Arsitek Indo-Belanda, Kenapa Penting?

Forum Oma(h) Arsitek Indo-Belanda, Kenapa Penting?

Viewing 10 reply threads
  • Author
    Posts
    • #36303
      omahlibrary's avataromahlibrary
      Keymaster

        Dear Restless Spirit,

        Menyambung obrolan Pak Ryadi soal Karsten dan Pont.
        “Indo-Belanda, Kenapa Penting?”

        Apa yang bisa dibaca seorang Karsten atau Pont yang tidak bisa dibaca arsitek Belanda “totok” maupun pribumi murni pada zamannya? Posisi mereka di antara dua dunia, iklim tropis di satu sisi, bahasa arsitektur Eropa di sisi lain, membuat karyanya jadi jembatan, bukan sekadar tiruan.

      • #36570
        rdv8998's avatarrdv8998
        Participant
          Kelimpok Indo-Eropa dapat dianggap sebagai perintis gerakan arsitektur modern di Indonesia (Hindia Belanda). Sebagian arsitek muda, “blasteran”,  yang progresif dengan ujung tombak MacLaine Pont dan Thomas Karsten berupaya menemukan prinsip arsitektur yang hormat pada lingkungan budaya setempat dan ramah pada iklim tropis. Strategi mereka cerdas dan sederhana mencoba menemukan Jati Diri dengan cara hibrid menggabungkan sistem ruang/bentuk ar
        • #36668
          Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
          Keymaster
            Terima kasih Pak Ryadi, pembuka yang padat.

             

            Sebelum melanjutkan, izinkan saya meletakkan dua istilah, “sedikit mencari tahu ” yang Bapak sebut, supaya teman-teman yang baru masuk bisa ikut.

             

            “Emic” dan etic berasal dari Kenneth Pike, diambil dari phonemic dan phonetic. Emic adalah cara memandang dari dalam, memakai kategori yang dipakai oleh orang yang menjalani budaya itu sendiri, misalnya pendapa, pringgitan, senthong,

          • #36684
            rdv8998's avatarrdv8998
            Participant
              Terima kasih mas Realrich: Uraian “Emic” dan “Etic” mantap membuat kita belajar lebih dalam! Dua istilah yang masih teringat dari kuliah tahun pertama Antropologi Unpad. Sedikit sisa bekal di ransel ternyata memungkinkan napak tilas ke banyak tempat.

              Puisi “Concord Hymn” Ralph Waldo Emerson:

              Dipinjam pleh Kopral Siomay Kentangtahukol untuk Forum Oma: ibarat peluru tembakan2 awalan semoga membuka diskusi yang merdeka!

              • #36692
                Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
                Keymaster
                  Terima kasih Pak Ryadi. Ternyata bekal ransel dari kuliah tahun pertama itu yang paling awet, bukan yang dihafal untuk ujian.

                   

                  Peluru pertama Emerson itu pilihan yang tepat. Yang saya suka, tembakan itu terkenal bukan karena kekuatannya, tapi karena ada yang mendengar dan meneruskannya. Kira kira begitu juga forum ini, nilainya bukan pada siapa menembak duluan, tapi pada siapa yang menyambung.

                  Kopral, peluru kedua ditunggu oleh serdadu t

              • #36685
                cantrikkehidupan's avatarcantrikkehidupan
                Participant
                  Saya masih ingat dalam sebuah kuliah dari Prof Josef saat saya masih kuliah S2 tahun 2001. Beliau menyatakan bahwa untuk mengenal jati diri yaitu dengan 2 cara. Cara pertama adalah menggali dalam diri sendiri, dialogis personal, bertanya terus menerus dengan diri sendiri. Cara kedua adalah mencari kawan dialog, mengenal diri melalui orang lain.

                  Karsten dan Pont melalukan pendekatan kedua, dengan melakukan dialektika dengan orang lain. Walau seca

                  • #36688
                    Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
                    Keymaster
                      Terima kasih Mas Jo, soal Pont dan ibu Karsten itu penting, saya hampir menulis sebaliknya.

                       

                      Yang menarik dari uraian Mas Jo, dua cara mengenal jati diri dari Prof Josef itu, menggali ke dalam dan mencari kawan dialog. Kalau begitu, Delft bukan cuma bekal teknis, ia justru menjadi jarak yang memungkinkan mereka melihat Jawa sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, bukan sekadar dijalani.

                       

                      Dan Gibran yang dibawa Mas Jo itu menyambu

                      • #36693
                        cantrikkehidupan's avatarcantrikkehidupan
                        Participant
                          Hal yang sering saya lakukan adalah dengan teknik sinkronik diakronik. Mejabarkan secara runtutan waktu (time line), dan kemudian menukik ke dalam di beberapa titik melalui analisis tekstual. Namun belakangan ini saya merasa ada yang kurang jika hanya menggunakan teks semata. Salah satu Guru saya, Alm Galih Widjil Pangarsa pernah mengajarkan tentang buku garing (buku kering) dan buku teles (buku basah). Buku kering adalah pengetahuan yang diangka
                          • #36698
                            Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
                            Keymaster
                              Satu hal yang ingin saya tambahkan. Bengong itu bukan berhenti berpikir, melainkan cara berpikir yang lain. Di dalamnya penglihatan, pendengaran, suhu, bau, dan waktu bekerja bersamaan, dan refleksi tidak menunggu di belakang sebagai tahap berikutnya, ia ikut hadir di dalamnya. Kita melihat sambil menimbang, mendengar sambil mengenang, merasakan sambil mempertanyakan. Itu sebabnya ia berbeda dari survei, yang memisahkan, mengukur dulu lalu memiki
                      • #36686
                        cantrikkehidupan's avatarcantrikkehidupan
                        Participant
                          The Seven Selves

                          BY KAHLIL GIBRAN

                          In the stillest hour of the night, as I lay half asleep, my seven
                          selves sat together and thus conversed in whisper:

                          First Self:  Here, in this madman, I have dwelt all these years,
                          with naught to do but renew his pain by day and recreate his sorrow
                          by night.  I can bear my fate no longer, and now I rebel.

                          Second Self:  Yours is a better lot than mine, brother, for it is
                          given to me to be

                        • #36687
                          rdv8998's avatarrdv8998
                          Participant

                            Terima kasih mas Jo “Athos” bantu mencerahkan dari sisi sejarah yang lengkap dan lebih asyik lagi (menurut saya pribadi): kebijaksanaan yang puitis

                            • #36694
                              cantrikkehidupan's avatarcantrikkehidupan
                              Participant

                                Karena arsitektur bukan sekedar susunan batu atau kayu saja, tapi sebuah ‘puisi’. Bahkan terkadang lebih dari susunan kata-kata indah dan berima, namun justru sebuah hidup itu sendiri. Arsitektur adalah kata kerja sekaligus kata sifat, jangan dikerdilkan sebagai kata benda saja.

                                • #36697
                                  Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
                                  Keymaster
                                    Kalimat Mas Jo soal kata kerja dan kata sifat itu indah, dan saya setuju arsitektur adalah proses dan kualitas, bukan benda mati.

                                    Mengenai si kata benda yang barusan dikomentari, justru di bendanya semua kata kerja dan kata sifat itu diuji. Dinding yang bocor, kayu yang melengkung, anggaran yang jebol, itu semua urusan benda, dan benda tidak bisa dipuisikan keluar dari masalahnya. Rasa pun butuh wadah, dan wadah itu benda.

                                    Barangkali bahayanya

                                    • #36806
                                      rdv8998's avatarrdv8998
                                      Participant
                                        Saya coba tambah gerbong diskusi:-). Arsitek, mungkin tergiur oleh pes anoa khusus ilmu arsitektur, memang sering terpaku pada obyek/kata benda   Perhatikan foto2 para arsitek yg bagus tapinya biasanya bangunan hampa manusia:-). Aspek manusia seperti ada dan tiada. Kata kerja bisa mencakup kinerja fisik bangunan (ini yang biasanya juga sering perlu diingatkan melalui jurus tektonika, hemat enersi dsb). Kata kerja untuk menangkap perlaku fungsi y
                                        • This reply was modified 1 week, 2 days ago by rdv8998's avatarrdv8998.
                                • #36695
                                  m nanda widyarta's avatarm nanda widyarta
                                  Participant
                                    Ini jawaban pertanyaan “kenapa penting?” yang saya ketik sembari di dalam bus. Penting, karena arsitek Indo-Belanda ini merupakan kasus yang menunjukkan bahwa tidak ada yang hitam-putih dalam pembentukan pemikiran/konsep/karya arsitektur.

                                    Di satu sisi arsitek seperti Pont dan Karsten punya pengalaman pribadinya sendiri (seperti kata Mas Jo saat mengacu Rassmunsen). Di sisi lain, bagaimana si arsitek menafsirkan pengalamannya juga dib

                                    • #36696
                                      Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
                                      Keymaster
                                        Terima kasih Mas Nanda. Kalau Mas Jo dan Pak Ryadi membaca Pont dan Karsten dari kedekatannya dengan Jawa, Mas Nanda mengingatkan bahwa kedekatan itu sendiri lahir di dalam proyek kolonial, bukan di luar.

                                        Jembatan yang kita kagumi itu dibangun di atas tanah yang sedang dikuasai. Dua bacaan ini tidak harus dipilih salah satu, tapi juga tidak bisa ditumpuk begitu saja seolah tidak saling berimplikasi.
                                        Pertanyaan yang muncul buat saya, kalau empati

                                    • #36736
                                      m nanda widyarta's avatarm nanda widyarta
                                      Participant
                                        Empati Pont dan Karsten pada Jawa bukan sesuatu yang bernilai negatif. Mereka punya niat baik. Tetapi, mereka, sebagaimana kita, adalah bentukan konteksnya. Ambil contoh mengapa Jawa yang mereka pilih, alih-alih masyarakat lain di Hindia. Ada kemungkinan pilihan mereka terbentuk oleh pandangan rasis pemilik hegemoni di koloni tersebut.

                                        Sebatas yang dapat saya pahami, karya dan pemikiran mereka secara jujur menampilkan konteks semacam ini. Ini te

                                      • #36766
                                        rdv8998's avatarrdv8998
                                        Participant
                                          Terima kasih mas Nanda bantu mengingatkan. Saya baru bangun pagi belum minum kopi tergugah baca2 berbagai pemikiran bernas di forum oma. Ibarat ikan (manusia) berenang di air (budaya). Semua cara pikir, sistem transaksi perilaku dan hasil budaya artefak termasuk arsitektur (pengaruh secara gradasi menciptakan pola tertentu berlaku pada semua hirarki skala dari pribadi hingga institusi tingkat negara) berasal – berkembang  dalam lingkup bud
                                        • #36933
                                          Realrich Sjarief's avatarRealrich Sjarief
                                          Keymaster
                                            Mas Nanda dan Pak Ryadi, ternyata sedang menunjuk hal yang sama dari dua arah. Mas Nanda menyebut “larger economic and political forces”, Pak Ryadi menyebut “transaksi kekuatan”. Ikan memang berenang di air, dan air itu tidak netral, ada yang mengatur arusnya.

                                            Yang kritis dari kalimat Mas Nanda buat saya, soal local wisdom yang mengeksotiskan. Dan kalau dipikir lebih jauh, pedangnya bermata dua. Ke luar ia membuat yang lokal jadi tontona

                                        Viewing 10 reply threads
                                        • You must be logged in to reply to this topic.