Forum Replies Created
-
AuthorPosts
-
Karena arsitektur bukan sekedar susunan batu atau kayu saja, tapi sebuah ‘puisi’. Bahkan terkadang lebih dari susunan kata-kata indah dan berima, namun justru sebuah hidup itu sendiri. Arsitektur adalah kata kerja sekaligus kata sifat, jangan dikerdilkan sebagai kata benda saja.
Hal yang sering saya lakukan adalah dengan teknik sinkronik diakronik. Mejabarkan secara runtutan waktu (time line), dan kemudian menukik ke dalam di beberapa titik melalui analisis tekstual. Namun belakangan ini saya merasa ada yang kurang jika hanya menggunakan teks semata. Salah satu Guru saya, Alm Galih Widjil Pangarsa pernah mengajarkan tentang buku garing (buku kering) dan buku teles (buku basah). Buku kering adalah pengetahuan yang diangkaHal yang sering saya lakukan adalah dengan teknik sinkronik diakronik. Mejabarkan secara runtutan waktu (time line), dan kemudian menukik ke dalam di beberapa titik melalui analisis tekstual. Namun belakangan ini saya merasa ada yang kurang jika hanya menggunakan teks semata. Salah satu Guru saya, Alm Galih Widjil Pangarsa pernah mengajarkan tentang buku garing (buku kering) dan buku teles (buku basah). Buku kering adalah pengetahuan yang diangkat dari teks yaitu paper, biografi atau ulasan-ulasan yang termuat dalam paper ilmiah atau segala macam yang tekstual. Sedangkan buku basah adalah hal-hal yang justru tidak tercatat dengan jelas. Dalam arsitektur sering muncul dalam teknik ‘merasakan ruang’, versi rasionalistik sistematik apa yang dijabarkan oleh Rassmunsen dalam buku ‘Experiencing Architecture’. Hemat saya, dalam survey tidak hanya melakukan pengukuran atau massed drawing saja, tapi justru ‘berdialog dengan bangunan. Caranya biarkan tubuh merasakan apa yang ada di ruang-ruang tercipta. Bengong dan biarkan tubuh mengidentifikasikan perasaan yang muncul.Mungkin itu yang bisa dilakukan. Baca literatur, lalu kunjungi karyanya. Bawa diri ke masa saat bangunan itu awal berdiri. Dan biarkan bangunan itu bercerita tentang dirinya.
The Seven SelvesBY KAHLIL GIBRAN
In the stillest hour of the night, as I lay half asleep, my seven
selves sat together and thus conversed in whisper:First Self: Here, in this madman, I have dwelt all these years,
with naught to do but renew his pain by day and recreate his sorrow
by night. I can bear my fate no longer, and now I rebel.Second Self: Yours is a better lot than mine, brother, for it is
given to me to beThe Seven SelvesBY KAHLIL GIBRAN
In the stillest hour of the night, as I lay half asleep, my seven
selves sat together and thus conversed in whisper:First Self: Here, in this madman, I have dwelt all these years,
with naught to do but renew his pain by day and recreate his sorrow
by night. I can bear my fate no longer, and now I rebel.Second Self: Yours is a better lot than mine, brother, for it is
given to me to be this madman’s joyous self. I laugh his laughter
and sing his happy hours, and with thrice winged feet I dance
his brighter thoughts. It is I that would rebel against my weary
existence.Third Self: And what of me, the love-ridden self, the flaming brand
of wild passion and fantastic desires? It is I the love-sick self
who would rebel against this madman.Fourth Self: I, amongst you all, am the most miserable, for naught
was given me but odious hatred and destructive loathing. It is
I, the tempest-like self, the one born in the black caves of Hell,
who would protest against serving this madman.Fifth Self: Nay, it is I, the thinking self, the fanciful self,
the self of hunger and thirst, the one doomed to wander without
rest in search of unknown things and things not yet created; it is
I, not you, who would rebel.Sixth Self: And I, the working self, the pitiful labourer, who,
with patient hands, and longing eyes, fashion the days into images
and give the formless elements new and eternal forms—it is I, the
solitary one, who would rebel against this restless madman.Seventh Self: How strange that you all would rebel against this
man, because each and every one of you has a preordained fate to
fulfill. Ah! could I but be like one of you, a self with a determined
lot! But I have none, I am the do-nothing self, the one who sits
in the dumb, empty nowhere and nowhen, while you are busy re-creating
life. Is it you or I, neighbours, who should rebel?When the seventh self thus spake the other six selves looked with
pity upon him but said nothing more; and as the night grew deeper
one after the other went to sleep enfolded with a new and happy
submission.But the seventh self remained watching and gazing at nothingness,
which is behind all things.Saya masih ingat dalam sebuah kuliah dari Prof Josef saat saya masih kuliah S2 tahun 2001. Beliau menyatakan bahwa untuk mengenal jati diri yaitu dengan 2 cara. Cara pertama adalah menggali dalam diri sendiri, dialogis personal, bertanya terus menerus dengan diri sendiri. Cara kedua adalah mencari kawan dialog, mengenal diri melalui orang lain.Karsten dan Pont melalukan pendekatan kedua, dengan melakukan dialektika dengan orang lain. Walau seca
Saya masih ingat dalam sebuah kuliah dari Prof Josef saat saya masih kuliah S2 tahun 2001. Beliau menyatakan bahwa untuk mengenal jati diri yaitu dengan 2 cara. Cara pertama adalah menggali dalam diri sendiri, dialogis personal, bertanya terus menerus dengan diri sendiri. Cara kedua adalah mencari kawan dialog, mengenal diri melalui orang lain.Karsten dan Pont melalukan pendekatan kedua, dengan melakukan dialektika dengan orang lain. Walau secara garis keturunan keduanya mempunyai darah Asia. Bahkan Pont lebih kental karena lahir di Nusantara tepatnya di kawasan Jatinegara (saat ini). Ibu Karsten lahir di Ngawi dan punya darah keturunan Tionghoa. Kedekatan Karsten dan Pont terhadap Nusantara secara ‘darah’ dan tempat kelahiran sepertinya menjadi dasar biologis yang membuat keduanya mampu berdialog dengan Nusantara terutama Jawa dengan amat dekat dan beberapa ahli mengatakan bahwa mereka bukan Orang Belanda sepenuhnya tapi sudah menjadi orang Jawa.
Pendidikan arsitektur di Delft, merupakan batu pijakan yang kuat untuk membangun cara berpikir logis dan sistematis. Dengan pondasi pengetahuan ini, Karsten dan Pont mampu membongkar lalu menyusun kembali pengetahuan arsitektur di Jawa tanpa harus menghilangkan ke-jawa-annya. Tentu ini ada proses, tidak sertamerta mampu menghasilkan karya seperti Sobokarrti atau Gereja Puh Sarang. Proses berarsitektur inilah yang perlu dijabarkan mendetail, sehingga tarik menarik logika rasionalisme dengan ‘Roso’ intutitif bisa teridentifikasi dengan detail.
-
AuthorPosts
