sepenuhnya diwakilkan.

Lalu apa sebenarnya makna sebuah katalog? Bagi kami, ia bukan pekerjaan administrasi. Mengkatalog adalah memberi alamat. Sebuah buku yang tidak punya alamat sesungguhnya nyaris tidak ada: ia hadir secara fisik, tetapi tidak bisa ditemukan, dan pengetahuan yang tidak bisa ditemukan nasibnya sama saja dengan pengetahuan yang hilang. Katalog adalah yang mengubah tumpukan buku menjadi perpustakaan.

Cara kami menyusun kategorinya pun tumbuh dari cara kami hidup. Kategori-kategori itu mengikuti apa yang kami baca dan bicarakan dalam diskusi-diskusi di sini, dan koleksinya membesar mengikuti rujukan yang dibutuhkan studio penulisan kami. Buku dibeli atau diterima karena percakapan membutuhkannya, lalu dikatalog supaya percakapan berikutnya bisa memanggilnya lagi. Katalog kami, kalau dibaca urutannya, sebenarnya adalah peta dari percakapan-percakapan kami sendiri.

Karena itulah perpustakaan ini pada dasarnya adalah perpustakaan referensi. Buku-buku di sini bukan pajangan yang dirawat untuk dipandang. Mereka bekerja: ditarik dari rak ketika sebuah diskusi membutuhkan, dikutip ketika sebuah tulisan sedang disusun, lalu dikembalikan ke alamatnya untuk menunggu dipanggil lagi. Perpustakaan yang baik, kami kira, bukan yang bukunya paling banyak, melainkan yang bukunya paling sering diajak bekerja.

Pekerjaan mengkatalog tidak akan pernah selesai, karena buku-buku terus berdatangan. Tetapi justru di situ letak tenangnya: perpustakaan mengingat lewat katalognya, dan selama masih ada tangan yang mau duduk memberi alamat pada buku-buku yang baru tiba, ingatan itu akan terus tumbuh, lebih panjang dari usia siapa pun yang pernah mencatatnya.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading