Honor and Business #7 – Ecosystem

Faried Masdoeki adalah Principal & Design Director di Hadiprana Design Consultant dan telah berkarir lebih dari 30 tahun di bidang arsitektur. Biro tempat beliau bekerja, Hadiprana Design Consultant, telah bergerak selama enam dekade di bidang desain dan perencanaan. Hal tersebut tidak lepas dari ekosistem yang diciptakan oleh biro melalui interaksi yang saling berkesinambungan dan bersinergi membentuk karya yang merefleksikan visi dan misi biro. Ekosistem yang baik menjadi penunjang sebuah biro arsitek dapat bertahan/sustain hingga saat ini. 

Melalui sesi ke-7 kelas Honor + Business “Ecosystem”, Faried Masdoeki memaparkan pendapatnya tentang bagaimana produk yang dihasilkan (bangunan) tidak semata-mata hanya buatan biro arsitek, tetapi banyak pihak yang berperan, seperti klien, kontraktor, vendor/supplier. Beliau menjelaskan terjadinya kerja sama dan interaksi antar pihak-pihak terkait yang kemudian membentuk sebuah ekosistem. Dalam proses terbentuknya ekosistem, terdapat core/inti yang diibaratkan sebagai biro arsitek, di mana semakin besar core maka semakin besar ekosistem yang tercipta. Biro arsitek sendiri tidak lepas dari unsur-unsur yang ada di  dalamnya, yaitu disiplin-disiplin ilmu yang kemudian menjadi divisi-divisi yang saling berkomunikasi satu sama lain. Di sisi lain, ekosistem juga terbentuk dari hubungan antara biro arsitek dan pihak lain yang terdiri dari berbagai macam unsur dengan skala yang berbeda.

Dalam lingkungan kerja biro arsitek, terbentuk ekosistem (entrepreneurship ekosistem) yang terdiri dari beberapa unsur yang dapat mempengaruhi kinerja biro arsitek. Terdapat banyak contoh ekosistem, tetapi biasanya ada enam unsur yang dapat ditemukan dalam biro arsitek, yaitu: 1) culture (budaya perusahaan), sebagai value ideas berdasarkan kejadian yang dialami oleh biro arsitek di masa lalu sehingga mempengaruhi kegiatan sehari-hari, seperti melakukan kegiatan bersama (menonton film, mengunjungi galeri seni) untuk mempererat kerja sama tim; 2) markets (strategi marketing), biro arsitek menentukan segmen market dengan mempertimbangkan manfaat bagi kedua belah pihak dan tidak dapat memilih proyek secara intuitif, proyek yang dipilih diharapkan memiliki nilai dan visi misi yang sama dengan biro arsitek; 3) human capital (SDM), SDM (Sumber Daya Manusia) berkualitas dibutuhkan dalam biro arsitek untuk proses regenerasi dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, SDM yang baik memiliki konsistensi dan loyalitas yang baik. Hal tersebut didukung dengan pemenuhan kebutuhan SDM yang harus dipenuhi oleh biro arsitek, seperti kesejahteraan, jenjang karir, dan culture/suasana yang nyaman di lingkungan kerja; 4) finance (pemasukan), proyek yang dijalankan oleh biro arsitek menjadi pemasukan yang bisa mempengaruhi bagaimana biro tersebut berjalan ke depannya sehingga biro arsitek perlu berhati-hati saat memilih proyek, apakah proyek tersebut dapat dikerjakan dengan baik atau sebaliknya; 5) supports (infrastruktur penunjang), biro arsitek dengan infrastruktur yang memadai dapat membantunya berjalan dengan baik, misalnya biro arsitek menyiapkan ruang khusus untuk pihak arsitek bekerja ataupun mengakomodasi ruang untuk pihak-pihak lain di luar arsitektur seperti legal/hukum; dan 6) leadership, sebuah biro arsitek membutuhkan manajemen yang jelas, di mana semakin besar biro arsitek maka semakin kompleks masalah yang akan dihadapi. Dengan sistem manajerial yang jelas, dapat dengan mudah mengorganisasikan dan membagi sebuah pekerjaan/proyek kepada disiplin-disiplin ilmu yang ada di biro arsitek.

