Wacana Kritisisme

Selain dilihat dari keterlibatan praktik, Arsitektur juga perlu dimengerti dari sudut pandang epistemologi: yakni meletakkan bangunan bukan hanya sebagai sebuah bentuk fisik, tapi juga pengubah lingkungan yang berfungsi secara sosial, kultural dan ekonomi. Penelisikkan interaksi tersebut salah satunya dapat diasah dalam pemikiran dan kontemplasi kritis.

Omah Library dengan bangga menyusun rangkaian kelas Kritisisme bersama dengan tiga narasumber yang memaparkan pengalaman mereka dalam mengasah pendekatan kritis terhadap arsitektur, dibagi menjadi tiga bagian:

Teori bersama Nanda Widyarta

Sejarah bersama Robin Hartanto

Kritik bersama Indah Widiastuti

Dalam mengasah kritisisme, dibutuhkan tiga buah dasar pengetahuan berupa teori, sejarah, dan kritik. Pada kisah Theseus yang menghadapi Minotaur, kita semua tampaknya seakan terwakilkan oleh Theseus yang sedang mencari jalan di balik derasnya lautan informasi yang begitu luas pada masa seperti sekarang ini. Berbekal senjata dari Ariadne yang sangat mencintainya, ibarat seorang guru bijaksana yang sepenuhnya percaya, yang percaya bahwa kita dapat menempuh tantangan yang ada.

Pengetahuan teori membuat kita lebih yakin dalam menempuh labirin informasi tersebut sampai ke titik tengahnya untuk mengalahkan sang Minotaur. Gumpalan benang yang diikatkan Theseus meninggalkan jejak perjalanannya, seperti hal nya pengetahuan sejarah yang menjadi tuntutan perubahan atau inovasi dalam arsitektur. Hingga pada akhirnya berhadapan dengan Minotaur, pertarungan sengit diakhiri dengan menusukkan sebuah pedang ke dada sang monster, seperti halnya sebuah wacana kritik yang menjadi sarana untuk menilai dan memahami secara lebih tajam dan mendalam.

Kritisisme bukanlah sebuah tindakan adu kebenaran, karena pada akhirnya, Minotaur yang dikalahkan merupakan representasi dari diri kita sendiri. Meyakini bahwa self-criticism dibutuhkan untuk menyadari bahwa sebuah perubahan akan terjadi seiring dengan transformasi diri.


Kritik Arsitektur

Kritik pada dasarnya adalah sebuah perbincangan. Di mana ada perbincangan, di situ akan ada kritik. Karya arsitektur pun hadir karena ia diperbincangkan, ditransmisikan dari satu subyek ke subyek lain, bagaimana kata-kata bertuah. Kata-kata bisa jadi mantra, bisa jadi kutukan, bisa juga jadi berita, dan yang paling bijak seharusnya kata-kata itu adil. Jadi kritik yang baikContinue reading “Kritik Arsitektur”

Sejarah dan Kritisisme

Sejarah adalah sesuatu yang rumit, maka ia bersifat terbuka. Tiap orang bisa memahami dengan pemahaman yang berbeda-beda, dengan pembuktian melalui teks, dokumentasi, dan sebagainya. Kalimat di atas, “the past is a foreign country,” mengumpamakan masa lalu sebagai negara yang asing, di mana untuk mencoba memahaminya, kita perlu mempelajari bahasanya, orang-orangnya, dan dengan upaya itupun, kitaContinue reading “Sejarah dan Kritisisme”

Teori Dalam Kritisme

Teori dalam bahasa Yunani adalah melihat. Sehingga fungsi teori dapat dikatakan sebagai perangkat untuk menjelaskan sesuatu.Meski demikian, perangkat ini bergantung pada sudut pandang, “alat” untuk memandang. Lantas kondisi saat memandang (baik kondisi si pemandang maupun kondisi di sekeliling si pemandang) sangat mempengaruhi bagaimana si pemandang melihat sesuatu. Sebagai contoh, Nanda memperumpamakan dalam tangkapan layar untukContinue reading “Teori Dalam Kritisme”