Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Empati Pont dan Karsten pada Jawa bukan sesuatu yang bernilai negatif. Mereka punya niat baik. Tetapi, mereka, sebagaimana kita, adalah bentukan konteksnya. Ambil contoh mengapa Jawa yang mereka pilih, alih-alih masyarakat lain di Hindia. Ada kemungkinan pilihan mereka terbentuk oleh pandangan rasis pemilik hegemoni di koloni tersebut.
Sebatas yang dapat saya pahami, karya dan pemikiran mereka secara jujur menampilkan konteks semacam ini. Ini te
Empati Pont dan Karsten pada Jawa bukan sesuatu yang bernilai negatif. Mereka punya niat baik. Tetapi, mereka, sebagaimana kita, adalah bentukan konteksnya. Ambil contoh mengapa Jawa yang mereka pilih, alih-alih masyarakat lain di Hindia. Ada kemungkinan pilihan mereka terbentuk oleh pandangan rasis pemilik hegemoni di koloni tersebut.Sebatas yang dapat saya pahami, karya dan pemikiran mereka secara jujur menampilkan konteks semacam ini. Ini terjadi justru karena mereka memang Eropa, tapi tidak mewakili rezim kolonial. Mereka punya niat baik, tapi terkepung oleh konteks kolonial.
Begitu juga kita sekarang, yang terbentuk oleh konteks saat ini. Kita bicara tentang arsitektur yang liyan, yaitu yang diciptakan oleh arsitek non-arus utama, yang mewakili masyarakat yang pernah dijajah. Tetapi, kita masih menggunakan istilah “local wisdom” yang justru punya satu implikasi: kebijakan non-“Barat” justru semakin dieksotiskan. Mempelajari arsitek-arsitek seperti Pont dan Karsten, sebagaimana mempelajari arsitek seperti Laury Baker di India, menunjukkan bahwa kita juga merupakan bentukan larger economic and political forces, both internal and external to our own society.
Ini jawaban pertanyaan “kenapa penting?” yang saya ketik sembari di dalam bus. Penting, karena arsitek Indo-Belanda ini merupakan kasus yang menunjukkan bahwa tidak ada yang hitam-putih dalam pembentukan pemikiran/konsep/karya arsitektur.Di satu sisi arsitek seperti Pont dan Karsten punya pengalaman pribadinya sendiri (seperti kata Mas Jo saat mengacu Rassmunsen). Di sisi lain, bagaimana si arsitek menafsirkan pengalamannya juga dib
Ini jawaban pertanyaan “kenapa penting?” yang saya ketik sembari di dalam bus. Penting, karena arsitek Indo-Belanda ini merupakan kasus yang menunjukkan bahwa tidak ada yang hitam-putih dalam pembentukan pemikiran/konsep/karya arsitektur.Di satu sisi arsitek seperti Pont dan Karsten punya pengalaman pribadinya sendiri (seperti kata Mas Jo saat mengacu Rassmunsen). Di sisi lain, bagaimana si arsitek menafsirkan pengalamannya juga dibentuk oleh konteksnya. Pont dan Karsten dibentuk oleh pandangan romantisis-historisis. Saya pikir ini perlu jadi pertimbangan juga.
Selain itu, kebetulan Pont dan Karsten berpraktek setelah Van Heutz mencoba untuk mendefinisikan “Hindia” melalui kombinasi antara “Timur” dan “Barat.” Kombinasi ini merupakan usaha rekayasa sosial yang dilakukan oleh rezim kolonial demi mengendalikan obyek jajahannya. Bukan berarti saya menuduh Pont, Karsten dll sebagai “antek asing,” tetapi mereka adalah by-product dari kondisi kolonial tersebut.
Di sisi yang lain lagi, Perang Dunia I merusak Eropa. Di masa yg sama, bukunya Oswal Sprengler, Der Untergang des Abenlandes, dibaca oleh khalayak ramai di Eropa (termasuk oleh Berlage). Kondisi ini membuat sebagian orang Eropa (mungkin Pont dan Karsten, serta Berlage termasuk) untuk mencari semacam alternatif di luar “Barat” demi mempertahankan peradaban.
Perhatikan bagaimana Pont, misalnya, membuat gambar presentasinya. Ada semacam nuansa yang mengingatkan pada karya-karya visual yang diasosiasikan dengan gerakan Arts & Crafts. Tercermin dari gambar tersebut adanya impian akan dunia yang “murni” dan “otentik.”
Sekian dulu ya, sedang di bus.
-
AuthorPosts