Berjalannya biro arsitek tidak lepas dari terbentuknya ekosistem bisnis yang terdiri dari interaksi tiga pihak, yakni: a) arsitek dengan klien, yaitu dengan memberikan benefit kepada klien oleh biro, bukan hanya merancang bangunan yang indah tapi dapat berfungsi dengan baik. Dengan adanya hubungan yang baik antara arsitek dengan klien, memungkinkan untuk keberlanjutan kerja sama yang terjalin seterusnya, sehingga menciptakan repetitive client (klien yang datang kembali memberikan proyek kepada biro arsitek); b) arsitek dengan kontraktor, di mana arsitek merancang bangunan dan kontraktor yang mengeksekusi rancangan tersebut. Terjadi interaksi antara arsitek dan kontraktor untuk mencapai sebuah kesepahaman dan menjadikan pekerjaan/proyek berjalan dengan baik, serta bangunan dapat terbangun sesuai dengan rancangan desain yang telah dibuat; dan c) arsitek dengan vendor/supplier, interaksi yang terjalin secara berkala berfungsi untuk menjaga kualitas dan membangun networking, misalkan ketika arsitek memberikan feedback kepada pengrajin untuk menghasilkan artwork yang indah dan dapat diaplikasikan ke dalam desain interior, dan pengrajin dapat mengeksplor lebih banyak gaya, tidak hanya tradisional tetapi juga kontemporer dan modern. 

Pada saat menciptakan sebuah desain, banyak pihak yang terlibat mulai dari proses merancang hingga desain terbangun. Terjadi asas resiprokal (saling berbalasan) di setiap unsur dalam sebuah ekosistem di arsitektur, sebagai contoh adalah ketika melakukan pekerjaan dengan memberikan hasil pekerjaan dan balasannya mendapat fee/upah. Ekosistem sendiri bisa berkembang bersama-sama dengan unsur lainnya, ketika melakukan inovasi pada produk, servis, dan prosesnya. Hal ini dapat dilihat dari produk yang dihasilkan menjadi beragam serta layanan yang diberikan menjadi lebih meningkat.


Video Rekaman Kelas

Untuk dapat mengakses kelas Honor and Business #7 – Ecosystem
anda perlu melakukan donasi melalui tautan berikut:

Akses kelas akan dikirimkan ke email atau Whatsapp yang didaftarkan.


Rangkuman Materi Kelas


Kelas Honor and Business #7 – Ecosystem berlangsung pada tanggal 29 Januari 2021, dengan pembicara: Faried Masdoeki, moderator: Realrich Sjarief, host: Hanifah Sausan Nurfinaputri, rangkuman: Afifah Khairunnisa, dan poster: Afifah Khairunnisa.


Pembicara

Faried Masdoeki

Setelah lulus dari Universitas Parahyangan pada tahun 1988, Faried Masdoeki bergabung di Grahacipta Hadiprana (telah berganti nama menjadi Hadiprana Design Consultant). Beliau telah berkarir lebih dari tiga dekade di bidang arsitektur. Saat ini, beliau merupakan Principal & Design Director di Hadiprana Design Consultant dan merupakan salah satu pengurus dari Ikatan…


Beberapa kelas Honor and Business lainnya bisa diakses di bawah ini:

Honor and Business #6 Small

esi Honor + Business kita kali ini akan dibersamai oleh Tan Tjiang Ay, ia memiliki karakter yang sederhana, fungsional dan memiliki karakter modernis yang kuat. Omah Library pernah membahas beliau di dalam sosok begawan Ciptaning. Ia mampu hidup dan menghidupi arsitektur melalui biro pribadinya, Tan Tjiang Ay Architects. Beliau memiliki…

Honor and Business #5 Global

Sesi Honor+Business kita kali ini akan dibersamai oleh Sibarani Sofian @sibsib75, founder dari URBAN+ @urbanplus dan @urbaninstitute. Melalui URBAN+, ia fokus pada urban desain, planning, arsitektur, lansekap, dan penasehat untuk pemerintah serta swasta terkait pembangunan & penataan perkotaan di seluruh Indonesia dan Asia. la terbiasa bekerja sama dengan konsultan global…

Honor and Business #4 Partnership

Sesi webinar Honor + Business kali ini akan dibersamai oleh Reza A. Nurtjahja, salah satu pendiri URBANE @urbane.indonesia bersama Irvan P. Darwis @irvanpd, Achmad D. Tardiyana @achmadtardiyana, dan Ridwan Kamil @ridwankamil. Dalam biro tersebut, Reza Nurtjahja berperan sebagai Principal, Managing Director, Senior Architect, sekaligus Senior Urban Designer. ia pun sangat…

Loading…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s