Baru-baru ini, untuk pertama kalinya, kami berfoto bersama sebagai satu tim yang lengkap. Bukan hanya yang biasa tampil di dokumentasi acara, melainkan semuanya: yang mencatat kunjungan di meja depan, yang mengurus pendaftaran dan administrasi, sampai yang menjaga kebersihan ruangan-ruangan ini setiap hari. Baru kali ini semua berdiri dalam satu bingkai. Dan justru karena baru pertama kali, foto itu terasa seperti pengakuan yang sudah lama tertunda.
Karena sesungguhnya rumah ini diisi oleh banyak orang yang bekerja di belakang layar. Ada yang memasak untuk penghuni dan tamu-tamunya, ada para asisten yang membantu di dapur, ada anak-anak magang, ada tangan-tangan yang merapikan apa yang kami berantakkan. Yang tampil di depan hanyalah bagian kecil yang kebetulan terlihat; rumah ini berdiri karena mereka yang jarang terfoto.
Dan kami ingin mengatakannya dengan jelas: mereka sudah lama bukan sekadar orang yang bekerja di sini. Mereka keluarga.




Buktinya sederhana, dan selalu membuat kami tersenyum setiap kali mendengarnya. Beberapa desainer yang sudah keluar dari studio, ketika kembali berkunjung atau mengirim kabar, hampir selalu mengatakan hal yang sama: yang paling mereka rindukan bukan meja kerjanya, bukan proyeknya, melainkan masakan dari dapur ini, dan kehangatan cara mereka dulu dipanggil dengan sebutan sayang. Orang bisa lupa detail sebuah gambar kerja. Tetapi rasa masakan dan cara seseorang memanggilmu dengan lembut, ternyata, tinggal jauh lebih lama.

Barangkali inilah yang disebut jiwa padepokan. Padepokan bukan sekadar tempat orang diajar; ia tempat orang dibentuk, dan yang membentuknya bukan hanya guru dan buku, melainkan juga makanan, minuman, kenangan, rasa, dan selera yang perlahan bergabung menjadi satu. Orang yang pulang dari sebuah padepokan membawa lebih dari ilmu. Ia membawa selera, dan selera itu akan membuatnya rindu seumur hidup.


Dan supaya jernih, izinkan kami menegaskan satu hal: makanan di rumah ini bukanlah usaha. Kami tidak sedang membuka kafe, dan penghidupan rumah ini tidak datang dari dapurnya. Makanan di sini adalah kebiasaan budaya, sesederhana itu: kebiasaan lama menyambut tamu dengan masakan, menyajikan apa yang disukai komunitas, dan setiap masakan punya asal-usulnya sendiri, resep yang dibawa dari kampung, dari keluarga, dari tangan-tangan yang mengajarkannya turun-temurun. Yang kami jaga bukan menu; yang kami jaga adalah asal-usulnya.


Foto pertama itu kini kami simpan baik-baik. Satu bingkai berisi semua yang membuat rumah ini hidup. Dan kalau suatu hari kau berkunjung ke sini lalu merasa betah tanpa tahu persis kenapa, sekarang kau tahu jawabannya: rasa betah itu ada yang memasaknya, ada yang menyapunya, dan ada yang menjaganya, setiap hari, di belakang layar.

