Meja yang Satu Lagi

Ada satu hal yang selalu membuat kami tersenyum setiap kali membaca surat-surat perpisahan anak magang di studio ini. Surat itu seharusnya berisi pelajaran arsitektur: gambar kerja, konsep, kunjungan lapangan. Dan memang berisi itu semua. Tetapi hampir di setiap surat, di sela-sela ucapan terima kasih untuk para mentor, satu nama lain terus muncul, disebut dengan sayang yang sama: Bibi. Bibi bukan arsitek. Bibi yang memasak untuk kami.

Setiap tengah hari, pekerjaan di studio ini berhenti. Meja gambar ditinggalkan, layar dibiarkan menyala sendirian, dan semua orang turun ke meja yang satu lagi: meja makan di pantry. Di sana arsitek senior, desainer muda, dan anak magang duduk menghadap masakan yang sama. Satu jam yang tidak diisi gambar sama sekali.

Sebelum makan pun sudah ramai sendiri. Ada keriuhan kecil yang terjadi hampir setiap hari: memutuskan mau pesan apa, siapa yang mencatat, jajanan sore apa yang dibeli. Kekacauan kecil yang menyenangkan, yang belakangan kami sadari justru sering dikenang anak-anak magang dalam surat mereka, sejajar dengan pelajaran mendetailkan gambar.

Dan di meja itulah sebenarnya banyak hal penting terjadi. Cerita hari itu dibagikan, keluhan dan kegembiraan sama-sama mendapat tempat, pertanyaan yang tak sempat diajukan di meja kerja tiba-tiba menemukan jalannya di sela suapan. Di meja gambar, ada senior dan junior, ada tim ini dan tim itu. Di meja makan, semua itu mencair. Orang yang makan bersama setiap hari sulit untuk tetap menjadi orang asing satu sama lain.

Kebiasaan ini bukan kami yang memulai. Ia datang dari meja makan generasi sebelum studio ini berdiri, ketika para pembangun dan keluarga duduk bersama, membicarakan proyek sambil makan, dan hidup mereka perlahan saling menjadi hidup satu sama lain. Kami hanya meneruskan meja itu.

Karena pada akhirnya beginilah kami memahaminya: yang kami kerjakan di meja gambar adalah rumah untuk orang lain. Yang kami rawat di meja makan adalah rumah untuk kami sendiri.

Leave a Reply

Discover more from OMAH Akademi

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading