Summary | Bittersweet Memories in Design Experience Ep.32 Yoshi Fajar

Summary Lecture Bittersweet Memories in Design Experience #32: Yoshi Fajar

Pada sesi Kamis, 12 Juni 2025, Bittersweet Memories menghadirkan Yoshi Fajar Kresno Murti, dengan diskusi dimoderatori oleh Hanifah Sausan dari OMAH Library. Arlyn Keizia membuka acara dengan pengantar mengenai konstelasi pemikiran arsitektur di Jogjakarta dan konteks sosial-budaya yang lebih luas, serta menyoroti peran unik Yoshi melalui Ugahari—sebuah gerakan sosial yang mendefinisikan ulang praktik arsitektur di luar pola konvensional.

Yoshi membuka dengan kisah keterlibatannya di Pondok Rakyat bersama Eko Prawoto. Sebagai generasi kedua, ia menghidupkan kembali lembaga ini lewat inisiatif seperti Warta Kampung dan Histori Jogja—sebuah upaya membangun kembali dialog komunitas dan menelusuri sejarah sosial kota.

Melalui Ugahari, Yoshi merespons kegelisahan atas profesionalisasi arsitektur. Gerakan ini menolak hierarki sistemik pasca-COVID dan UU Omnibus, menempatkan kebutuhan di atas keinginan. Dalam bekerja, tim Yoshi memulai dari kebiasaan sehari-hari klien. Proses desain diawali dari kebiasaan klien dan bersifat responsif. Relasi setara antara arsitek, tukang, dan klien jadi prinsip Utama.

Dalam sesi tanya jawab, Yoshi mengusulkan arsitektur harus membuktikan kebutuhan membangun, terinspirasi konsep “pembuktian terbalik” Gus Dur. Ia menegaskan arsitektur sebaiknya menolak membangun kecuali benar-benar perlu, menantang romantisme pembangunan dan mendorong evaluasi kritis dampaknya.

Yoshi juga menegaskan bahwa “arsitektur tidak membangun” adalah gerakan aktif mencari solusi alternatif, seperti memanfaatkan ruang warga untuk kebutuhan tanpa merusak lingkungan.

(Lanjut di kolom komentar ya)

Pengalaman tinggal di perbukitan Menoreh selama 4–5 tahun turut memperkaya praktiknya. Terlibat dalam pertanian dan ekosistem lokal, Yoshi melihat lanskap sebagai sistem terhubung yang melibatkan air, tanaman, dan komunitas. Hal ini memperkuat pendekatan interdisipliner dan holistik Ugahari, yang mendalami analisis sosial dan budaya untuk memahami akar masalah ruang. Yoshi juga membagikan karya Hotel Purgatorio (Biennale Jogja) yang mengkritik pembangunan hotel besar dan menawarkan model perhotelan berbasis komunitas sebagai alat advokasi sosial.

Di akhir sesi, Yoshi menekankan pentingnya mengembalikan arsitektur sebagai disiplin kritis dan holistik, serta mengajak peserta mempertanyakan tujuan membangun untuk keadilan sosial dan ekologis. Di tengah tekanan kapitalisme dan regulasi di Indonesia, pendekatan Ugahari memberi harapan baru.

Hanifah menutup acara dengan refleksi bahwa perjalanan Yoshi mencerminkan visi besar, kepekaan sosial, dan kreativitas kritis. Ugahari menjadi “tongkat estafet” bagi generasi arsitek berikutnya untuk terus menantang status quo. Realrich menutup dengan menyatakan, “Arsitektur bukan hanya soal membangun, tapi membangun makna,” merayakan semangat perjuangan jujur Yoshi dalam arsitektur.


Tentang OMAH Events lainnya di bawah ini:

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.

Published by Realrich Sjarief

Founder of RAW Architecture

Leave a comment