Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Ini kembangan yang eksploratif forum oma, Pak Ryadi, dan rasanya cocok dengan desain yang situasional. Lima jalur sekaligus, dan semuanya bisa jadi obrolan sendiri sendiri. Yang paling menggoda saya nomor terakhir, batu pijak taman Jepang itu. Arsitek mengatur langkah orang, berarti mengatur temponya, berarti sebenarnya sedang menggubah waktu tanpa menyentuh jam. Itu jawaban paling konkret sejauh ini untuk pertanyaan dirancang atau diterima, ternIni kembangan yang eksploratif forum oma, Pak Ryadi, dan rasanya cocok dengan desain yang situasional. Lima jalur sekaligus, dan semuanya bisa jadi obrolan sendiri sendiri. Yang paling menggoda saya nomor terakhir, batu pijak taman Jepang itu. Arsitek mengatur langkah orang, berarti mengatur temponya, berarti sebenarnya sedang menggubah waktu tanpa menyentuh jam. Itu jawaban paling konkret sejauh ini untuk pertanyaan dirancang atau diterima, ternyata dua duanya, tergantung skala.
Jadi pertanyaan lanjutan, dengan apa sebenarnya kita memperlambat orang. Batu pijak memperlambat lewat kaki. Apa lagi yang kita punya, cahaya, bau, langit langit rendah, belokan, dan mana yang bukan sekadar memperlambat tapi membuat orang merasa aman dan teringat sesuatu. Waktu yang melambat, saya ga pernah kepikiran ini sebelumnya, thank you !!!
Mas Nanda dan Pak Ryadi, ternyata sedang menunjuk hal yang sama dari dua arah. Mas Nanda menyebut “larger economic and political forces”, Pak Ryadi menyebut “transaksi kekuatan”. Ikan memang berenang di air, dan air itu tidak netral, ada yang mengatur arusnya.Yang kritis dari kalimat Mas Nanda buat saya, soal local wisdom yang mengeksotiskan. Dan kalau dipikir lebih jauh, pedangnya bermata dua. Ke luar ia membuat yang lokal jadi tontona
Mas Nanda dan Pak Ryadi, ternyata sedang menunjuk hal yang sama dari dua arah. Mas Nanda menyebut “larger economic and political forces”, Pak Ryadi menyebut “transaksi kekuatan”. Ikan memang berenang di air, dan air itu tidak netral, ada yang mengatur arusnya.Yang kritis dari kalimat Mas Nanda buat saya, soal local wisdom yang mengeksotiskan. Dan kalau dipikir lebih jauh, pedangnya bermata dua. Ke luar ia membuat yang lokal jadi tontonan, ke dalam ia bisa tumbuh jadi pemujaan diri, dari kearifan lokal pelan pelan menjadi keunggulan lokal, lalu hegemoni baru dengan wajah nasionalis.
Dan ini paling terasa justru di arsitek praktisi seperti saya. Dalam praktik, istilah semacam local wisdom tidak hanya hidup di gagasan, ia ikut bekerja di negosiasi kepentingan proyek, di cara kami membentuk cara pandang, di cara kami membingkai praktik supaya menarik bagi klien dan media. Jadi kritik ini saya terima dan internalisasi, bukan cuma saya baca, sebab saya bagian dari pasarnya juga.
Pertanyaan yang tersisa, kalau istilahnya bermasalah, apa gantinya. Atau jangan jangan yang perlu diperiksa bukan istilahnya, melainkan siapa yang mendefinisikannya, dari posisi mana ia berdiri, dan apa yang sedang ia jual saat mendefinisikannya.
Satu hal yang ingin saya tambahkan. Bengong itu bukan berhenti berpikir, melainkan cara berpikir yang lain. Di dalamnya penglihatan, pendengaran, suhu, bau, dan waktu bekerja bersamaan, dan refleksi tidak menunggu di belakang sebagai tahap berikutnya, ia ikut hadir di dalamnya. Kita melihat sambil menimbang, mendengar sambil mengenang, merasakan sambil mempertanyakan. Itu sebabnya ia berbeda dari survei, yang memisahkan, mengukur dulu lalu memikiSatu hal yang ingin saya tambahkan. Bengong itu bukan berhenti berpikir, melainkan cara berpikir yang lain. Di dalamnya penglihatan, pendengaran, suhu, bau, dan waktu bekerja bersamaan, dan refleksi tidak menunggu di belakang sebagai tahap berikutnya, ia ikut hadir di dalamnya. Kita melihat sambil menimbang, mendengar sambil mengenang, merasakan sambil mempertanyakan. Itu sebabnya ia berbeda dari survei, yang memisahkan, mengukur dulu lalu memikirkan belakangan. Yang masih mengganjal buat saya, bagaimana membedakan bangunan yang berbicara dengan proyeksi kita sendiri yang sedang kita dengar. Barangkali kuncinya pada kesediaan merasa belum tahu. Yang merasa sudah tahu akan mendengar suaranya sendiri di ruang mana pun.Maka mungkin buku teles memang tidak pernah selesai dibaca, dan tidak bisa dibaca sendirian.
Kalimat Mas Jo soal kata kerja dan kata sifat itu indah, dan saya setuju arsitektur adalah proses dan kualitas, bukan benda mati.Mengenai si kata benda yang barusan dikomentari, justru di bendanya semua kata kerja dan kata sifat itu diuji. Dinding yang bocor, kayu yang melengkung, anggaran yang jebol, itu semua urusan benda, dan benda tidak bisa dipuisikan keluar dari masalahnya. Rasa pun butuh wadah, dan wadah itu benda.
Barangkali bahayanya
Kalimat Mas Jo soal kata kerja dan kata sifat itu indah, dan saya setuju arsitektur adalah proses dan kualitas, bukan benda mati.Mengenai si kata benda yang barusan dikomentari, justru di bendanya semua kata kerja dan kata sifat itu diuji. Dinding yang bocor, kayu yang melengkung, anggaran yang jebol, itu semua urusan benda, dan benda tidak bisa dipuisikan keluar dari masalahnya. Rasa pun butuh wadah, dan wadah itu benda.
Barangkali bahayanya bukan pada mengerdilkan kata benda, melainkan pada memilih salah satu. Arsitektur yang cuma benda jadi gudang, arsitektur yang cuma puisi jadi angan. Yang sulit, dan yang kita kerjakan tiap hari, adalah menjaga kata benda, kata kerja, dan kata sifat itu tetap satu rasa, satu daya.
Apakah itu mungkin, saya tidak tahu. Tapi barangkali justru karena itulah diskusi ini ada, perjuangan mempersatukannya belum selesai, dan mungkin memang tidak untuk diselesaikan.
Terima kasih Mas Nanda. Kalau Mas Jo dan Pak Ryadi membaca Pont dan Karsten dari kedekatannya dengan Jawa, Mas Nanda mengingatkan bahwa kedekatan itu sendiri lahir di dalam proyek kolonial, bukan di luar.Jembatan yang kita kagumi itu dibangun di atas tanah yang sedang dikuasai. Dua bacaan ini tidak harus dipilih salah satu, tapi juga tidak bisa ditumpuk begitu saja seolah tidak saling berimplikasi.
Pertanyaan yang muncul buat saya, kalau empatiTerima kasih Mas Nanda. Kalau Mas Jo dan Pak Ryadi membaca Pont dan Karsten dari kedekatannya dengan Jawa, Mas Nanda mengingatkan bahwa kedekatan itu sendiri lahir di dalam proyek kolonial, bukan di luar.Jembatan yang kita kagumi itu dibangun di atas tanah yang sedang dikuasai. Dua bacaan ini tidak harus dipilih salah satu, tapi juga tidak bisa ditumpuk begitu saja seolah tidak saling berimplikasi.
Pertanyaan yang muncul buat saya, kalau empati Pont dan Karsten pada Jawa adalah by-product kolonialisme, apakah itu membatalkan nilainya, atau justru menunjukkan bahwa karya bisa lebih jujur daripada zamannya sebagai produk kesejarahan.Dan pertanyaan yang lebih dekat, kita hari ini by-product dari kondisi apa, dan siapa yang kelak membacanya.
Terima kasih Pak Ryadi. Ternyata bekal ransel dari kuliah tahun pertama itu yang paling awet, bukan yang dihafal untuk ujian.Peluru pertama Emerson itu pilihan yang tepat. Yang saya suka, tembakan itu terkenal bukan karena kekuatannya, tapi karena ada yang mendengar dan meneruskannya. Kira kira begitu juga forum ini, nilainya bukan pada siapa menembak duluan, tapi pada siapa yang menyambung.
Kopral, peluru kedua ditunggu oleh serdadu t
Terima kasih Pak Ryadi. Ternyata bekal ransel dari kuliah tahun pertama itu yang paling awet, bukan yang dihafal untuk ujian.Peluru pertama Emerson itu pilihan yang tepat. Yang saya suka, tembakan itu terkenal bukan karena kekuatannya, tapi karena ada yang mendengar dan meneruskannya. Kira kira begitu juga forum ini, nilainya bukan pada siapa menembak duluan, tapi pada siapa yang menyambung.
Kopral, peluru kedua ditunggu oleh serdadu tempe bacem.
Terima kasih Mas Jo, soal Pont dan ibu Karsten itu penting, saya hampir menulis sebaliknya.Yang menarik dari uraian Mas Jo, dua cara mengenal jati diri dari Prof Josef itu, menggali ke dalam dan mencari kawan dialog. Kalau begitu, Delft bukan cuma bekal teknis, ia justru menjadi jarak yang memungkinkan mereka melihat Jawa sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, bukan sekadar dijalani.
Dan Gibran yang dibawa Mas Jo itu menyambu
Terima kasih Mas Jo, soal Pont dan ibu Karsten itu penting, saya hampir menulis sebaliknya.Yang menarik dari uraian Mas Jo, dua cara mengenal jati diri dari Prof Josef itu, menggali ke dalam dan mencari kawan dialog. Kalau begitu, Delft bukan cuma bekal teknis, ia justru menjadi jarak yang memungkinkan mereka melihat Jawa sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, bukan sekadar dijalani.
Dan Gibran yang dibawa Mas Jo itu menyambung tanpa sengaja. Tujuh diri yang berdebat itu bukan tujuh orang, satu orang dengan tujuh cara memandang. Barangkali begitu juga arsitek, emic dan etic tidak perlu dua orang berbeda.
Pertanyaan lanjutan, kalau proses berarsitektur Karsten dan Pont perlu dijabarkan mendetail seperti kata Mas Jo, di mana kita bisa membaca prosesnya, bukan hasilnya. Adakah arsipnya, atau memang itu yang hilang.
Terima kasih Pak Ryadi, ruang sudah lama kita bahas, waktu jarang kita diskusikan.Satu pancingan dari saya. Giedion menulis waktu sebagai pengalaman bergerak menembus ruang, tapi ada waktu jenis lain yang jarang masuk buku, yaitu waktu yang dialami bangunan setelah ditinggal arsitek. Lumut, retak, tambahan yang dibuat penghuni, ruang yang berubah fungsi.
Yang ingin saya lempar ke ruangan ini, apakah waktu dalam arsitektur itu s
Terima kasih Pak Ryadi, ruang sudah lama kita bahas, waktu jarang kita diskusikan.Satu pancingan dari saya. Giedion menulis waktu sebagai pengalaman bergerak menembus ruang, tapi ada waktu jenis lain yang jarang masuk buku, yaitu waktu yang dialami bangunan setelah ditinggal arsitek. Lumut, retak, tambahan yang dibuat penghuni, ruang yang berubah fungsi.
Yang ingin saya lempar ke ruangan ini, apakah waktu dalam arsitektur itu sesuatu yang dirancang, atau sesuatu yang hanya bisa diterima.
Silakan siapa pun menyambung, terutama yang punya pengalaman berbeda. Dan mungkin ada satu lapis lagi. Waktu yang diukur untuk diri sendiri cenderung terasa selalu kurang, sebab ia dihitung terhadap ambisi yang tidak ada habisnya. Sedangkan waktu yang dipakai untuk sesuatu di luar diri sering terasa cukup, walau jumlahnya sama.
Pertanyaannya, apakah itu benar, atau hanya cara halus untuk membenarkan kerja tanpa batas. Sebab menyerahkan diri pada yang lebih besar bisa berarti dua hal, ikhlas atau kehilangan rem.Saya sendiri belum tahu jawabannya.
Terima kasih Pak Ryadi, pembuka yang padat.Sebelum melanjutkan, izinkan saya meletakkan dua istilah, “sedikit mencari tahu ” yang Bapak sebut, supaya teman-teman yang baru masuk bisa ikut.
“Emic” dan etic berasal dari Kenneth Pike, diambil dari phonemic dan phonetic. Emic adalah cara memandang dari dalam, memakai kategori yang dipakai oleh orang yang menjalani budaya itu sendiri, misalnya pendapa, pringgitan, senthong,
Terima kasih Pak Ryadi, pembuka yang padat.Sebelum melanjutkan, izinkan saya meletakkan dua istilah, “sedikit mencari tahu ” yang Bapak sebut, supaya teman-teman yang baru masuk bisa ikut.
“Emic” dan etic berasal dari Kenneth Pike, diambil dari phonemic dan phonetic. Emic adalah cara memandang dari dalam, memakai kategori yang dipakai oleh orang yang menjalani budaya itu sendiri, misalnya pendapa, pringgitan, senthong, dengan makna yang mereka pahami sendiri.
Sedangkah, “Etic” adalah cara memandang dari luar, memakai kategori pengamat yang dibuat agar bisa dibandingkan lintas budaya, misalnya menyebut hal yang sama sebagai ruang transisi, ruang semi publik, atau zona privat.
Keduanya bukan lawan, melainkan dua pisau. Yang satu tajam untuk memahami, yang satu tajam untuk membandingkan.
Pertanyaan saya, kenapa latar belakang orang yang memegang pisau itu jadi penting.
Sebab pisau tidak pernah netral. Orang yang memandang dari luar bisa melihat pola yang tidak disadari oleh pelakunya, tapi ia juga bisa memaksakan kategori yang tidak pernah ada di kepala orang setempat, lalu menyebut yang tidak muat sebagai kekurangan. Sebaliknya, orang yang memandang dari dalam paham getarannya, tapi bisa buta pada hal yang sudah terlalu biasa untuk dipertanyakan.
Maka pertanyaan yang saya lempar ke ruangan ini, apakah Jati Diri itu ditentukan dari mana orangnya berasal, atau dari berapa lama ia mau tinggal dan mendengarkan. Dan kalau memang latar belakang menentukan, apa artinya bagi kita yang hari ini menulis tentang arsitektur Nusantara dengan teori yang hampir seluruhnya diimpor. Atau justru sudah waktunya kita menyusun sendiri kerangka yang tumbuh dari cara Nusantara membangun, bukan meminjam terus.
-
This reply was modified 1 week, 3 days ago by
Realrich Sjarief.
-
This reply was modified 1 week, 3 days ago by
Realrich Sjarief.
-
This reply was modified 1 week, 3 days ago by
-
AuthorPosts
