Experiencing – Sania, Kevin, Adel dan Ikfa

“Guha adalah dream house-ku,” kata Kak Sania di tengah kunjungannya. Kalimat itu membuat kami berpikir sepanjang sisa hari: sebenarnya apa yang membuat sebuah rumah layak disebut rumah impian?

Kak @shan_hills datang bersama Kak Kevin, yang sudah ingin berkunjung sejak sekitar setahun lalu setelah Guha muncul di FYP media sosialnya. Kak Sania yang pencinta binatang senang sekali melihat banyak binatang di sini. Kak @delmadell dan Kak @ifaikfa menyusul sedikit terlambat, ketika penjelasan dimulai dari halaman depan, membawa pertanyaan yang paling teknis hari itu: ke mana air sisa limbah hewan-hewan ini dibuang?

Lalu terjadi hal yang paling kami syukuri saat itu. Ketika kami bercerita bahwa sugar glider di Guha beberapa kali lepas dari kandangnya, Kak Sania tersenyum. Ia sendiri memelihara beberapa sugar glider di rumah. Maka mengalirlah pengetahuan sederhana: kandangnya perlu diberi pengait agar penghuninya tidak kabur. Kami kembali diingatkan bahwa Experiencing tidak pernah satu arah, hari itu kami yang belajar.

Soal rumah impian tadi, kami teringat Ernst Cassirer yang menyebut manusia sebagai animal symbolicum makhluk yang hidup dalam dunia makna. Rumah pun bukan sekadar naungan. Ia menyimpan simbol, pengalaman, dan mimpi yang ingin kita huni. Pengait di kandang sugar glider dan jalur pembuangan limbah hewan yang ditanyakan Kak Adel bukanlah urusan remeh di bawah mimpi, keduanya adalah makna yang sedang menjadi kerja.

Pengalaman pun ada gurunya. Jean Labatut, pengajar arsitektur legendaris di Princeton yang juga mendirikan program doktor arsitektur pertama di Amerika, mengajarkan arsitektur tidak hidup di benak arsiteknya, ia hidup di persepsi orang-orang yang mengalaminya, dan tugas perancang adalah mencapai efek maksimum dengan sarana minimum. Experiencing Guha kami letakkan di garis keyakinan itu, sebuah rumah baru benar-benar selesai ketika ia dialami, ditanyai, bahkan diajari oleh tamu-tamunya.

Terima kasih Kak Sania, Kak Kevin, Kak Adel, dan kawan seperjalanannya. Rumah impian ternyata bukan rumah tanpa masalah, tetapi rumah yang masalah-masalah keciln pun dapat menjadi percakapan yang menghangatkan. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya..

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

Book Launching | Everywhere & Nowhere: The Aesthetics of Growing Pains

“So a new journey has begun and I surrender all my pre-determined fantasies of my becoming, allowing the universe to decide what’s next. Allowing ourselves. To. Just. Live.” Dengan bangga OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari refleksi seorang penulis muda, Karina Dwipayana. Kali ini bergeser dari tema arsitektur,…

Bittersweet Memories In Design Experience I 66. Ren Katili

Bittersweet Memories in Design Experience- Episode 66 Membangun kepercayaan publik dan merespons tantangan iklim tropis bukanlah hal yang mudah bagi seorang arsitek. Menanamkan trust agar masyarakat yakin dan menghargai kekayaan sebuah gagasan adalah proses panjang yang sejatinya sudah harus dirajut jauh sebelum sebuah biro resmi berdiri. Bagi mahasiswa dan arsitek…

PMI #40 – Thomas Karsten & Liem Bwan Tjie – Johannes Adiyanto & Handinoto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #40. Episode kali ini akan terbagi dalam 2 bagian: ▫️Bagian pertama bersama Pak Johannes Adiyanto @jo_adiyanto, mengangkat tema: “Thomas Karsten: When Socialism Meets Modernism in Colonial Cities” Meski Thomas Karsten banyak dikaji, fokusnya masih pada hasil desain seperti…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading