Experiencing – Universitas Widya Mataram – Yogyakarta

Tamu biasanya membawa oleh-oleh makanan. Tamu pekan ini membawa buku-buku yang ditulis oleh dosen-dosennya sendiri, tentang bangsal-bangsal keraton tempat kampus mereka berdiri. Ilmu yang datang membawa ilmu, dan seketika kunjungan ini terasa bukan seperti menerima tamu, melainkan bertemu saudara-saudara lama dari Yogyakarta.

Rombongan Universitas Widya Mataram tiba dalam rangka ekskursi arsitektur ke Jakarta. Kampus mereka berdiri di dalam kompleks Keraton Kasultanan Yogyakarta, namun para mahasiswanya justru datang dari latar kultur yang beragam. Pak Satrio, dosen pendamping, menyebut Guha sangat meruang, dan matanya menangkap sesuatu yang membuat kami tersenyum, skylight foyer yang berundak itu menurutnya seperti punden berundak, seperti candi. Dosen pendamping lain yang berlatar teknik sipil bertanya hal yang sangat praktis dan kami catat baik-baik, soal ketersediaan toilet di setiap lantai. Para mahasiswa terkejut bahwa di tengah permukiman sepadat ini masih ada ruang untuk memelihara banyak binatang, dan seperti banyak tamu sebelumnya, mereka merasa dibawa masuk ke dalam labirin, sampai bingung ketika tahu-tahu sudah tiba di basement.

Dalam sesi diskusi, percakapannya pulang ke Yogyakarta, dan nama-nama yang kami sebut satu per satu adalah para penjaga api. Ada Wisma Kuwera, atau kami menyebutnya kampung Kuwera, rumah sekaligus studio tempat gagasan-gagasan besar pernah digodok, lengkap dengan sekolah anak-anaknya, tempat pendidikan dasar dijalankan sebagai eksperimen yang hidup, belajar langsung dari kehidupan. Dan yang menariknya, justru dari para dosen tamu inilah kami kembali merasakan kedekatan khas itu, kedekatan guru dengan anak-anaknya. Ada Romo Mangun, pastor, arsitek, sekaligus sastrawan, yang turun langsung membela warga tepi Kali Code dari penggusuran sampai rela mogok makan, yang permukiman dampingannya kelak diganjar penghargaan Aga Khan, dan yang di sela semua itu masih sempat menulis novel-novel yang menggetarkan. Sosoknya terus bergolak, menebarkan api perubahan untuk membela yang lemah sambil tidak pernah berhenti bereksplorasi. Ada Eko Prawoto, penerus api itu, yang memilih bambu dan tangan para tukang sebagai bahasanya, membangun bersama komunitas dan memuliakan material sederhana, sampai ia berpulang dan apinya berpindah ke tangan-tangan yang lebih muda. Ada pula Ardi Pardiman yang namanya hadir dalam percakapan kami. Dan kami sadar, tugas kami di Jakarta dan Tangerang ini sederhana namun berat, mengembalikan api itu, merawatnya supaya tetap menyala untuk generasi berikutnya. Kami juga berbincang jujur tentang tantangan akademik yang tidak mudah bagi para dosen hari ini, dan justru di situ persaudaraannya terasa.

Dan Nusantara memang punya sejarah panjang menyalakan dunia. Maclaine Pont, arsitek Hindia Belanda yang kaya teknik sekaligus seni dan gemar membantu, membangun aula-aula ITB yang legendaris, menekuni penggalian Majapahit di Trowulan, lalu mendirikan gereja Pohsarang di Kediri dengan teknik tenda hiperboloid yang ditumpuk genteng, karya yang sampai hari ini menjadi rujukan arsitek dunia. Debussy mendengar gamelan Jawa di Paris pada 1889 dan tidak pernah sama lagi, ia bahkan berujar bahwa kontrapung gamelan membuat musik para maestro Eropa terdengar seperti permainan kanak-kanak, dan gemanya terdengar di karya-karya pianonya. Bahkan Deleuze dan Guattari, dua filsuf Prancis itu, meminjam istilah plateau untuk filsafat rizomatik mereka dari penelitian Gregory Bateson tentang Bali, tentang budaya yang hidup dalam dataran-dataran intensitas yang menerus. Dan jauh sebelum semua itu dirayakan dunia, Ki Hajar Dewantara sudah mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1922, mewariskan tut wuri handayani, guru yang menuntun dari belakang, filosofi pendidikan yang lahir dari tanah yang sama dengan keraton tempat kampus tamu-tamu kami berdiri.

Banyak pemikir besar dunia bersinggungan dengan spirit kita, spirit yang plural namun toleran, dan dari perenungan jiwa yang menerus itulah lahir tut wuri handayani, Sumpah Pemuda, sampai kemerdekaan bangsa, semuanya dalam semangat yang sama, pendalaman jiwa.

Terima kasih Universitas Widya Mataram. Buku-buku tentang bangsal keraton itu kini menjadi penghuni rak OMAH Library, dan setiap tamu yang kelak membacanya akan ikut menghangatkan api yang kalian bawa dari Yogya. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya.

Dan izinkan kami menutup dengan refleksi yang lebih hening. Semua yang kami ceritakan hari ini berdiri di atas jasa para pendiri, founding father kita semua, yang mendirikan sekolah, yang membela kampung, yang menggali candi, yang menuliskan filosofi, sampai yang memerdekakan bangsa. Sebagian besar dari mereka telah berpulang tanpa sempat melihat sejauh apa apinya menjalar. Maka doa kami sederhana, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membalas kebaikan mereka dengan sebaik-baik balasan, menerangi jalan mereka sebagaimana mereka menerangi jalan kami, dan memberi kami kekuatan merawat api itu sampai tiba giliran kami menyerahkannya kepada yang lebih muda. Untuk doa itu, bersama saudara-saudara kami dari tanah keraton, kami mengamini. Amin, rahayu, rahayu, rahayu.

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

PMI #41 – Rumah Bosar Mandiangin dan Pusparagam Tektonika Arsitektur Kayu Kalimantan – Yoris Mangenda, Sheila Nurfajrina, M. Cahyo Novianto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui seri #41. Dua seri PMI ke depan akan dibawakan dalam tema Tektonika Kayu untuk Arsitektur Kayu Masa Depan. Seri pertama ini akan diwarnai arsitektur dari Kalimantan. Kalimantan menyimpan pusparagam pengetahuan arsitektur kayu yang terbentuk dari pengalaman panjang masyarakat dalam…

Bittersweet Memories In Design Experience | 67. Maria Rosantina

Menjadikan arsitektur bukan hanya semata penciptaan bentuk, melainkan sebuah pengalaman ruang yang jujur, membutuhkan komitmen panjang. Arsitektur menuntut sebuah kebenaran, yaitu kebenaran terhadap konteks, fungsi, material, konstruksi, dan kebutuhan manusia. Ketika landasan ini terpenuhi, keindahan tidak lagi menjadi sesuatu yang dibuat-buat, melainkan hadir secara alami untuk dialami sebagai ruang hidup.…

Book Launching | Everywhere & Nowhere: The Aesthetics of Growing Pains

“So a new journey has begun and I surrender all my pre-determined fantasies of my becoming, allowing the universe to decide what’s next. Allowing ourselves. To. Just. Live.” Dengan bangga OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari refleksi seorang penulis muda, Karina Dwipayana. Kali ini bergeser dari tema arsitektur,…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading