› Forum Oma(h) › Arsitek Indo-Belanda, Kenapa Penting?
- This topic has 18 replies, 5 voices, and was last updated 1 week ago by
Realrich Sjarief.
-
AuthorPosts
-
-
August 4, 2026 at 10:42 am #36303
Dear Restless Spirit,
Menyambung obrolan Pak Ryadi soal Karsten dan Pont.
“Indo-Belanda, Kenapa Penting?”Apa yang bisa dibaca seorang Karsten atau Pont yang tidak bisa dibaca arsitek Belanda “totok” maupun pribumi murni pada zamannya? Posisi mereka di antara dua dunia, iklim tropis di satu sisi, bahasa arsitektur Eropa di sisi lain, membuat karyanya jadi jembatan, bukan sekadar tiruan.
-
August 4, 2026 at 8:21 pm #36570Kelimpok Indo-Eropa dapat dianggap sebagai perintis gerakan arsitektur modern di Indonesia (Hindia Belanda). Sebagian arsitek muda, “blasteran”, yang progresif dengan ujung tombak MacLaine Pont dan Thomas Karsten berupaya menemukan prinsip arsitektur yang hormat pada lingkungan budaya setempat dan ramah pada iklim tropis. Strategi mereka cerdas dan sederhana mencoba menemukan Jati Diri dengan cara hibrid menggabungkan sistem ruang/bentuk arKelimpok Indo-Eropa dapat dianggap sebagai perintis gerakan arsitektur modern di Indonesia (Hindia Belanda). Sebagian arsitek muda, “blasteran”, yang progresif dengan ujung tombak MacLaine Pont dan Thomas Karsten berupaya menemukan prinsip arsitektur yang hormat pada lingkungan budaya setempat dan ramah pada iklim tropis. Strategi mereka cerdas dan sederhana mencoba menemukan Jati Diri dengan cara hibrid menggabungkan sistem ruang/bentuk arsitektur vernakular “Indo” dengan sistem keteknikan struktur konstruksi modern/“Eropa”.
Peran kelompok ini jelas punya dampak penting. Pertanyaan menohok dari Oma dan juga Opa: Apakah generasi arsitek yg tumbuh berakar di bumi pertiwi yang benar akan sanggup menemukan Jati Diri. Debat antara Emic vs Etic. Nah awal tembakan peluru pertama ini oleh Kopral Siomay KembangTahuKol :-). Silahkan dilanjutkan semoga dengan diskusi yang hangat bergairah. Catatan: tanggapan ini diketik pagi2 secara spontan berdasar ingatan mulai lamur membuat skripsi 4 dasawarsa silam. -
August 6, 2026 at 7:12 pm #36668Terima kasih Pak Ryadi, pembuka yang padat.
Sebelum melanjutkan, izinkan saya meletakkan dua istilah, “sedikit mencari tahu ” yang Bapak sebut, supaya teman-teman yang baru masuk bisa ikut.
“Emic” dan etic berasal dari Kenneth Pike, diambil dari phonemic dan phonetic. Emic adalah cara memandang dari dalam, memakai kategori yang dipakai oleh orang yang menjalani budaya itu sendiri, misalnya pendapa, pringgitan, senthong,
Terima kasih Pak Ryadi, pembuka yang padat.Sebelum melanjutkan, izinkan saya meletakkan dua istilah, “sedikit mencari tahu ” yang Bapak sebut, supaya teman-teman yang baru masuk bisa ikut.
“Emic” dan etic berasal dari Kenneth Pike, diambil dari phonemic dan phonetic. Emic adalah cara memandang dari dalam, memakai kategori yang dipakai oleh orang yang menjalani budaya itu sendiri, misalnya pendapa, pringgitan, senthong, dengan makna yang mereka pahami sendiri.
Sedangkah, “Etic” adalah cara memandang dari luar, memakai kategori pengamat yang dibuat agar bisa dibandingkan lintas budaya, misalnya menyebut hal yang sama sebagai ruang transisi, ruang semi publik, atau zona privat.
Keduanya bukan lawan, melainkan dua pisau. Yang satu tajam untuk memahami, yang satu tajam untuk membandingkan.
Pertanyaan saya, kenapa latar belakang orang yang memegang pisau itu jadi penting.
Sebab pisau tidak pernah netral. Orang yang memandang dari luar bisa melihat pola yang tidak disadari oleh pelakunya, tapi ia juga bisa memaksakan kategori yang tidak pernah ada di kepala orang setempat, lalu menyebut yang tidak muat sebagai kekurangan. Sebaliknya, orang yang memandang dari dalam paham getarannya, tapi bisa buta pada hal yang sudah terlalu biasa untuk dipertanyakan.
Maka pertanyaan yang saya lempar ke ruangan ini, apakah Jati Diri itu ditentukan dari mana orangnya berasal, atau dari berapa lama ia mau tinggal dan mendengarkan. Dan kalau memang latar belakang menentukan, apa artinya bagi kita yang hari ini menulis tentang arsitektur Nusantara dengan teori yang hampir seluruhnya diimpor. Atau justru sudah waktunya kita menyusun sendiri kerangka yang tumbuh dari cara Nusantara membangun, bukan meminjam terus.
-
This reply was modified 1 week, 3 days ago by
Realrich Sjarief.
-
This reply was modified 1 week, 3 days ago by
Realrich Sjarief.
-
This reply was modified 1 week, 3 days ago by
-
August 6, 2026 at 8:18 pm #36684Terima kasih mas Realrich: Uraian “Emic” dan “Etic” mantap membuat kita belajar lebih dalam! Dua istilah yang masih teringat dari kuliah tahun pertama Antropologi Unpad. Sedikit sisa bekal di ransel ternyata memungkinkan napak tilas ke banyak tempat.
Puisi “Concord Hymn” Ralph Waldo Emerson:
Dipinjam pleh Kopral Siomay Kentangtahukol untuk Forum Oma: ibarat peluru tembakan2 awalan semoga membuka diskusi yang merdeka!
Terima kasih mas Realrich: Uraian “Emic” dan “Etic” mantap membuat kita belajar lebih dalam! Dua istilah yang masih teringat dari kuliah tahun pertama Antropologi Unpad. Sedikit sisa bekal di ransel ternyata memungkinkan napak tilas ke banyak tempat.Puisi “Concord Hymn” Ralph Waldo Emerson:
Dipinjam pleh Kopral Siomay Kentangtahukol untuk Forum Oma: ibarat peluru tembakan2 awalan semoga membuka diskusi yang merdeka!
The phrase ‘shot heard round the world’ refers to the first gunfire that sparked the American Revolutionary War on April 19, 1775, symbolizing the start of the struggle for independence from British rule. It has since become a metaphor for any significant event that triggers widespread change or conflict
-
August 6, 2026 at 9:50 pm #36692Terima kasih Pak Ryadi. Ternyata bekal ransel dari kuliah tahun pertama itu yang paling awet, bukan yang dihafal untuk ujian.
Peluru pertama Emerson itu pilihan yang tepat. Yang saya suka, tembakan itu terkenal bukan karena kekuatannya, tapi karena ada yang mendengar dan meneruskannya. Kira kira begitu juga forum ini, nilainya bukan pada siapa menembak duluan, tapi pada siapa yang menyambung.
Kopral, peluru kedua ditunggu oleh serdadu t
Terima kasih Pak Ryadi. Ternyata bekal ransel dari kuliah tahun pertama itu yang paling awet, bukan yang dihafal untuk ujian.Peluru pertama Emerson itu pilihan yang tepat. Yang saya suka, tembakan itu terkenal bukan karena kekuatannya, tapi karena ada yang mendengar dan meneruskannya. Kira kira begitu juga forum ini, nilainya bukan pada siapa menembak duluan, tapi pada siapa yang menyambung.
Kopral, peluru kedua ditunggu oleh serdadu tempe bacem.
-
-
August 6, 2026 at 8:23 pm #36685Saya masih ingat dalam sebuah kuliah dari Prof Josef saat saya masih kuliah S2 tahun 2001. Beliau menyatakan bahwa untuk mengenal jati diri yaitu dengan 2 cara. Cara pertama adalah menggali dalam diri sendiri, dialogis personal, bertanya terus menerus dengan diri sendiri. Cara kedua adalah mencari kawan dialog, mengenal diri melalui orang lain.
Karsten dan Pont melalukan pendekatan kedua, dengan melakukan dialektika dengan orang lain. Walau seca
Saya masih ingat dalam sebuah kuliah dari Prof Josef saat saya masih kuliah S2 tahun 2001. Beliau menyatakan bahwa untuk mengenal jati diri yaitu dengan 2 cara. Cara pertama adalah menggali dalam diri sendiri, dialogis personal, bertanya terus menerus dengan diri sendiri. Cara kedua adalah mencari kawan dialog, mengenal diri melalui orang lain.Karsten dan Pont melalukan pendekatan kedua, dengan melakukan dialektika dengan orang lain. Walau secara garis keturunan keduanya mempunyai darah Asia. Bahkan Pont lebih kental karena lahir di Nusantara tepatnya di kawasan Jatinegara (saat ini). Ibu Karsten lahir di Ngawi dan punya darah keturunan Tionghoa. Kedekatan Karsten dan Pont terhadap Nusantara secara ‘darah’ dan tempat kelahiran sepertinya menjadi dasar biologis yang membuat keduanya mampu berdialog dengan Nusantara terutama Jawa dengan amat dekat dan beberapa ahli mengatakan bahwa mereka bukan Orang Belanda sepenuhnya tapi sudah menjadi orang Jawa.
Pendidikan arsitektur di Delft, merupakan batu pijakan yang kuat untuk membangun cara berpikir logis dan sistematis. Dengan pondasi pengetahuan ini, Karsten dan Pont mampu membongkar lalu menyusun kembali pengetahuan arsitektur di Jawa tanpa harus menghilangkan ke-jawa-annya. Tentu ini ada proses, tidak sertamerta mampu menghasilkan karya seperti Sobokarrti atau Gereja Puh Sarang. Proses berarsitektur inilah yang perlu dijabarkan mendetail, sehingga tarik menarik logika rasionalisme dengan ‘Roso’ intutitif bisa teridentifikasi dengan detail.
-
August 6, 2026 at 9:48 pm #36688Terima kasih Mas Jo, soal Pont dan ibu Karsten itu penting, saya hampir menulis sebaliknya.
Yang menarik dari uraian Mas Jo, dua cara mengenal jati diri dari Prof Josef itu, menggali ke dalam dan mencari kawan dialog. Kalau begitu, Delft bukan cuma bekal teknis, ia justru menjadi jarak yang memungkinkan mereka melihat Jawa sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, bukan sekadar dijalani.
Dan Gibran yang dibawa Mas Jo itu menyambu
Terima kasih Mas Jo, soal Pont dan ibu Karsten itu penting, saya hampir menulis sebaliknya.Yang menarik dari uraian Mas Jo, dua cara mengenal jati diri dari Prof Josef itu, menggali ke dalam dan mencari kawan dialog. Kalau begitu, Delft bukan cuma bekal teknis, ia justru menjadi jarak yang memungkinkan mereka melihat Jawa sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, bukan sekadar dijalani.
Dan Gibran yang dibawa Mas Jo itu menyambung tanpa sengaja. Tujuh diri yang berdebat itu bukan tujuh orang, satu orang dengan tujuh cara memandang. Barangkali begitu juga arsitek, emic dan etic tidak perlu dua orang berbeda.
Pertanyaan lanjutan, kalau proses berarsitektur Karsten dan Pont perlu dijabarkan mendetail seperti kata Mas Jo, di mana kita bisa membaca prosesnya, bukan hasilnya. Adakah arsipnya, atau memang itu yang hilang.
-
August 6, 2026 at 11:06 pm #36693Hal yang sering saya lakukan adalah dengan teknik sinkronik diakronik. Mejabarkan secara runtutan waktu (time line), dan kemudian menukik ke dalam di beberapa titik melalui analisis tekstual. Namun belakangan ini saya merasa ada yang kurang jika hanya menggunakan teks semata. Salah satu Guru saya, Alm Galih Widjil Pangarsa pernah mengajarkan tentang buku garing (buku kering) dan buku teles (buku basah). Buku kering adalah pengetahuan yang diangkaHal yang sering saya lakukan adalah dengan teknik sinkronik diakronik. Mejabarkan secara runtutan waktu (time line), dan kemudian menukik ke dalam di beberapa titik melalui analisis tekstual. Namun belakangan ini saya merasa ada yang kurang jika hanya menggunakan teks semata. Salah satu Guru saya, Alm Galih Widjil Pangarsa pernah mengajarkan tentang buku garing (buku kering) dan buku teles (buku basah). Buku kering adalah pengetahuan yang diangkat dari teks yaitu paper, biografi atau ulasan-ulasan yang termuat dalam paper ilmiah atau segala macam yang tekstual. Sedangkan buku basah adalah hal-hal yang justru tidak tercatat dengan jelas. Dalam arsitektur sering muncul dalam teknik ‘merasakan ruang’, versi rasionalistik sistematik apa yang dijabarkan oleh Rassmunsen dalam buku ‘Experiencing Architecture’. Hemat saya, dalam survey tidak hanya melakukan pengukuran atau massed drawing saja, tapi justru ‘berdialog dengan bangunan. Caranya biarkan tubuh merasakan apa yang ada di ruang-ruang tercipta. Bengong dan biarkan tubuh mengidentifikasikan perasaan yang muncul.
Mungkin itu yang bisa dilakukan. Baca literatur, lalu kunjungi karyanya. Bawa diri ke masa saat bangunan itu awal berdiri. Dan biarkan bangunan itu bercerita tentang dirinya.
-
August 7, 2026 at 12:54 pm #36698Satu hal yang ingin saya tambahkan. Bengong itu bukan berhenti berpikir, melainkan cara berpikir yang lain. Di dalamnya penglihatan, pendengaran, suhu, bau, dan waktu bekerja bersamaan, dan refleksi tidak menunggu di belakang sebagai tahap berikutnya, ia ikut hadir di dalamnya. Kita melihat sambil menimbang, mendengar sambil mengenang, merasakan sambil mempertanyakan. Itu sebabnya ia berbeda dari survei, yang memisahkan, mengukur dulu lalu memikiSatu hal yang ingin saya tambahkan. Bengong itu bukan berhenti berpikir, melainkan cara berpikir yang lain. Di dalamnya penglihatan, pendengaran, suhu, bau, dan waktu bekerja bersamaan, dan refleksi tidak menunggu di belakang sebagai tahap berikutnya, ia ikut hadir di dalamnya. Kita melihat sambil menimbang, mendengar sambil mengenang, merasakan sambil mempertanyakan. Itu sebabnya ia berbeda dari survei, yang memisahkan, mengukur dulu lalu memikirkan belakangan. Yang masih mengganjal buat saya, bagaimana membedakan bangunan yang berbicara dengan proyeksi kita sendiri yang sedang kita dengar. Barangkali kuncinya pada kesediaan merasa belum tahu. Yang merasa sudah tahu akan mendengar suaranya sendiri di ruang mana pun.
Maka mungkin buku teles memang tidak pernah selesai dibaca, dan tidak bisa dibaca sendirian.
-
-
-
-
August 6, 2026 at 8:30 pm #36686The Seven Selves
BY KAHLIL GIBRAN
In the stillest hour of the night, as I lay half asleep, my seven
selves sat together and thus conversed in whisper:First Self: Here, in this madman, I have dwelt all these years,
with naught to do but renew his pain by day and recreate his sorrow
by night. I can bear my fate no longer, and now I rebel.Second Self: Yours is a better lot than mine, brother, for it is
given to me to beThe Seven SelvesBY KAHLIL GIBRAN
In the stillest hour of the night, as I lay half asleep, my seven
selves sat together and thus conversed in whisper:First Self: Here, in this madman, I have dwelt all these years,
with naught to do but renew his pain by day and recreate his sorrow
by night. I can bear my fate no longer, and now I rebel.Second Self: Yours is a better lot than mine, brother, for it is
given to me to be this madman’s joyous self. I laugh his laughter
and sing his happy hours, and with thrice winged feet I dance
his brighter thoughts. It is I that would rebel against my weary
existence.Third Self: And what of me, the love-ridden self, the flaming brand
of wild passion and fantastic desires? It is I the love-sick self
who would rebel against this madman.Fourth Self: I, amongst you all, am the most miserable, for naught
was given me but odious hatred and destructive loathing. It is
I, the tempest-like self, the one born in the black caves of Hell,
who would protest against serving this madman.Fifth Self: Nay, it is I, the thinking self, the fanciful self,
the self of hunger and thirst, the one doomed to wander without
rest in search of unknown things and things not yet created; it is
I, not you, who would rebel.Sixth Self: And I, the working self, the pitiful labourer, who,
with patient hands, and longing eyes, fashion the days into images
and give the formless elements new and eternal forms—it is I, the
solitary one, who would rebel against this restless madman.Seventh Self: How strange that you all would rebel against this
man, because each and every one of you has a preordained fate to
fulfill. Ah! could I but be like one of you, a self with a determined
lot! But I have none, I am the do-nothing self, the one who sits
in the dumb, empty nowhere and nowhen, while you are busy re-creating
life. Is it you or I, neighbours, who should rebel?When the seventh self thus spake the other six selves looked with
pity upon him but said nothing more; and as the night grew deeper
one after the other went to sleep enfolded with a new and happy
submission.But the seventh self remained watching and gazing at nothingness,
which is behind all things. -
August 6, 2026 at 8:38 pm #36687
Terima kasih mas Jo “Athos” bantu mencerahkan dari sisi sejarah yang lengkap dan lebih asyik lagi (menurut saya pribadi): kebijaksanaan yang puitis
-
August 6, 2026 at 11:09 pm #36694
Karena arsitektur bukan sekedar susunan batu atau kayu saja, tapi sebuah ‘puisi’. Bahkan terkadang lebih dari susunan kata-kata indah dan berima, namun justru sebuah hidup itu sendiri. Arsitektur adalah kata kerja sekaligus kata sifat, jangan dikerdilkan sebagai kata benda saja.
-
August 7, 2026 at 12:11 pm #36697Kalimat Mas Jo soal kata kerja dan kata sifat itu indah, dan saya setuju arsitektur adalah proses dan kualitas, bukan benda mati.
Mengenai si kata benda yang barusan dikomentari, justru di bendanya semua kata kerja dan kata sifat itu diuji. Dinding yang bocor, kayu yang melengkung, anggaran yang jebol, itu semua urusan benda, dan benda tidak bisa dipuisikan keluar dari masalahnya. Rasa pun butuh wadah, dan wadah itu benda.
Barangkali bahayanya
Kalimat Mas Jo soal kata kerja dan kata sifat itu indah, dan saya setuju arsitektur adalah proses dan kualitas, bukan benda mati.Mengenai si kata benda yang barusan dikomentari, justru di bendanya semua kata kerja dan kata sifat itu diuji. Dinding yang bocor, kayu yang melengkung, anggaran yang jebol, itu semua urusan benda, dan benda tidak bisa dipuisikan keluar dari masalahnya. Rasa pun butuh wadah, dan wadah itu benda.
Barangkali bahayanya bukan pada mengerdilkan kata benda, melainkan pada memilih salah satu. Arsitektur yang cuma benda jadi gudang, arsitektur yang cuma puisi jadi angan. Yang sulit, dan yang kita kerjakan tiap hari, adalah menjaga kata benda, kata kerja, dan kata sifat itu tetap satu rasa, satu daya.
Apakah itu mungkin, saya tidak tahu. Tapi barangkali justru karena itulah diskusi ini ada, perjuangan mempersatukannya belum selesai, dan mungkin memang tidak untuk diselesaikan.
-
August 7, 2026 at 4:41 pm #36806Saya coba tambah gerbong diskusi:-). Arsitek, mungkin tergiur oleh pes anoa khusus ilmu arsitektur, memang sering terpaku pada obyek/kata benda Perhatikan foto2 para arsitek yg bagus tapinya biasanya bangunan hampa manusia:-). Aspek manusia seperti ada dan tiada. Kata kerja bisa mencakup kinerja fisik bangunan (ini yang biasanya juga sering perlu diingatkan melalui jurus tektonika, hemat enersi dsb). Kata kerja untuk menangkap perlaku fungsi ySaya coba tambah gerbong diskusi:-). Arsitek, mungkin tergiur oleh pes anoa khusus ilmu arsitektur, memang sering terpaku pada obyek/kata benda Perhatikan foto2 para arsitek yg bagus tapinya biasanya bangunan hampa manusia:-). Aspek manusia seperti ada dan tiada. Kata kerja bisa mencakup kinerja fisik bangunan (ini yang biasanya juga sering perlu diingatkan melalui jurus tektonika, hemat enersi dsb). Kata kerja untuk menangkap perlaku fungsi yang perlu diwadahi. Karena manusia bukan robot android maka perlu ditambah kata sifat untuk pengalaman rasa bernuansa. Semua jenis kata perlu dirangkum menjadi kalimat disusun dengan tata bahasa baik namun kreatif sebagai narasi cerita yang idealnya tepat guna, sarat makna, puitis indah menciptakan kesan pengalaman yang mencerahkan bagi manusia penggunanya. Arsitek sebagai story teller yang mumpuni melalui bahasa ruang bentuk arsitektur. Mirip Homer melalui cerita kata mewarisi Illiad dan Odysseus
-
This reply was modified 1 week, 2 days ago by
rdv8998.
-
This reply was modified 1 week, 2 days ago by
-
-
-
-
August 7, 2026 at 7:38 am #36695Ini jawaban pertanyaan “kenapa penting?” yang saya ketik sembari di dalam bus. Penting, karena arsitek Indo-Belanda ini merupakan kasus yang menunjukkan bahwa tidak ada yang hitam-putih dalam pembentukan pemikiran/konsep/karya arsitektur.
Di satu sisi arsitek seperti Pont dan Karsten punya pengalaman pribadinya sendiri (seperti kata Mas Jo saat mengacu Rassmunsen). Di sisi lain, bagaimana si arsitek menafsirkan pengalamannya juga dib
Ini jawaban pertanyaan “kenapa penting?” yang saya ketik sembari di dalam bus. Penting, karena arsitek Indo-Belanda ini merupakan kasus yang menunjukkan bahwa tidak ada yang hitam-putih dalam pembentukan pemikiran/konsep/karya arsitektur.Di satu sisi arsitek seperti Pont dan Karsten punya pengalaman pribadinya sendiri (seperti kata Mas Jo saat mengacu Rassmunsen). Di sisi lain, bagaimana si arsitek menafsirkan pengalamannya juga dibentuk oleh konteksnya. Pont dan Karsten dibentuk oleh pandangan romantisis-historisis. Saya pikir ini perlu jadi pertimbangan juga.
Selain itu, kebetulan Pont dan Karsten berpraktek setelah Van Heutz mencoba untuk mendefinisikan “Hindia” melalui kombinasi antara “Timur” dan “Barat.” Kombinasi ini merupakan usaha rekayasa sosial yang dilakukan oleh rezim kolonial demi mengendalikan obyek jajahannya. Bukan berarti saya menuduh Pont, Karsten dll sebagai “antek asing,” tetapi mereka adalah by-product dari kondisi kolonial tersebut.
Di sisi yang lain lagi, Perang Dunia I merusak Eropa. Di masa yg sama, bukunya Oswal Sprengler, Der Untergang des Abenlandes, dibaca oleh khalayak ramai di Eropa (termasuk oleh Berlage). Kondisi ini membuat sebagian orang Eropa (mungkin Pont dan Karsten, serta Berlage termasuk) untuk mencari semacam alternatif di luar “Barat” demi mempertahankan peradaban.
Perhatikan bagaimana Pont, misalnya, membuat gambar presentasinya. Ada semacam nuansa yang mengingatkan pada karya-karya visual yang diasosiasikan dengan gerakan Arts & Crafts. Tercermin dari gambar tersebut adanya impian akan dunia yang “murni” dan “otentik.”
Sekian dulu ya, sedang di bus.
-
August 7, 2026 at 12:10 pm #36696Terima kasih Mas Nanda. Kalau Mas Jo dan Pak Ryadi membaca Pont dan Karsten dari kedekatannya dengan Jawa, Mas Nanda mengingatkan bahwa kedekatan itu sendiri lahir di dalam proyek kolonial, bukan di luar.
Jembatan yang kita kagumi itu dibangun di atas tanah yang sedang dikuasai. Dua bacaan ini tidak harus dipilih salah satu, tapi juga tidak bisa ditumpuk begitu saja seolah tidak saling berimplikasi.
Pertanyaan yang muncul buat saya, kalau empatiTerima kasih Mas Nanda. Kalau Mas Jo dan Pak Ryadi membaca Pont dan Karsten dari kedekatannya dengan Jawa, Mas Nanda mengingatkan bahwa kedekatan itu sendiri lahir di dalam proyek kolonial, bukan di luar.Jembatan yang kita kagumi itu dibangun di atas tanah yang sedang dikuasai. Dua bacaan ini tidak harus dipilih salah satu, tapi juga tidak bisa ditumpuk begitu saja seolah tidak saling berimplikasi.
Pertanyaan yang muncul buat saya, kalau empati Pont dan Karsten pada Jawa adalah by-product kolonialisme, apakah itu membatalkan nilainya, atau justru menunjukkan bahwa karya bisa lebih jujur daripada zamannya sebagai produk kesejarahan.Dan pertanyaan yang lebih dekat, kita hari ini by-product dari kondisi apa, dan siapa yang kelak membacanya.
-
-
August 7, 2026 at 3:08 pm #36736Empati Pont dan Karsten pada Jawa bukan sesuatu yang bernilai negatif. Mereka punya niat baik. Tetapi, mereka, sebagaimana kita, adalah bentukan konteksnya. Ambil contoh mengapa Jawa yang mereka pilih, alih-alih masyarakat lain di Hindia. Ada kemungkinan pilihan mereka terbentuk oleh pandangan rasis pemilik hegemoni di koloni tersebut.
Sebatas yang dapat saya pahami, karya dan pemikiran mereka secara jujur menampilkan konteks semacam ini. Ini te
Empati Pont dan Karsten pada Jawa bukan sesuatu yang bernilai negatif. Mereka punya niat baik. Tetapi, mereka, sebagaimana kita, adalah bentukan konteksnya. Ambil contoh mengapa Jawa yang mereka pilih, alih-alih masyarakat lain di Hindia. Ada kemungkinan pilihan mereka terbentuk oleh pandangan rasis pemilik hegemoni di koloni tersebut.Sebatas yang dapat saya pahami, karya dan pemikiran mereka secara jujur menampilkan konteks semacam ini. Ini terjadi justru karena mereka memang Eropa, tapi tidak mewakili rezim kolonial. Mereka punya niat baik, tapi terkepung oleh konteks kolonial.
Begitu juga kita sekarang, yang terbentuk oleh konteks saat ini. Kita bicara tentang arsitektur yang liyan, yaitu yang diciptakan oleh arsitek non-arus utama, yang mewakili masyarakat yang pernah dijajah. Tetapi, kita masih menggunakan istilah “local wisdom” yang justru punya satu implikasi: kebijakan non-“Barat” justru semakin dieksotiskan. Mempelajari arsitek-arsitek seperti Pont dan Karsten, sebagaimana mempelajari arsitek seperti Laury Baker di India, menunjukkan bahwa kita juga merupakan bentukan larger economic and political forces, both internal and external to our own society.
-
August 7, 2026 at 4:22 pm #36766Terima kasih mas Nanda bantu mengingatkan. Saya baru bangun pagi belum minum kopi tergugah baca2 berbagai pemikiran bernas di forum oma. Ibarat ikan (manusia) berenang di air (budaya). Semua cara pikir, sistem transaksi perilaku dan hasil budaya artefak termasuk arsitektur (pengaruh secara gradasi menciptakan pola tertentu berlaku pada semua hirarki skala dari pribadi hingga institusi tingkat negara) berasal – berkembang dalam lingkup budTerima kasih mas Nanda bantu mengingatkan. Saya baru bangun pagi belum minum kopi tergugah baca2 berbagai pemikiran bernas di forum oma. Ibarat ikan (manusia) berenang di air (budaya). Semua cara pikir, sistem transaksi perilaku dan hasil budaya artefak termasuk arsitektur (pengaruh secara gradasi menciptakan pola tertentu berlaku pada semua hirarki skala dari pribadi hingga institusi tingkat negara) berasal – berkembang dalam lingkup budaya berdasar tempat waktu situasional secara dinamis berubah menerus. Singkatnya apapun pasti terpengaruh oleh konteks/sistem budaya secara luas menyeluruh. Pada dasarnya/biang keroknya boleh dibilang dari prinsip sederhana: Masalah transaksi kekuatan (power system).
-
August 9, 2026 at 8:07 pm #36933Mas Nanda dan Pak Ryadi, ternyata sedang menunjuk hal yang sama dari dua arah. Mas Nanda menyebut “larger economic and political forces”, Pak Ryadi menyebut “transaksi kekuatan”. Ikan memang berenang di air, dan air itu tidak netral, ada yang mengatur arusnya.
Yang kritis dari kalimat Mas Nanda buat saya, soal local wisdom yang mengeksotiskan. Dan kalau dipikir lebih jauh, pedangnya bermata dua. Ke luar ia membuat yang lokal jadi tontona
Mas Nanda dan Pak Ryadi, ternyata sedang menunjuk hal yang sama dari dua arah. Mas Nanda menyebut “larger economic and political forces”, Pak Ryadi menyebut “transaksi kekuatan”. Ikan memang berenang di air, dan air itu tidak netral, ada yang mengatur arusnya.Yang kritis dari kalimat Mas Nanda buat saya, soal local wisdom yang mengeksotiskan. Dan kalau dipikir lebih jauh, pedangnya bermata dua. Ke luar ia membuat yang lokal jadi tontonan, ke dalam ia bisa tumbuh jadi pemujaan diri, dari kearifan lokal pelan pelan menjadi keunggulan lokal, lalu hegemoni baru dengan wajah nasionalis.
Dan ini paling terasa justru di arsitek praktisi seperti saya. Dalam praktik, istilah semacam local wisdom tidak hanya hidup di gagasan, ia ikut bekerja di negosiasi kepentingan proyek, di cara kami membentuk cara pandang, di cara kami membingkai praktik supaya menarik bagi klien dan media. Jadi kritik ini saya terima dan internalisasi, bukan cuma saya baca, sebab saya bagian dari pasarnya juga.
Pertanyaan yang tersisa, kalau istilahnya bermasalah, apa gantinya. Atau jangan jangan yang perlu diperiksa bukan istilahnya, melainkan siapa yang mendefinisikannya, dari posisi mana ia berdiri, dan apa yang sedang ia jual saat mendefinisikannya.
-
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.
