Experiencing – AMOGHASIDA “UNDIP”

Sekolah yang besar tidak hanya dikenang karena gedung dan kurikulumnya, ia dikenang karena alumninya, orang-orang yang setelah lulus berbalik badan dan membuka jalan bagi adik-adiknya. Pekan ini kami diingatkan pada hal itu, sebab yang datang berkunjung bukan tamu asing.

Rombongan AMOGHASIDA yang terdiri dari 102 mahasiswa dan dosen Universitas Diponegoro tiba di Guha, dan ini bukan kunjungan UNDIP yang pertama, sudah berkali-kali kampus ini mengirim mahasiswanya ke Guha. Yang membuat suasananya berbeda, di studio kami dan di barisan pemandu ada banyak kakak-kakak lulusan UNDIP juga, maka hari itu terasa kurang seperti tur dan lebih seperti pertemuan keluarga besar, kakak yang senang bertemu adiknya, adik yang kritis dan tidak habis-habis bertanya.

Revi, salah satu pemandu, mencatat hal yang paling mengejutkan para mahasiswa, material-material sisa di rumah ini ternyata bisa dimanfaatkan sampai menjadi pintu, jendela, bahkan finishing lantai dan dinding.

Di balik kejutan itu ada satu logika yang kami pegang, memperpanjang umur, prolonging life. Bahan sisa dipakai ulang, recycle, atau justru diangkat derajatnya menjadi lebih baik dari asalnya, upcycle, sisa kayu menjadi daun pintu, potongan menjadi kusen jendela, serpihan menjadi finishing lantai dan dinding. Dan siklusnya tidak berhenti di material bangunan, ia berlanjut sampai ke tanah, sisa dapur dan kotoran hewan-hewan kecil di sini menjadi kompos, kompos menghidupi taman dan anggrek, lalu kembali lagi, circular soil, tanah yang berputar. Tidak ada yang benar-benar menjadi sampah di rumah ini, semuanya hanya sedang menunggu hidup keduanya.

Dan Tyo, pemandu lainnya yang juga merasakan relasi kakak-adik itu, menuliskan harapan yang kami simpan sebagai pengingat bersama, semoga kami bisa menjadi cermin yang bening bagi adik-adik ini, yang meminjamkan niatan baik dan bukan egonya, seperti permukaan air danau yang jernih.

Sikap turun-temurun semacam ini punya nama, camaraderie, dan wujud paling sederhananya adalah forum, ruang berkumpul tempat yang senior menemani yang junior bertanya. Forum-forum seperti inilah cikal bakal komunitas, dan komunitas adalah tempat proses pembelajaran yang sebenarnya berlangsung.

Tradisi Nusantara mengenalnya dalam banyak rupa, paguyuban dan padepokan, India dan Jepang menghidupinya dalam bentuk yang lebih meditatif di tengah alam, Yunani kuno menghidupinya di akademia dan stoa, dan bahkan Harvard, sekolah paling termasyhur di dunia, sesungguhnya termasyhur karena alumninya, jaringan orang-orang yang saling membukakan jalan. Sekolah boleh berbeda benua dan zaman, tetapi mesinnya sama, kakak yang menoleh ke belakang.

Terima kasih AMOGASIDA dan adik-adik UNDIP, atas semua pertanyaan kritis yang membuat kakak-kakakmu di sini ikut belajar lagi. Semoga forum kecil hari itu menjadi cikal bakal lingkaran kalian sendiri, dan kelak, ketika giliran kalian yang berdiri di depan, adik-adik angkatan berikutnya menemukan cermin yang sama beningnya. Sampai bertemu di kunjungan berikutnya.

#ExperiencingGuha #OMAHLibrary #LearningThroughSpace #GuhaTheGuild


Informasi OMAH Events lainnya di bawah ini:

Book Launching | Everywhere & Nowhere: The Aesthetics of Growing Pains

“So a new journey has begun and I surrender all my pre-determined fantasies of my becoming, allowing the universe to decide what’s next. Allowing ourselves. To. Just. Live.” Dengan bangga OMAH Library mempersembahkan buku terbaru yang lahir dari refleksi seorang penulis muda, Karina Dwipayana. Kali ini bergeser dari tema arsitektur,…

Bittersweet Memories In Design Experience I 66. Ren Katili

Bittersweet Memories in Design Experience- Episode 66 Membangun kepercayaan publik dan merespons tantangan iklim tropis bukanlah hal yang mudah bagi seorang arsitek. Menanamkan trust agar masyarakat yakin dan menghargai kekayaan sebuah gagasan adalah proses panjang yang sejatinya sudah harus dirajut jauh sebelum sebuah biro resmi berdiri. Bagi mahasiswa dan arsitek…

PMI #40 – Thomas Karsten & Liem Bwan Tjie – Johannes Adiyanto & Handinoto

#kelasomah Halo teman-teman semua, Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #40. Episode kali ini akan terbagi dalam 2 bagian: ▫️Bagian pertama bersama Pak Johannes Adiyanto @jo_adiyanto, mengangkat tema: “Thomas Karsten: When Socialism Meets Modernism in Colonial Cities” Meski Thomas Karsten banyak dikaji, fokusnya masih pada hasil desain seperti…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a Reply

Discover more from OMAH Library

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading